tidak ada tanggapan, semua murid diam. mungkin karena ini hari pertama, jadi masih mencoba meraba untuk beradaptasi.
"kira-kira... dari kalian ada yang sudah tahu nama ibu?" ibu wali kelas
mencoba membuat jalan untuk anak muridnya bisa mengeluarkan suara.
"ibu.. Kirei!" dengan lantangnya seorang murid laki-laki berbicara,
membuat guru bahasa inggris itu melengkungkan senyum, karena sepertinya
pancingannya berhasil membuat murid-murid siap berbicara.
"salah, weii!" sambar murid laki-laki lainnya "ibu itu... namanya, ibu... Melody! Iya kan?!” lanjutnya begitu percaya diri.
"huuuh, sok tahu lu!" ikut lainnya, hanya murid laki-laki yang rame
bicara, sementara murid perempuannya belum ada yang terlihat ingin
bicara, mereka hanya ikut menyoraki saja.
"ya tahu lah, lu kemarin pas Ospek gak pada baca buku panduan sekolah
ini apa ya? disono jelas banget ada profil, guru-guru sama staff sekolah
ini!" jawabnya
"iya, dan gue juga tahu.. yang lu lihat pasti staff sama pengajar yang cantik-cantik gitu kayak Bu Melody, iya kan?"
"ya iyalah.. gue kan masih normal! gile aja lu gue baca-baca profil staff sama pengajar yang bapak-bapak!!"
Semua murid bersorak ria menanggapi murid tersebut. sementara Ochi,
hanya tersenyum sambil menggeleng melihat tingkah teman-teman
sekelasnya. Shania tak berkomentar, tak bereaksi, dia tidak terlalu
focus pada apa yang sedang bergemuruh di kelasnya. Ochi melihat Shania,
dia terhenti sejenak dan terus melihat Shania sambil memikirkan
sesuatu.
"Sudah-sudah, kenapa ramenya jadi seperti dipasar!” kata Melody, menghentikan adu argument murid-muridnya.
Seketika mereka diam, menuruti apa yang dikatakan gurunya.
"iya! Nama ibu Melody, dan mulai hari ini.. ibu menjadi guru bahasa
inggris.. sekaligus, ibu juga di berikan tanggung jawab oleh pihak
sekolah untuk menjadi wali kelas kalian!" lanjutnya begitu mantap. Semua
murid terlihat senang dan antusias dengan apa yang di ucapkan Melody.
"2jam ini, ibu tidak akan memulai pelajaran dulu. Karena Ibu mau tahu
dan kenal terlebih dahulu sama murid-murid ibu yang penuh semangat ini!
Bagaimana? Ada yang berani maju untuk memulai? Atau, ibu panggil sesuai
absensi!?"
Dengan cepat seluruh siswa di kelas mengangkat tangannya, kecuali ochi dan Shania.
"hmm, ibu mau... kamu yang maju lebih dulu!" ucap Melody dengan telunjuk
tangannya dia arahkan pada Shania yang duduk bersebelahan dengan ochi.
Teman-teman lainnya langsung mengarahkan pandangan mereka pada Shania.
Shania melangkahkan kakinya kedepan, dengan raut muka yang tidak ada
semangat sama sekali. Ibu Melody memperhatikan muridnya itu. Dia
menghela nafas sebelum memulai perkenalannya
"hai semua… nama aku Shania junianantha, aku dari SMP N 4 Shakusi
Jogjakarta. . . . mmm, kalian bisa panggil aku Shania, Terima kasih!”
Ucap Shania, dengan diakhiri membungkukan badannya.
"ada hal lain yang mau kamu katakan Shania?" Tanya Melody, Shania melihat kearah wali kelasnya itu, lalu menggeleng.
"ada yang mau ditanyakan? Pada Shania!" Melody beralih pada murid lainnya.
Seperti tingkah murid laki-laki kebanyakan, mereka saling berebut
mengacungkan tangan nya untuk bisa bertanya pada murid perempuan, untuk
sekedar mencari perhatian.
Perkenalan terus berlanjut hingga 2jam tidak terasa. Setelah perkenalan,
berlanjut ke obrolan lain, dan. . . pemilihan murid-murid yang akan
bertanggung jawab atas kelas X-4 selama satu tahun kedepan.
***
"Gimana Jakarta? Enak gak tinggal disana?!"
Subhan membuka obrolan kala ia hanya berdua dengan Shania.
Mereka ber empat sedang bermain di pesisir pantai kala Shania main ke
Jogja, dia mengajak Subhan, Aji dan juga Beby untuk bermain ke pantai
menggunakan mobilnya.
"Emmm-- enakan disinilah! Ada Beby, tante Ana, ada kalian juga " jawabnya dengan diakhiri memandang Subhan
"Emang disana kenapa?"
"Disana... aku selalu merasa sendiri Chub, di sekolah juga, aku gak bisa
punya banyak teman. Seolah mereka sedang menghakimi aku yang hanya
seorang gadis dari sudut Jogja, yang tidak setingkatan dengan mereka!"
Kesahnya dalam jawaban "mereka dekat kalau aku punya segalanya, tapi...
kalau aku tidak punya apapun mereka pasti akan menyingkirkan aku.
Haaahh-- Jakarta terlalu menuntut harta, bahkan untuk seorang teman
:'-)"
Subhan melihat Shania "kamu pasti bisa melewati semuanya, kamu harus
tunjukan sama mereka, yang menganggap pertemanan itu hanya sebuah simbol
yang digambar oleh harta. Waktu disini, kamu bisa dikenal oleh hampir
seluruh penghuni Shakusi, masa di Jakarta enggak! "
giliran Shania yang melihat Subhan, dan posisinya jadi tatap-tatapan,
"dan kamu tahu gak? Kenapa mereka waktu di SMP begitu senang mengenal
kamu?",
Shania mengerung kecil, lalu menggeleng pelan.
"Itu karena kamu punya ini (Subhan mempraktekan senyum 2jari, dengan mata dia sipitkan, khas senyum Shania)"
"Eh? Apaan tuh? Hahahaa bisa aja!" Tawa renyah Shania.
"Aku serius tahu, itu yang bikin mereka senang kenal sama kamu. Senyum
kamu Shan, senyum kamu yang merangkul mereka untuk bisa membuka diri,
senyum hangat kamu yang membuat mereka berpikir, kalau kamu itu gadis
yang menyenangkan dan tidak memilih-milih untuk dekat dengan siapapun!",
Shania mengeluarkan senyum manisnya setelah tawa renyah "apapun yang
terjadi, jangan hapus, apalagi dihilangin senyum manisnya ya, karena
senyum kamu juga yang bikin aku...-"
"Bikin. . . Aku. . . Aapa?" Tanya Shania penasaran
"Bikin aku su,-"
"Woyyy! waduhh, malah pacaran lagi.. gue ama Beby gue jauh-jauh nyari
air kelapa, lu berdua malah asik bisik-bisikan, mana tatap-tatapan lagi,
udah kayak di sinetron striping lu berdua!!"
Shania kaget akan kedatangan Aji dan Beby; Subhan menjatuhkan kepalanya
lemas, karena lagi-lagi dia gagal menyatakan cintanya pada Shania; Beby
tersenyum dan mulai bersuara
"Yaaa.. maaf ya udah ganggu kayaknya barusan ada moment penting deh!"
"Moment? Moment apaan Beb?" Tanya Aji
"Euhh! Gak pernah berubah, nggak bisa peka banget sih!!" Ejek Beby "kedatangan kita ituuu.. mengganggu mereka tahu!!"
Aji melihat Subhan dan Shania "ouwhhh, maksud lu, mereka yang lagi pacaran?!"
Beby tersenyum dan mengangguk kecil "yaudah deh, nih ambil kelapanya!
Gue mau main di pantai sama Beby gue.. yuk Beb!" Lanjut Aji lalu menarik
paksa Beby.
"Eeehh. . . Aku ikut!" Shania malah ikutan berdiri mengejar Aji dan Beby.
Angin sepoi menemani keriangan mereka ber4, bermain air laut yang begitu
biru, tawa bahagia, ejekan canda yang menyenangkan, membuat ke4 nya
terlihat sangat akrab.
Akankah seterusnya aku bisa tertawa bareng bersama mereka semua? Aku
merasa hidup saat dengan Beby dan juga mereka, Tuhan semoga kegembiraan
ini akan bisa terus aku rasakan, setidaknya bersama sahabatku aku masih
bisa merasakan kebahagian, karena Mama sama Papa terasa terus menjauh
dalam kehidupanku. Terima kasih untuk hari ini Tuhan!
Sepulangnya dari pantai, Shania mampir dulu kerumah Beby, disana dia
menceritakan perbincangan dirinya dengan Subhan, Beby dari diam serius
mendengarkan... berubah senyam-senyum manis hingga di ending dia
meluncurkan godaan untuk Shania.
Tidak lama, Shania diam dirumah Beby karena waktu semakin sore, dan dia
harus kembali ke Jakarta. Sebuah pelukan hangat mengantarkannya pulang
ke Jakarta. Rotasi itu mungkin akan terus seperti saat ini untuk Shania
dan juga Beby hingga... entah hingga kapan.
"Pokoknya! Kalau libur semester nanti, kamu yang harus main ke Jakarta! Kalau perlu, aku culik aja kamu dari Mama Ana!! "
"Kayak yang berani aja, nyulik-nyulik aku!"
"Emm, ngeremehin Shanju!? Gak tahu siapa Shanju?"
"Enggak! Emang kamu siapa? Penting apa aku harus tahu siapa kamu " balas Beby dengan canda ejekannya.
"ck_- iya deh.. tahu dehhhh... siapa Beby Chaesara Anadila yang
sekarang! Hmm-- susah deh, sekarang mau ngerjain kamu, udah gak pemalu
sih!!"
"Iya! Dan itu karena kamu!! Aku berubah jadi gak pemalu, tapi..,-"
"Malu-maluin! Hahahaa" sabet Shania pada apa yang akan diucapkan Beby,
Beby memanyunkan bibirnya sedikit lalu ikut tertawa bersama Shania.
Mobil berplat B itu mulai meninggalkan aspal komplek, Shania pulang
dengan raut wajah yang begitu bahagia. setelah plat nomor mobil yang
membawanya ke pantai tadi hilang dari penglihatan Beby, ia pun mulai
menggerakan kakinya untuk kembali masuk kedalam rumah, namun... saat dia
didekat gerbang yang tingginya hanya sepinggang, Beby merasakan pusing
sampai-sampai dia tidak bisa menahan berat tubuhnya sendiri, dan
akhirnya dia menggapaikan tangannya kepagar besi untuk mempertahankan
agar dirinya tidak sampai jatuh keatas tanah
"Hsss-- aaaauwww..." rintihnya sambil memejamkan mata "kenapa tiba-tiba
pusing gini! Aduuuhhh, heeeeuu ssakit lagi!!" Kini tangan kirinya dia
angkat dari pagar besi untuk meremas kepalanya yang terasa sakit.
Entah berapa menit Beby dalam posisinya kini, dia mulai membuka matanya
dan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menyeimbangkan penglihatannya,
dengan tangan kiri masih meremas kepalanya, Beby berpikir kalau dia
harus bisa masuk ke rumah untuk mengistirahatkan tubuhnya. Mulai
berjalan meski sedikit sempoyongan, akhirnya Beby bisa masuk juga ke
rumah, dia langsung membantingkan tubuhnya keatas sofa di ruang
keluarga, memijat-mijat kepalanya. Dengan perlahan, rasa sakit yang tadi
menyerangnya tiba-tiba, hilang dengan sendirinya. Sampai, tanpa Beby
sadari dia ketiduran di sofa, hingga Mamanya pulang dari rumah sakit.
Mama menatap sebentar putri satu-satunya itu, ia mengusap lembut pipi
Beby dengan senyum dan ucapan yang hanya dia lantunkan di hati.
"Kamu begitu mirip dengan almarhum Papa kamu sayang! Mama sayang banget
sama kamu!!" . . . "Mama tidak mau kehilangan kamu, seperti Mama
kehilangan Papa dulu, Mama akan selalu menjaga kamu! :')"
Beby yang merasakan sentuhan dibagian wajahnya perlahan terbangun
"Ma..Mama...!" Mama membalasnya dengan senyum "Mama kapan pulang? "
"Baru saja, pasti mainnya rame banget ya? Sampai wajah kamu terlihat lelah begitu!" Beby mengangguk dengan diikuti senyum
"udah makan belum?"
"tadi sih.. beli bakso sama Shania Mah, oh ya... Shania titip salam, katanya maaf karena pulangnya gak pamit sama Mama!"
"Berarti belum makan dong! Mama tahu, tadi Shania mengirimi mama pesan
singkat! cuci muka dulu sana, Mama bawain makanan kesukaan kamu, kita
makan malam sama-sama!"
"Wihh.. enak nih, tapi... apa nantinya Beby gak akan gemuk? Kan kalau makan malam-malam gini suka cepet gemuk Mah!"
"Memangnya kenapa kalau gemuk? yang penting itu.. bukan Gemuk atau kurus, tapi sehat! Kalau kurus tapi sakit-sakitan? Mau!?"
"Iya deh bu Suster.. paling bisa nih Mama suster "
Beby berdiri dari sofa, dia sudah tidak merasakan lagi sakit di
kepalanya, sebelum berjalan untuk mencuci muka, Beby menyempatkan
mendaratkan ciuman di pipi Mamanya, hingga Mama mengeluarkan protes
"Beby sayang Mama... *mmuachh "
"SaYang.. ihh itu jorok tahu? Iler kamu nempel nih di wajah Mama!"
"Biarin, yang penting Beby sayang sama Mama, hehee"
---
Hampir setiap hari, di jam yang berbeda, setelah kejadian waktu 2minggu
lalu di depan rumahnya sendiri, Beby selalu merasakan pusing itu, rasa
pusing yang sama persis seperti waktu itu yang datang tiba-tiba merasuki
kepalanya, meski hanya dalam hitungan menit yang tidak terlalu lama,
tapi itu cukup membuat Beby kerepotan, apalagi jika rasa sakit nya
datang saat dia sedang berada di kelas mengikuti pelajaran, seperti
sekarang.
"Beb.. psst... psst-psst" Aji mencoba memanggil Beby yang sedang meremas
kepalanya "Bebyy.. lu kenapa?" Beby belum bisa menjawab, karena dia
tidak mendengar ada suara seseorang sedang memanggil dan membuat
pertanyaan padanya.
Aji menatap lekat Beby, ia tidak memperhatikan guru yang sedang
memberikannya ilmu, sampai dia kena tegur guru itu dan diancam akan
disuruh keluar kelas kalau masih seenaknya selama ada dikelasnya. Beby
yang sedang memegang kepalanya pun seketika menghempaskan tangannya
kebawah agar guru yang sedang memperingati Aji tidak melihat kearahnya.
wajahnya terlihat menahan rasa sakit, dia menggeleng-gelengkan kepalanya
untuk mengusir sesuatu yang sedang memukul-mukul kepalanya.
*jam istirahat datang*
"Lu kenapa Beb?" Tanya Aji yang saat mendengar bell istirahat langsung melesat ke tempat duduk Beby
"Kenapa? Apanya?
"Lu sakit ya? Muka lu pucet tahu!"
Beby memegang kedua pipinya "masa sih? Enggak ah! Aku gak lagi sakit!!" Sanggahnya,
Aji membuat kerungan kecil, saat dia akan kembali bertanya, suaranya
keburu kepotong oleh Subhan yang datang dari arah luar. Subhan tidak
satu kelas dengan Beby dan Aji, itu kenapa dia datang ke kelas mereka
untuk mengajaknya makan di kantin.
"Woy! Ngapain lu berduaan dikelas?! Bikin orang sirik aja!!" Ucapnya
dengan mengejek "ke kantin yuk ahh, gue yang traktir deh! Panas gue liat
lu berduaan kayak gini, entar gue dikira setan lagi!" Subhan
merangkulkan tangan kanannya pada Aji, dan melihatkan pandangannya pada
Beby yang sedang tersenyum, dan sudah sedari tadi melihat dirinya.
Perlahan dia melepaskan rangkulannya pada Aji dan mulai menilik Beby
dengan begitu telik
"lu... saakit Beby?" Pertanyaan Subhan sama persis dengan pertanyaan Aji
sebelumnya, dia mendekatkan wajahnya pada Beby dan tanpa ada komando,
Subhan menempelkan punggung tangannya di kening Beby "gak panas sih,
tapi muka lu pucet banget!" Ucapnya, dapat hempasan dari Beby pada
tangannya yang sedang parkir di kening Beby.
"Ini.. gak si Aji, gak kamu.. kenapa sih? Pada tanya-tanya gue sakit apa
enggak! Gue itu baik-baik aja, gak panas, gak dingin. Biiiasa aja!
Puas?"
"Lihatkan, emang bukan gue aja yang bisa liat wajah pucat lu itu! Kalo
lu sakit, lu pulang aja, biar gue anterin!" Subhan hanya diam
mendengarkan dengan wajahnya masih mempelajari wajah pucat Beby.
"Apa sih Ji, lebay tahu gak! Udah ahh yuk ke kantin, pada lapar kan!?"
Ucap Beby dengan mengangkat tubuhnya dari tempat duduk tapi, belum
sepenuhnya berdiri. . . Dia merasakan kepalanya sakit kembali, dan kali
ini... bikin Aji dan Subhan memasang tampang cemas bukan main, karena
Beby tidak bisa lagi mempertahankan kesadarannya, untuk menahan rasa
sakit.
*bruuukkk* dengan sengaja, dan entengnya seorang murid perempuan dari
kelas lain menabrakan lengan atasnya pada Shania yang sedang berjalan.
Shania mengambil novelnya yang jatuh, dia tidak ingin menghiraukan si
penabrak. Ia berdiri dan memulai berjalan untuk melewati murid-murid
itu.
"heh! Lu gak minta maaf apa!? Barusan lu nubruk gue, Freak!" Cemoohnya pada Shania,
"Eh, malah diem lagi.. lu gak denger apa yang barusan di katakan temen
gue? Udah salah, malah sok bener lagi! Dasar cewek kampung dari Jogja!!"
Shania membalas tatapan murid-murid itu ketika menyebutkan Jogja
"Apa lu liat-liat kita kayak gitu? Gak suka lu? Hah!" . . . "Ambil
novelnya!" Kemudian dia memerintahkan teman-teman lainnya untuk merebut
novel yang ada di tangan Shania
"Nggak, Jangan! Aaku minta maaf.. barusan aku yang salah, maaf karena
sudah menabrak kalian.." ucap Shania, dengan tangannya menyembunyikan
novel di belakang punggungnya.
karena masih melihat tatapan pemburu dari si murid-murid itu, Shania
kembali meminta maaf dan kali ini diikuti bungkukan badannya, begitu
terlihat sangat sopan dan terkesan memang dialah yang salah.
Murid-murid yang sedang melancarkan aksi bully nya itu tersenyum sinis
bak seorang perampok yang sudah bisa menggasah rumah mewah dengan
imbalan yang besar.
"Girls.. enaknya, si anak kampung orang kayak baru ini, kita apaain ya?" Teman-teman lainnya saling sahut, menanggapi.
Belum aksi bully lainnya mereka lakukan, Melody terlihat berjalan
diujung lorong tempat Shania sedang dikelilingi Bullyer paling berkuasa
di sekolahnya.
"Waduh, Sin.. Sinka!"
"Apa sih Van?"
"Itu.. ada guru lagi jalan kesini!" Tunjuk Vanka dengan dagunya kearah Melody yang sedang berjalan.
Sinka memiringkan wajahnya untuk melihat ke ujung lorong, dan benar
saja, seorang guru berperawakan kecil itu sedang berjalan kearah mereka
"ck.. ganggu acara tuh guru! Cabut, gue lagi males debat sama guru
kesiswaan!" Ajaknya kemudian, dengan sebelumnya dia mendekatkan wajahnya
dan berbisik pada Shania
"kalau nanti... lu berdoa yang lain buat minta bantuan sama Tuhan!
Jangan berdoa minta datengin guru!!. . . Kita, pasti akan ketemu lagi,
dan nanti... akan jauh lebih menyenangkan" Sinka mengedipkan mata
kirinya pada Shania yang diam mematung, merekapun pergi meninggalkan
Shania.
Satu-dua bulan saat menjalani masa SMA di Sekolahnya kini, Shania biasa
saja menjalani kesehariannya sebagai murid disana. datang tepat waktu,
pulang langsung ke rumah tidak keluyuran seperti murid-murid lainnya,
selama mengikuti pelajaran dikelas dia tidak pernah membuat masalah,
dimata para pengajarpun Shania itu anak yang baik, dan untuk wali
kelasnya, Melody. Shania itu anak yang penurut, tidak banyak tingkah,
baik di kelas dengan teman-temannya, ataupun dengan murid-murid lainnya
di sekolah. Meski, dia lebih banyak menghabiskan waktu selama di
lingkungan sekolah itu sendirian, nyaris tidak ada satupun seseorang
disampingya ketika dia berjalan ke kantin atau saat akan masuk dan
pulang sekolah. Shania tetaplah baik.
Shania... bukan tidak tertarik untuk mengulurkan tangannya pada
teman-teman di sekolah atau bahkan di kelasnya sendiri, tapi, mereka
yang Shania ajak bertemanlah yang tidak mau membalas uluran tangan
Shania secara tulus (Di Jakarta, semua terasa begitu sulit, jangankan
untuk mencari rezeki, mencari teman saja saja susahnya minta ampun.
Mungkin. . . Pemikiran mereka terlalu dikuasai materi tanpa memikirkan
imaterinya). Setelah itu, Shania tidak pernah lagi dengan sengajanya
mengulurkan tangan diikuti senyum manis penuh kehangatan untuk merangkul
seorang teman. Dan ditambah kini, semakin hari setip perpindahan
tanggal, yang entah dimulai di angka berapa, Shania mulai diincar oleh
bullyer di sekolah elite nya itu, tanpa dia inginkan dia selalu
dijadikan sasaran si 'sadis' yang membuatnya terlihat jadi si 'lemah',
Shania pernah coba melawan, tapi dengan hitungan orang yang berdiri
dikiri, kanan, depan bahkan belakang mereka, Shania mustahil untuk bisa
melawan, dan akhirnya... setelah dia pelajari bagaimana pergerakan si
bullyer (semakin dilawan, semakin menjadi ingin menjatuhkan dirinya)
Shania pun tidak ingin melawan dan selalu dengan sengaja menghindar dan
mengalah.
"Shania, kamu kenapa?" Tanya Melody, saat dia sampai ditempat Shania
berdiri, pandangan Melody sekilas dilihatkan pada Sinka dan
teman-temannya.
"emm, enggak Bu, aku gak apa-apa!" Balasnya dengan mengukirkan senyum,
"Oh, ya sudah! Kalau kamu ada masalah, cerita sama Ibu, siapa tahu Ibu bisa bantu kamu " tawarnya penuh kehangatan, Shania membalas senyum Melody "iiya Bu, makasih "
... "Shania pamit dulu Bu, mau ke Kantin!" sambungnya dengan berpamitan
pada Melody. Melody membalasnya dengan anggukan yang masih diikuti
lengkungan senyum.
"Kasihan Shania, dia yang selalu terlihat sendiri di kelas, dan bahkan
saat jam istirahat seperti ini! Apa yang sebenarnya membuat kamu
terlihat sulit untuk berbaur dengan yang lainnya?" Ucap dalam hati
Melody dengan matanya melihat punggung si anak didiknya "dan... kenapa
dengan wajah kamu? Kenapa akhir-akhir ini, begitu tersirat rasa tidak
bahagia? Apa kamu sedang ada masalah dirumahnya?"
Melody memang sangat memperhatikan murid-muridnya, apalagi dia diberikan
tanggung jawab oleh pihak sekolah menjadi wali kelas. Menjadi wali
kelas, kelas Satu itu... bukanlah hal yang mudah, ada tantangan
tersendiri untuknya berada di posisi ini, mereka yang kedepannya harus
menentukan akan mengambil jurusan apa setelah kenaikan kelas, mereka
yang harus dituntun untuk menemukan bakat dan kemampuan baik dibidang
akademis maupun non akademis, banyak lagi hal yang harus di pelajari
dari mereka yang baru memakai seragam Putih-Abu, dan peranan Wali Kelas
sangatlah penting dalam rentetan perjalanan awal mereka hingga akhirnya
mereka ada dilangkah yang berikutnya.
***
Rumah yang seharusnya, menjadi tempat paling nyaman untuk berteduh,
menyandarkan diri dari kerasnya dunia, dalam kehidupan seseorang. bisa
bercerita lepas tentang keluh, kesah, suka dan duka, berbagi setiap
cerita yang dialami baik dengan orang tua, adik, atau kakak. Bagaimana?
jika Tiba-tiba keadaan nyaman itu berubah. secara perlahan tapi pasti,
rumah justru menjadi tempat yang paling tidak ingin dipijak dan akhirnya
yang tersisa hanya keheningan dari gemuruh yang sebelumnya begitu
menderu.
Satu tahun sudah, Shania dan keluarganya tinggal di Jakarta. Menempati
rumah megah dengan fasilitas serba Wah. Awalnya, Shania selalu
mensugesti dirinya sendiri dengan apa yang dikatakan Kakaknya, Papa dan
Mamanya kalau keadaan keluarganya akan baik, bahkan lebih dari baik
dengan saat tinggal di jogja.
Awal episode kepindahan yang dipercepat itu memang cukup menyenangkan
dirasa oleh Shania, karena masih tetap bisa main ke Jogja, bertemu Papa
dan Mama di meja makan saat sarapan dan atau makan malam, bersenda-gurau
dengan Kakak perempuannya. Tapi semakin kesini, setiap hari saat
episode itu terus bertambah, keadaan dirumah dalam kota baru berhiaskan
kegemerlapan itu berubah... bukan lebih atau lebih dari baik, namun
menurun dan sangat menurun. Bukan dalam hal financial tentu, tetapi
dalam hal kehangatan keluarga. Belum lagi Beby, sang sahabat karib yang
selalu bisa mengerti dirinya, akhir-akhir ini begitu susah untuk
dihubungi. Shania pikir, mungkin Beby sedang sibuk dengan sekolahnya dan
juga kegiatan dia yang lain. Dan ditambah dengan masalah yang sedang
dia hadapi kini disekolah.
Yang akhirnya. . . Membuat sugesti dari bisikan Ve, Ucapan lembut Mama,
Janji Papa, yang di tanamkan di dalam otaknya pun perlahan luntur, dan
hanya menyisakan rintihan kerinduan dari hatinya. Rindu akan adanya
sosok Papa yang bisa memberikan nasihat, rindu pelukan Mama yang
menenangkan, rindu candaan Kakak yang mengundang tawa hangat dalam
cengkrama. Dan rintihan rasa sakit dari apa yang sedang dia hadapi tanpa
adanya satu orangpun di sebelahnya.
Shania mencoba menghubungi Beby untuk membagi ceritanya yang selama satu
semester terakhir ini dia alami di sekolah, dan kisah yang sepertinya
akan mendapat ke suraman di depan nanti tentang keadaan keluarganya yang
dirasa sudah tidak "sehat".
*tuuuut... tuuuut... tuuuut...*
Panggilan itu tersambung, namun belum ada respon.
*tuuuut... tuuuut..,- nomor yang anda tuju..,*
Shania menekan tombol putus, lalu kembali menekan tombol pemanggil,
beberapa kali dia melakukan itu tapi tidak ada sama sekali jawaban dari
Beby, yang biasanya tidak pernah lama jika ada telpon darinya.
"Apa sih yang sedang terjadi sama kamu?" . . .
"Apa kamu marah sama aku?!" . . .
"Aku butuh kamu Beby! Aku butuh bahu kamu!!" . . .
Shania membanting tubuhnya keatas tempat tidur empuknya dengan emosi dari kekecewaan yang sedang dia rasa.
"Kenapa... dia semakin hari semakin sulit untuk dihubungi? apa disana
dia sesibuk itu? apa dia sudah lupa akan sosok ku?" ... "atau apa
dia...? Terakhir, waktu kita ketemu lagi di Jogja. Kamu sama dia
terlihat begitu akrab, dan terasa lebih dari biasanya!" Shania memainkan
ruang bayangannya, mengingat 1bulan yang lalu, di pertemuan terakhirnya
bersama Beby, Aji dan Subhan.
Saat itu Shania melihat Subhan memperlakukan Beby yang tidak seperti
biasanya, dia sepertinya begitu memperhatikan Beby lebih dari biasanya,
"Waktu itu... hari itu... sepertinya memang ada yang lain diantara
kalian?!" Terkanya dalam bayangan kehampaan, "dan setelah pertemuan
itu... kamu mulai sulit untuk aku hubungi, kamu terkesan selalu
menghindar dalam setiap percakapan seluler kita! Apa sekarang... apa
yang dulu pernah membuatku marah pada kesalahpahaman kamu sama dia, itu
berubah nyata!?"
Kepedihan yang Shania rasa membuatnya tidak bisa berpikir lebih dari itu
"Subhan memang belum pernah mengatakan apa yang dia rasa sama aku,
tapi... tingkahnya, ucapannya, apa itu cuma kegeeranku saja? Apa selama
ini hanya aku yang merasa suka pada dia?" . . . "Apa jangan-jangan...
memang Beby lah yang Subhan sukai? Aku emang bego! Gak bisa lihat
kebenaran yang begitu nyata di hadapanku!!". . . "Dan Beby sendiri..
sahabat aku sendiri, apa yang sebenarnya dia rasa? Selama ini dia selalu
terlihat biasa saja menanggapi ceritaku tentang Subhan, dan malah
terkesan mendukung aku dengannya, tapi... Ahhghh!" . . . "Kenapa jadi
gak karuan gini sih!?" Shania menghentikan terkaannya dalam ucapan kesal
yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
"Minggu ini... aku harus ke Jogja! Aku mau tahu dan memastikan sendiri
kalau kecurigaan ku hanya bentuk rasa takut saja!!" Keinginannya yang
besar membuatnya menarik keputusan itu, tanpa harus memberi tahu Beby
kalau dirinya akan menemui dia tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.
Shania menuruni mobilnya, pagi ini langit sudah terlihat bersih tanpa
ada gumpalan awan yang menyelimuti hamparan langit biru, yang berkilau
karena sinar mentari yang benderang memberikan kehangatan. Tidak seperti
sambutan matahari yang hangat, di depan gerbang, Shania sudah disambut
oleh 4 murid yang selalu mengisi hari-hari sekolahnya dengan hal yang
membuat Shania, menuliskan kisahnya dengan ke4 murid itu dalam Diary
dengan tinta merah, menceritakan kelakuan 4 murid ini.
"Haiii Shania selamat pagi!" Sambut Sinka dengan senyum 'tulus' penuh makna.
Shania melepaskan earphonenya "Hhaii, pagii juga!" Balas Shania
"Pagi ini cerah ya? Emhh.. gimana kalau kita ngobrol-ngobrol pagi
sebelum masuk ke kelas? Kamu mau kan Shania?" Sinka terlihat manis
merangkaikan katanya untuk Shania.
Shania mencoba mencari alasan untuk menolak "euhmm, aku gak bisa.. ada
yang harus ditanyain sama temen di kelas soal tugas yang harus
dikumpulin nanti!"
Sinka terlihat perlahan melepas topeng manisnya "Ayolah Shania, barusan aku udah lembut banget loh :) ngajak
kamu, masa kamu tega sih nolak ajakan aku!?" Shania tidak merespon,
Sinka mendekatkan tubuhnya kedekat Shania "kamu tahu.. barusan, ajakan
aku itu... ajakan yang begitu lembut untuk orang asing!". . . "Dan kamu
harus tahu juga, aku paling gak suka ditolak! So.. let's come with me"
lanjutnya dengan nada dibumbui tekanan ancaman, Shania tidak bisa
melakukan apapaun selain mengikuti Sinka dan yang lainnya.