Selasa, 05 Januari 2016

Bismillah..

hmm pernah ga sih berfikir kalo kalian udah ga nyaman hidup di dunia ini? rasanya mau cepet mati aja gitu, gatau lagi harus ngapain buat ngebenerin hidup kalian, atau takut masa depan ga sesuai rencana dan ekspetasi kita? gimana rasanya? takut?gelisah?pusing?


entahlah kenapa saya selalu ngerasa ga nyaman aja sama hidup ini. selalu takut buat ngadepin hidup buat kedepannya. padahal disatu sisi, saya ngerasa ga perlu mikir kayak gini. seharusnya ngejalanin hidup ini tanpa mikir tentang kegelisahan. tapi ya semakin berusaha untuk mengabaikan itu semua ketakutan saya malah semakin besar, semakin dekat, dan menghimpit hingga sesak dan terjebak


Bingung harus ngapain. padahal waktu terus berjalan, umur semakin tua. bakal semakin banyak masalah masalah yang datang dan tentunya pasti lebih berat nantinya. saya masih butuh waktu buat nyari jati diri saya. masih perlu tau siapa saya sebenernya dan mau dibawa kemana hidup ini. tapi saya ga mungkin stuck disini sini aja dan menunggu keajaiban seolah datang. gabisa terus terusan jadi anak kecil yang bisa tertawa bebas tanpa beban sedikitpun, bisa teriak-teriakan ditengah lautan kosong tanpa memperdulikan siapapun. yakk dan saya harus mengalahkan kehidupan. harus sadar saya sekarang ada dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa. haha jadi kayak lagu kangen band.


tapi semua kembali kedalam diri kita sendiri, just be yourself, your best self. semua akan berjalan sebagaimana mestinya. semua akan berjalan baik baik saja. InsyaAllah jika kita tetap berdoa,berusaha, dan bertawakkal semua akan terwujud sesuai ekspetasi kita. Aminn

Kamis, 16 Januari 2014

"PELANGI DALAM SAKURA" CHAPTER 9


Pelangi Dalam Sakura





"Mau diapain nih, mereka?" Tanya seorang senior yang punya kuasa paling lebih.
Shania menghampiri Sinka dan teman-temannya yang sedang dipegangi senior guard yang sudah berpaling "Masih ingat? hal terakhir yang kalian lakuin sama aku.. eh salah! Sama GUE!?" Logat bicaranya berubah. Sinka membalas tatapan Shania yang begitu tajam dan dingin padanya, "Mungkin... gue harus berterima kasih sama lu semua! Lu tahu kenapa?"; Ochi hanya diam memperhatikan,... "kalau bukan karena lu semua yang selalu nyakitin gue! Gue gak bakal jadi kaya gini! Rasa sakit dan malu yang sering kalian kasih sama gue dalam waktu bersamaan, akhirnya bikin gue sadar, Kalau cuma diam dan menggerutu atas apa yang gue terima... tidak akan pernah menghasilkan apapun, kecuali rasa sakit yang semakin menjadi. Dan gue juga jadi tahu, kesakitan itu... bisa ngasih gue kekuatan, buat ngelakuin hal yang gue pikir gak akan pernah bisa gue lakuin!!!"
Octy, Noella dan Vanka hanya bisa diam dalam ketakutan, melihat perubahan sikap Shania yang biasanya mereka permainkan.
"Gimana... kalau sekarang, kalian ngerasain, apa yang dulu gue rasa? Mau..?!" Seringai Shania.

Saat kakinya akan dia langkahkan untuk memberikan bisikan pada senior guardnya, langkahnya terhenti karena sekelebat pikiran yang lebih ekstrim muncul di layar pikirannya.
"Emm... gue mau ngasih penawaran sama lu (natap Octy), lu (giliran Vanka), dan lu (terakhir Noella)"
"Mau apa lu sama mereka?" Sabet Sinka dalam cengkraman,
"kalau kalian mau lepas dari apa yang akan gue lakuin! Berpalinglah dari dia, diam disisi gue, dan ikutin apa yang gue perintahkan! Gimana?" Vanka, Octy serta Noella saling memberikan tatapan.

Cukup lama ketiga orang itu berpikir

"HAah!.. Kalian terlalu lama berpikirnya!!jangan bilang gue gak pernah nawarin kebaikan ya sama kalian" ucapnya memakai tekanan menyudutkan. Shania kemudian mengalihkan pandangan pada guard nya dan bicara pada mereka.
"Gue mau... kalian bawain gue air bekas pel lan, emm-- atau. . . Apa gitu yang lebih mainstream? Yang biasa kalian pakai buat ngerjain gue sama anak lainnya atas perintah Sinka dulu!... Gue, pengen ada adegan yang agak di dramatisir dikit, biar anak-anak satu sekolah bisa lihat dan tahu, siapa Sinka Juliani... dan siapa Shania Jogjanatha!!" Sinka dan lainnya membelalakan mata ketika mendengar Shania selesai berucap,
"eh ya Chi, lu mau kan? bantuin gue?!" lanjutnya menoleh kebelakang,
Ochi menyeringai senang "anything!" Singkatnya untuk menjawab,
"Kalo gitu. . . Lu broadcast sin, video yang nanti bakal kita ambil pas 4 orang paling Wah di sekolah kita ini dapat Surprise, dari seorang gadis KAMPUNG, kaya gue. Dan lu pastiin, nantinya satu sudut sekolah, tahu apa yang sedang terjadi sama ratu kita ini!!"
"Wahh sounds fun,, Ok! I'll be ready for that!!" Kembali Ochi bicara, dengan tangan kanan mengambil smartphone nya yang akan dia jadikan alat perekam.

2 dari 8 orang yang sudah Shania ambil alih dari Sinka, bergegas keluar untuk membawakan Shania properti, demi terciptanya "adegan dramatis" yang akan dia "sutradarai". Sementara menunggu properti nya datang, Shania diam dalam tatapan tajamnya yang dia tusukan pada Sinka.

"Awas ya Lu! Gue bakal balas apa yang akan lu lakuin sama gue!" Dalam keadaan seperti itu pun Sinka masih berani mengancam "Gue bersumpah! Apapun yang bakal lu lakuin sekarang, lu bakal ngerasin lebih nantinya!!" Gertaknya.
"Sin...ka, heuh! Gue tunggu ucapan lu!! Oh, gue mau kasih tahu lu sesuatu.. sebaiknya, lu ubah mindset lu tentang murid-murid yang sering lu tindas!" Sinka mengerung "mereka gak bisa ngasih perlawanan, mereka akan diam terus nerima perlakuan lu, mereka sangat amat takut sama lu, dannn.. hal lain tentang pikiran pendek lu menerjemahkan mereka. . . Karena Lu tahu? Seekor domba bisa berubah jadi srigala, jika dia terus ada dalam ancaman dan tekanan!! Lu harus bisa lebih pintar menggunakan kemampuan aneh lu, dalam memperlakukan murid-murid disini!!"

Tak lama, senior nya pun datang dengan beberapa properti yang sudah biasa mereka pergunakan untuk mengerjai murid lain ketika masih dalam genggaman Sinka.

"yoshh! The Show, will be ready!!" Semangat Shania.
"Hah! asalnya dari kampung, gak heran kelakuannya kampungan!!" Ledek Sinka, mengulur waktu,
"Maksud lu?”
"cara lu itu… dari awal sampai sekarang mau ngerjain gue! Kampung banget!! Apalagi lu nyuruh temen lu buat broadcast in, tambah Kampung tahu!!"
"Gue heran ya sama lu! Bebel banget jadi orang, udah liat nasib lu bentar lagi bakal apes, bukannya minta di udahin malah terus nyolot!! Kalau.. cara gue lu bilang kam..pungan, Gimana dengan cara lu selama ini? Huh!?" Balas Shania.
"udahlah Shan, gak usah terlalu ditanggepin! Si Sinka tuh Cuma ngulur waktu aja, biar lu jadi lama ngasih balasan ke dia!!" Sahut Ochi.
"hemp! Lu bener Chi, Okey.. The show… Start!"

Hari ini, Shania memulai perubahan dalam sikapnya karena himpitan kesepian dan penghianatan dari sahabatnya yang dia spekulasi sendiri. Tidak perlu dia berpikir dampak dari apa yang akan dia lakukan pada Sinka dan teman-temannya, Shania terus menerobos dinding yang dulu tidak bisa dia terobos, karena saran dari sang sahabat untuk tidak menghiraukan kerjaan Sinka yang kerap kali mengerjainya.

"ini dia, kita mulaiii..." Shania mengambil ancang-ancang untuk memberikan perintah pada senior-seniornya, tapi baru di hitungan kedua..,
"Tunggu!" Vanka menghentikan hitungan Shania, "Gue mau... ambil tawaran lu tadi!" Ucapnya
"Tawaran? Tawaran yang mana?" Shania berpura-pura tidak mengerti
"Gue... (melihat dulu ke Sinka) gue mau ada di sisi lu dan nurutin perintah lu! Kalau itu bisa bikin gue bebas!!" Ujar Vanka
Shania dan Ochi tersenyum menang; Sinka, Noella dan Octy terbelalak Kaget.
"Vanka! Lu apa-apaan? Lu sadar kan apa yang lu lakuin? Lu mau jadi penghianat!?" Marah Sinka dalam ucapannya.
"Sorry, Sin! Sepertinya.. lu bakal jadi Nothing, dan lu tahu... gue lebih pilih sisi yang bisa bikin gue aman! Ketimban sama lu, yang udah terlihat jelas gak bisa ngapa-ngapain di depan Shania!!"
"Apa? Lu..,-"
"Terima aja Sin, lu sekarang gak punya kuasa apapun. Lu bahkan gak bisa ngasih penawaran lebih sama mereka (nunjuk senior) saat Shania ngambil alih mereka dari lu!!" Vanka begitu mantap dengan ucapannya; Sinka begitu geram.

"Gue juga!" Giliran Noella yang bicara, setelah Vanka diam dan hanya mendapat tatapan marah dari Sinka, "benar apa kata Vanka! Hari ini.. lu bisa diperlakukan begini sama Shania, tanpa lu bisa melawan, dan hanya mengancam dengan umpatan kosong!! Gimana kedepannya?!. . . Gue, bisa lihat sekarang... siapa yang sebenarnya punya kuasa, dan siapa yang gak berkuasa.” Sinka semakin menjadi kegeramannya, melihat dan mendengar apa yang dikatakan teman-temannya. “bayaran lu sama mereka gak seberapa, dan itupun lu minta bantuan sama kita buat bayarnya, tapi Shania? Dia membayar mereka 4 kali lebih besar, bahkan tanpa meminta bantuan dari Ochi yang ada di sebelahnya! Gue mau ikut sama Shania!!" Tegas Noella melanjutkan ucapannya, yang diikuti anggukan dari Vanka.
"Oke! Gue udah denger permintaan kalian!! Lepasin mereka berdua!!" Shania menyuruh guardnya,

"Tunggu!, Gue juga… Gue mau ikut sama Shania aja!! Lu udah gak ada apa-apanya dan gak bisa ngapa-ngapain, lu lemah sekarang Sin, bahkan lebih lemah dari gue yang dulu sering lu jadiin pesuruh!!!" Octy yang Sinka kira tidak akan berpaling, ternyata melakukan hal yang sama dengan 2lainya.

"Haah-- Liat sendiri kan? Bukan gue yang memaksa! Mereka nyerah gitu aja, dan mau ikut sama gue!!. . . Is that what you call FRIEND!? Sink..a?!" sinis Shania merasa menang di depan Sinka.

Shania menyuruh teman-teman Sinka untuk mulai mengerjainya, dengan menyiramkan air bekas pel yang sudah dicampur dengan telur busuk yang sebelumnya dibawa oleh seniornya; sementara itu Senior lainnya, Shania suruh untuk menjadi penonton. Dan … Film pendek yang di sutradarai Shania pun dimulai!.

Dengan bahakan tawa dari setiap bibir yang begitu nyaring menggema di ruang kosong itu, Ochi mengabadikan moment langka tersebut dengan menggunakan smartphone mode video yang nantinya akan dia sebar, tanpa memperlihatkan sosoknya ataupun Shania. Yang ada hanya Sinka si korban, Noella, Vanka, dan Octy yang jadi bullyer, serta tambahan penonton 8orang yang tak lain adalah senior guard nya.

'Aku bukan Shania yang dulu! Ini aku, aku yang baru, yang tidak akan lagi menoleh kebelakang, tidak akan lagi lemah dan mengalah pada siapapun, tidak akan lagi mempercayai siapapun!! Sahabat itu... hanya bualan orang lemah, mereka... lebih baik dari kamu yang cuma sendiri, yang selalu membuai aku dengan ucapan manis, tapi dibelakang mematikan perlahan!!' Ucap hati Shania sambil menerawang sosok Beby, yang sudah dia anggap penghianat.


Banyak kenangan tersimpan yang menguap kepermukaan, ketika kita diam sendiri dalam sebuah ruang. Dua sahabat yang kini sudah tidak lagi saling menjalin komunikasi, padahal... mereka sudah tinggal di satu kota yang sama, Jakarta. Ya.. Beby sudah berada di Jakarta, mengikuti apa yang disarankan oleh dokter yang menanganinya kala ia masih berobat di Jogja. Menempati kembali rumah yang dulu pernah ditinggalkan, waktu Papa masih ada dan berjuang melawan takdirnya dalam pusaran sakit ganas yang diderita. Berat memang rasanya kembali ketempat itu untuk Mama, ketempat dimana sejuta kenangan indah yang berakhir dengan tangisan pilu, yang mungkin.. akan kembali berakhir dengan sebuah tangisan dengan sebab yang sama namun beda orang. Tapi Mama tidak punya pilihan lain, biaya berobat Beby yang tidak sedikit, tidak memungkinkan Mama untuk menempati hunian lain setelah ia mendapat bekal dari menyewakan rumah yang di Jogja. Untuk Mama kini, yang penting Beby bisa sembuh dari sakitnya meski hanya dengan kemungkinan 80 banding 20 untuk kesembuhannya, tapi Mama tetap mau berusaha dan tidak mau menyerah begitu saja.

Beby menyusuri setiap sudut rumah masa kecilnya, memang tidak banyak yang bisa dia ingat dari tatanan rumah bahagianya ini, selain candanya dengan sang Papa, kebahagiaan nya kala masih bisa memegang erat tangan Mama dan juga Papa yang masih dan selalu melekat erat dalam dinding memory nya.
Dulu... dia belum begitu mengerti tentang apa yang terjadi pada Papa nya, hingga beliau meninggalkan dirinya beserta Mama untuk selamanya. Namun kini, Beby mengerti apa yang dulu terjadi, bahkan kini dia merasakan bagaimana hebatnya perjuangan Papa demi untuk menaklukan rasa sakit di dalam kepalanya yang seperti bom waktu itu.

"Pertanyaan.. memang tidak selalu langsung bisa mendapat jawaban saat itu juga! Seperti sekarang, Beby, tahu bagaimana perjuangan Papa dulu menyembunyikan ini dari Beby yang belum memahami apapun." Beby menerawang sambil memikirkan dirinya yang dulu masih sangat kecil dan bertanya pada Mama
'Papa kenapa Mah?'
"Dan nanti... Beby juga pasti akan tahu, kemana Papa pergi ninggalin Beby kala itu?"
'Papa kemana Mah? Kok Papa gak pulang-pulang sih!?'
Senyum getir mengulas di bibir tipisnya, mengingat pertanyaan polosnya dulu.
"Meskipun pertanyaan itu sudah dapat jawaban, dan sekarang Beby merasakannya. tapi Beby gak akan nyerah gitu aja Pah :'-), Beby ingin berjuang untuk orang-orang yang menyayangi Beby, seperti Papa dulu!. Papa… jangan jemput dulu Beby ya? Jemputlah Beby... saat orang-orang tersayang Beby kuat untuk melepas Beby!!" ucap pelan Beby sambil melihat potret keluarganya.
Senyum bahagia terpancar dari Papa yang sedang bermain dengan Beby yang belum genap berusia 1th, dan Mama yang menatap Papa yang dalam tangannya menggendong buah cinta mereka. Begitu bahagianya keluarga kecil itu dalam potret usang belasan tahun lalu, yang tidak akan pernah bisa terlupakan begitu saja.

"Sayang!" suara Mama membuyarkan lamunan Beby "kamu kenapa?" tanya Mama khawatir,
"Hah? mm-- nngak Mah, Beby gak kenapa-kenapa!" Senyumnya dalam balasan.
Mama melihat bingkai photo keluarga, lalu memeluk putri kesayangannya itu dari samping "Mama… gak akan biarin kamu kenapa-kenapa! Terus ninggalin Mama gitu aja!!" Ucap Mama sambil mencium kepala Beby.
Beby terenyuh hangat mendengar alunan suara Mama, ia mengusap lembut tangan Mama yang memeluknya, "Beby gak akan nyerah Mah, Beby akan ikut berjuang sama Mama! Kalaupun Beby nanti akhirnya harus pergi, Beby akan pergi dengan Mama yang kuat disini, bukan dengan Mama yang lemah untuk melepas Beby!!" Pelukan Mama semakin erat.

Beby sangat merasa kasihan pada Mama yang sangat dia sayangi ini, bagaimana mungkin, Tuhan bisa begitu fasih menuliskan takdir kehidupan Mama yang penuh tragedi terhadap orang-orang yang dia sayangi. Beby selalu melontarkan tanya dalam Doa nya pada Tuhan.. 'apa ini kehidupan? Kenapa harus ada hitam, kalau putih saja sudah menyenangkan? Kenapa harus ada malam untuk terpejam, kalau siang bisa kita habiskan untuk bercengkrama dengan orang terkasih? Kenapa harus ada kesedihan menguras air mata membuat hati luka, kalau gelak tawa bahagia bisa membuat hati ria? Dan, kenapa? Harus ada kematian diiringi tangis, kalau dulu ada kehidupan dalam kelahiran yang memancing senyum bahagia?! Inikah keseimbangan hidup yang Engkau aungkan dalam kitab-Mu?’

Rentetan pertanyaan yang tidak sepatutnya dipertanyakan, namun karena lelahnya hati dalam himpitan rasa sakit, sering kali membuat nalar menjalar kesana-kemari melahirkan pemikiran, yang padahal sudah diketahui apa jawabannya.


---
Langit sore dengan senja jingga bercampur ungu berarak menghampar diatas langit Jakarta, sungguh indah terlihat. Shania merentangkan tangannya diatas gedung pencakar langit yang belum selesai pembangunannya, menghirup hembusan angin sore ditemani teman-teman barunya.
"Ngapain lu? Rentangin tangan kayak gitu?" tanya Ochi, yang lain ikut melihat tapi kemudian kembali ke mainan masing-masing (gadget, kamera).
"Rasain angin sore Chi! Heeeemmmhhaaah... udah lama gak kaya gini!! Rasanya enak banget!!!"
"Kayak gitu apa enaknya?!" Gaby melempar pernyataan dalam tanya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Ipad. Dia itu salah satu teman baru Shania dan Ochi saat mereka masuk di kelas XI IPS 4, kelas baru mereka setelah pernyataan kenaikan kelas diumumkan.
"Yang enak itu... ngerjain anak-anak di sekolah, trus broadcast-in ke youtube deh! Kalau perlu tu yah bikin Live Show, biar lebih greget!!" Lanjutnya menyarankan.

"Nahhh.. itu gue setuju! Tapi, siapa sasarannya? Disekolah udah gak ada lagi rival setara sama kita, anak-anak kelas X nya.. gak rame buat dikerjain!!" Sahut Ochi, yang lain mulai ikut dalam obrolan.
"Kelas XII nya juga! Gak ada yang asik buat di kerjain!! Si Sinka sih.. pake pindah sekolah segala, gak ada yang bisa kita kerjain abis lagi kan!?" sahut Octy.
"Itu karena lu terlalu mainstream Shan, ngerjain tuh anak! Jadi aja dia ngacir kabur gak tahu kemana, gak ninggalin jejak lagi!! Hahahaa" Kata Vanka diakhiri gelak tawa. Yang lain ikut menyahut, tak terkecuali Shania si pemegang kekuasaan dalam kelompok pertemanannya kini.

Yaa.. itulah gambaran Shania sekarang, dari percakapannya bersama Ochi, Gaby dengan ditemani Vanka, Noella dan Octy juga. Mereka selalu tertawa riang dalam alur percakapan yang dibangun, apalagi percakapan setelah mereka mengerjai teman-teman satu sekolahnya, dan membuat broadcast di youtube hingga satu sekolah lainnya melihat adegan yang tidak seharusnya dilakukan oleh mereka semua (bully). Dari awalan yang niatnya hanya untuk mengerjai balik Sinka yang menyebalkan, hingga akhirnya berubah jadi kebiasaan, dan membuat Shania terbiasa dengan begitu luwes mengerjai Sinka bahkan teman-teman lainnya yang ada di sekolah. Entah kehidupan seperti apa yang sekarang sedang di jalani Shania yang dulu begitu sopan dan selalu bisa menghargai orang lain, bahkan.. dia tidak pernah suka melihat murid menindas murid lainnya.

Shania begitu sangat berubah drastis dari siapa dia yang dulu, bukan hanya tingkah lakunya ketika di sekolah saja yang berubah, tapi saat dirumah juga, dia kini sudah jauh dari kesan Shania yang baik, supel, periang, tidak pernah mau cari masalah, pintar mengumpulkan teman, bergaul tanpa memandang siapa dia, apa dia, semua hal baik kala ia masih menjadi salah satu warga sudut Jogja yang begitu sederhana, hilang dari pandangan siapapun yang dulu pernah mengenalnya. Nyatanya… hidup dalam sangkar emas bermandikan berlian, tidak bisa membuatnya berjalan lancar dalam sebuah jalan, dia memang terlihat tegar, senang, tanpa beban, tapi setelah malam datang dan dia hanya seorang diri... beban itu begitu terasa kembali berat. Ketegaran hanya topeng penutup kelemahannya, kesenangan hanya alat penghibur sesaat untuk menepis rasa sepi, wajah tanpa beban itu... hanya sandiwara dalam menutupi beratnya bahu sendiri, kala menyadari orang-orang yang dulu dia sayangi perlahan dan begitu pasti menghilang dalam jalannya.

Mungkin ini bukan kemauannya, mungkin inilah jalan hidup yang harus dia lewati. Setegar apa dia kala melihat orang tuanya yang semakin menjauh dari jangkauannya?, sehebat apa dia, saat Kakak yang bisa dia jadikan sandaran untuk berbagi keluh-kesah perlahan melangkah meninggalkannya dalam kesendirian!?, sesabar apakah dia mengendalikan letupan emosi ketika dihadapkan pada apa yang dia lihat, kala seorang sahabat yang selalu dia percaya, yang selalu tahu akan dirinya, yang selalu berbagi gelak tawa tangis sedih dari kecil itu... begitu sangat dekat dengan orang yang dia Cintai?! Menjadi seorang penghianat dimatanya!?, sesempurna apa dia dalam menghadapi apa yang sudah menjadi takdirnya?, karena Tuhan pasti sudah sangat tahu, kemampuan dari semua Mahluk Ciptaan-Nya!.


"Gak kerasa, kita udah mau satu bulan disini! Bagaimana dengan Shania? Apa kamu sudah memberi kabar kalau kamu pindah ke jakarta!?" Mama dan Beby sedang menikmati makan malam.
"Shania.. gak bisa dihubungin Mah, kayaknya nomornya ganti deh! Dari saat sampai di sini, Beby udah coba ngehubungin dia untuk memberitahukan kepindahan Beby, tapi ternyata nomernya malah gak bisa dihubungi (Wajahnya sedih). Mungkin Shania marah sama Beby, soalnya... terakhir kita komunikasi, Beby kan menyudahi obrolan kita gitu aja, dan selanjutnya... Beby gak pernah hubungi dia lagi, karena Beby kan dilarang dekat-dekat dengan HP terlalu lama!" Terawang Beby dengan nada sesal dan wajah sedihnya; Mama merasa kasian.
"emm… Nanti, biar Mama coba cari alamat tempat tinggalnya ya, biar kamu juga bisa langsung nemuin dia!" Ucap Mama penuh semangat.
Yang Mama inginkan adalah melihat kebahagiaan di wajah Beby, dan menurutnya, Shania sang sahabat bisa memberikannya kebahagiaan, apalagi sekarang mereka sudah satu kota. Kalau dulu waktu di jogja saat Shania sudah pergi, Mama bisa melihat Beby bisa selalu ceria karena keberadaan 2 teman lainya, yaitu Subhan dan Aji.
"Gimana caranya Mah?" Tanya Shania
"Kamu gak perlu tahu, serahkan sama Mama kamu yang juga bisa bekerja seperti detektif ini! " Mama mengedipkan mata kanannya pada Beby
"Ceileee.. Mama... sok detektif-detektifan lagi, Hahahaaa…"

Beby memikirkan Shania dalam diam lanjutan makan malamnya. Saat dia memutuskan untuk mendampingi Shania tanpa menghindarinya karena masalah sakit yang dideritanya itu, kenyataan berkata lain... Beby putus komunikasi dari Shania karena kondisinya sempat ngedrop drastis, hingga akhirnya tak pernah lagi ada jalinan percakapan menarik dalam berbagai bahasan yang mengundang tawa, sedih, atau haru saat Shania bercerita dan Beby menjadi pendengar. Dan alasan lain yang tidak Beby tahu soal Shania yang ganti nomer HP dan nomer pin BB, untuk tidak bisa lagi tembus komunikasi dengan dirinya. Yang Beby tahu dan yakini adalah.. Shania marah karena tidak adanya lagi komunikasi terjalin diantara mereka, dan Shania pasti sudah bisa punya teman di sini (Jakarta).

"mm—Mah?"
"ya? Ada apa sayang?"
Beby memainkan sendoknya, sepertinya dia sedikit kesulitan untuk mengeluarkan suaranya, "mmm—Beby… Beby boleh meminta sesuatu gak dari Mama?!" bukan karena sakit, tapi karena segan.
Mama tersenyum "apapun yang kamu mau, selama Mama bisa memberikannya, Mama pasti akan berikan itu!" giliran Beby yang tersenyum, "jadi… kamu mau apa?"
"Beby.. boleh gak? Kalau Beby minta sekolah, Mah?", Mama berhenti menyuapkan makannya "ehm, kalau pun enggak juga.. gak apa-a,-"
"kamu tuh bicara apa sih sayang? Mama belum juga ngasih jawaban, kamu udah jawab sendiri!" Beby hanya mengulaskan senyum harap nya.
"tentu kamu boleh sekolah lagi!. . . Kamu kenapa bicaranya baru sekarang?" Beby hanya diam tersenyum dalam tatapan pada Mamanya, "Maafin Mama ya, Mama sampai lupa sama sekolah kamu!" Mama memegang lembut tangan Beby.
Beby menggeleng, "nggak Mah! Mama gak perlu minta maaf, Mama gak salah kok! Emm— Beby... Cuma gak mau terus.. dan terus bikin repot Mama, dan… jadi beban buat Mama!", Mama membuat sedikit kerungan kecewa mendengar ucapan seperti itu dari Beby.
"biaya untuk immunotherapy aja.. itu udah mahal banget Mah, setiap bulan Mama ngeluarin uang ratusan ribu, hingga nyaris jutaan. Cuma buat obat pengebal itu! Belum lagi biaya kehidupan kita disini!! Beby benar-benar sudah menjadi beban untuk Mama!" Beby tertunduk lesu.

Saat sampai di jakarta dan memulai konsultasi di rumah sakit kanker yang sudah di rekomendasikan oleh dokter rawatnya saat di Jogja. Beby mendengar begitu jelas dan gamblang soal penyakitnya yang setiap hari semakin mengganas, dan bahkan sekarang, sudah masuk di stadium metastasis (stadium lanjut), meski sudah di asupi zat kimia dan pernah satu kali operasi untuk membunuh sel mematikan itu.

Dokter bilang, jalan terakhir untuk Beby bisa sembuh adalah.. Beby melakukan operasi pembedahan terbuka yang menggunakan sinar partikel / laser radio aktif (Robotic Radio Surgery System). Namun, biaya untuk melakukan operasi itu tidaklah sedikit, perlu beberapa lama untuk Mama Beby mengumpulkan dulu pundi-pundi uangnya, operasi sekarang sangat lah berbeda dari operasi yang pernah diikuti Beby kala di Jogja. Dan selama masa menunggu keuangannya OK untuk bisa terlaksananya operasi menentukan itu, Beby di anjurkan untuk mengikuti immunotherapy (system pengebalan tubuh, meskipun sebenarnya therapy itu untuk mencegah Kanker, tapi menurut dokter itu cukup membantu terhadap seseorang yang sudah terkena kanker, memperlambat penyebaran kanker), karena kanker bukanlah penyakit yang bisa di sembuhkan begitu saja, ada kala dimana seseorang di vonis bebas dari penyakit tersebut, tapi beberapa tahun kemudian... sel itu kembali hidup dan kembali menjamah tubuh bagian dalam, hingga membuat rapuh bagian luarnya.

"Kenapa bicaranya seperti itu? Kamu gak perlu memikirkan soal biaya sayang.. biar itu Mama yang memikirkan!. . . Mama gak perduli, harus seberapa keras Mama bekerja untuk membiayai pengobatan kamu, Mama akan lakoni itu. Dan Mama.. tidak akan menyerah sama hasil yang hanya di tentukan oleh dokter, dia cuma penyampai hasil yang hanya terlihat kasat mata berdasarkan deteksi mesin, selebihnya... Tuhan lah yang lebih tahu!! Tidak ada perjuangan yang sia-sia, Tuhan tidak pernah tidur, Dia tahu siapa saja umatnya yang selalu mau berjuang melewati takdir yang diberikan-Nya!!" Ucapan Mama mampu membuat Beby tenang dalam haru dihatinya.
"(matanya berair) Beby beruntung banget, bisa terlahir dari seorang perempuan mengagumkan seperti Mama. Mama tidak pernah menampakan kelelahan Mama untuk menopang Beby, Mama selalu bisa memberikan semangat pada Beby kala rasa sakit ini hampir membuat Beby menyerah, dan Mama... bisa membuat Beby tenang walau hanya mendengar suara Mama dalam untaian kalimat! Mama tahu? Beby itu… adalah anak paling Beruntung dan Bahagia karena memiliki dan dimiliki sama Mama. Beby sayang.. sangat sayangg sama Mama "
"Kalau kamu.. memang sayang sama Mama, berjuanglah sama Mama, untuk mengalahkan sakit itu… untuk memperlihatkan pada Tuhan, kalau kamu tidak pernah menyerah pada kehendak yang sudah Dia berikan!" Beby mengangguk pasti, menyambut ucapan Mama.
"Besok, Mama akan cari rekomendasi untuk kamu sekolah. Biar kamu bisa tetap menjaga kondisi tubuh kamu juga!. . . kalau Mama gak salah ingat, Tante Rosi (Kakak dari Mama) pernah cerita kalau Kakak sepupu kamu (anak tante Rosi) itu sudah bekerja sebagai pengajar di salah satu SMA, ya… siapa tahu kamu bisa masuk disana, biar sekalian Mama juga bisa nitipin kamu sama dia!" Beby mencoba mengingat Kakak sepupu yang sedang Mama bicarakan, "kalau kamu sekolah disana, Mama juga jadi gak perlu terlalu khawatir, kalau kamu kenapa-kenapa gak ada yang ngasih kabar ke Mama!" lanjut Mama.
"emp, Beby ikutin apa yang Mama bilang aja deh  yang penting Beby bisa sekolah lagi.. Beby bosan Mah, di rumah terus!" ucapnya penuh semangat. Mama tersenyum menyambut ucapan Beby.

"eh, ya Mah.. Kakak sepupu Beby itu… eehhh, itu.. namanya itu… Kak… Imel kan Mah?"
Mama mengangguk "iya.., kamu masih ingat sama Kak Imel?"
"dikit Mah, terakhir ketemu kan pas kita mau pindahan ke Jogja!" ucapnya sambil menerawang dengan wajah dihiasi senyum bahagia.


***
"Shan, Shan..! Ada murid baru loh di kelas XI IPA 4!?"
"oh ya!terus?"
"yaahh.. pake nanya terus lagi! Ya kita 'Ospek' lah!!"
"semangat banget si lu Gab!" sahut Ochi
"eh harus dong, udah lama kan kita gak ngOspek anak baru!" jawabnya sambil tersenyum penuh maksud "lagian kan, jarang-jarang ada murid baru di sekolah kita, masuk di kelas IPA lagi! gimana?" lanjutnya.
"emm— emang tuh murid baru gimana sih,? harus ya kita kerjain sekarang?" kata Shania, mau-tidak mau menanggapi Gaby.
"gak tahu juga sih gue, cuman ya… kan sayang aja kalo dilewatin, penyambutan murid baru nya, Hahahaha..!" tawa Gaby menjawab Shania.
"ya udahlah, Shan. Kita lihat aja dulu, buat sekedar Say Hai.. sama ya… daripada bosen dikelas gak ada kerjaan!" Ochi mulai ikut tertarik ajakan Gaby.
"ehm… ntar istirahat aja deh liatnya, gue lagi males keluar!" jawab Shania, dengan gesture enggan.

"lu lagi kenapa sih? Kayaknya lemes banget hari ini?!" Tanya Gaby penasaran. Ochi melihat Shania, dan dia merasa apa yang dikatakan Gaby ada benarnya.
"tau ah! Lagi males aja!!" jawabnya tanpa menatap Gaby.
Gaby melihat Ochi dengan berisyarat menanyakan 'kenapa?'; Ochi membalas tatapan Gaby dan hanya mengangkat bahunya untuk menjawab isyarat Tanya Gaby.

Waktu istirahat tiba, Ochi dan Gaby lebih dulu berdiri dari tempat duduknya dan mengajak Shania untuk melakukan apa yang tadi pagi mereka perbincangkan.

"Kenapa malah bengong?! Jadi kan mau say haii sama anak baru itu?" ucap Ochi yang melihat Shania hanya memakukan tatapan heran padanya, "Hei.. lu oke Shan?" tanyanya kemudian.
"Hah? Em.. ya… ya, im fine!" jawabnya terbata,

Entah sedang merasakan apa Shania, karena sikapnya terlihat tidak seperti biasanya jika diajak untuk mengerjai teman sekolah, sekarang dia seolah begitu enggan untuk mendatangi targetnya, dan hanya ingin diam ditempatnya kini, bermain dengan lamunan dan perasaan yang tidak bisa dia terjemahkan. Padahal.. dia bisa sangat semangat untuk mengerjai teman satu sekolahnya, apalagi jika kondisi rumah sedang membuatnya suntuk, dan perasaannya sedang kalut.

"yakin? Kalo gak jadi sekarang juga gak apa-apa! Masih bisa besok lusa kan, say hai nya!!"
"yahhh.. kok gak jadi sih! Gak ser,- awww… duhhh… lu… apaan sih Chi? Pake nginjek kaki gue segala!" ucapan Gaby berakhir dengan ringisan sakit sambil memegang kaki kanannya yang diinjak Ochi.
"duhh.. sorry- sorry gak sengaja! Beneran deh Gab!! Hehe" elak Ochi,
"huh? Apanya yang gak disengaja? Orang… nginjeknya kenceng banget juga!!" protes Gaby,
"kan gue udah minta maaf Gab, namanya juga… disengaja!" Ochi menurunkan suaranya saat menyebut kata 'disengaja'
"apa… lu bilang barusan? Disengaja!"
"gak sengaja Gab, bukan di sengaja.. ah itu sih lu nya aja yang…"
"yang apa? Yang budek? Iya itu..?"
"bukan gue yang ngomong loh.."

Shania tersenyum melihat tingkah mereka berdua, lalu menghentikannya "udah-udah.. malah jadi heboh sendiri! Acaranya aja belum dimulai.."
"acara? Acara apaan, Shan!?" Gaby yang sedang sewot pada Ochi jadi berhenti.
"ehhh—loading! Ya acara ngerjain anak baru itu lah! Iya kan Shan?" kata Ochi, Shania mengangguk,
"Owhh.. eh? Berarti jadi dong, kita ngOspek anak baru itu?" Shania kembali mengangguk; Ochi menepuk jidat "yesss.. bagus! Ya udah, yuk berangkat!" semangat Gaby.

Mereka bertiga keluar dari kelas, namun saat dalam perjalanan menuju kelas si anak baru, tiba-tiba tidak di sengaja, Seorang murid satu tingkatan dengan Shania dan lainnya menabrak Gaby...
"*%$#:@%^&*:@.... DUHHH!!"
"a, aku- aku minta maaf!" katanya sambil menunduk, beberapa murid di sekitar tempat kejadian hanya bisa melihat,
"heh! Kalau jalan tuh pake mata, gak liat apa... orang segede gini masih aja di tabrak, gimana kalau orang nya lebih pendek dari LU?!" hardik Gaby dengan kasarnya
"ma- maaf~ aku mint,-"
"maaf, maaf! Lu pikir dengan maaf semuanya beres! Siapa nama LU?" Ochi ikut bicara, lalu melihat bet nama si murid yang menabrak Gaby. . . .


"PELANGI DALAM SAKURA" CHAPTER 8

Pelangi Dalam Sakura


Sampai di tempat tujuan, pojok salah satu ruangan sekolah yang tidak pernah dijamah atau bahkan dilewati murid-murid dikala pagi seperti saat ini, Shania mengitarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang baru dia pijak selama dia menjadi murid di sekolah itu.

"Gimana? Suasana disini enak bukan? Untuk dipakai ngobrol?" Shania hanya mengerung.
Ini bukanlah ruangan yang layak untuk dijadikan tempat ngobrol, berbagi cerita atau share pengalaman. Tempat yang sudah seperti gudang, dengan disana-sini tumpukan barang tak layak pakai, ditambah serabut benang putih hasil rajutan laba-laba kecil yang menghiasi setiap sudut, bahkan setiap tumpukan yang sudah berdebu.

"Be calm Shania! kita gak bakal ngapa-ngapain lu kok, selama lu mau dengerin obrolan gue, dan... ikutin apa yang gue mau!!" Nadanya mulai terdengar menyudutkan Shania,

Shania yang sedang melihat-lihat, segera memakukan matanya pada Sinka "apa yang sebenarnya kalian mau dari aku? Selama ini, aku gak pernah ngusik kalian! sekalipun kalian selalu ngusik aku!!" Ucap Shania memberanikan diri, karena dia ingin keluar dari ruangan pengap itu.
"Oo, Shania marah? Eh bukan! Kesalll, iya? Kamu kesal? Sama siapa? Sama gue? Sama temen-temen gue?" Teman Sinka lainnya memasang senyum sinis, "Kiiita.. ngusik lu karena kita SUKA sama lu!" Dengan angkuhnya Sinka bicara "harusnya lu itu ngerasa beruntung, karena kita SUKA sama lu! Jarang loh, ada cewek-cewek kota yang begitu modis nan socialita kayak kita-kita, mau ‘meNYUKAI’ cewek kampung, orang kaya baru, yang mau Sok socialita kayak lu! Iya gak teman-teman?!" Octy, Vanka dan Noella mengangguk dengan senyum sinis, atas ucapan Sinka.
"Haah! Biar gak terlalu lama, dan keburu bell juga, gue percepat deh! Lu tahu gak? Apa yang gue mau dari lu?!” Shania hanya bisa menatap Sinka, “Gue tuh.. mau Lu… O..UT! dari sekolah ini!!?" Perlahan, terlihat kegerungan di alis mata Shania, "kenapa ekspresinya kaya gitu? Gak suka? Mau marah?" Sinka semakin menyudutkan Shania

"Kalian.. kenapa kaya gini sih sama aku? Salah aku apa? Kenapa kamu tiba-tiba pengen aku keluar dari sekolah?"
"Ouwhh, Shania yang malang... gue itu, cuma mau buka mata lu, lu sendiri pasti sadarlah, selama lu jadi murid disini, apa ada yang mau temenan sama lu? Hah!" Shania diam, "enggak kan? Jadi ya.. gue sih cuma ngasih jalan keluar aja buat lu, karena tempat ini gak cocok buat cewek kampung yang sok cakep depan murid-murid cowok, dan sok innocent depan guru-guru, kayak lu gini!" Kasarnya dengan mengangkat kerah seragam putih Shania.

"Gimana? Lu mau kan, ikutin apa yang gue bilang tadi!?"
Shania mulai merasa kesal "enggak! Aku gak akan ikutin kemauan kamu! Aku ngerasa gak ada masalah disini!! Kenapa aku harus Out!?" . . . "Aku mau keluar dari sini, bell masuk udah bunyi!" Lanjutnya sambil bersiap melangkah, tapi malang, langkah Shania dapat hadangan dari teman-teman Sinka.

"Tadi gue udah bilang, gue gak suka di tolak! Dan barusan.. lu nolak gue me..ntah banget!!" Ucap Sinka dengan posisi membelakangi Shania. "Terpaksa deh, gue harus ngelakuin sesuatu sama lu!" Dia membalikan badannya dan *breeet* Sinka menyabet tas gantung Shania, sementara teman-teman lainnya (Noella dan Vanka memegangi lengan Shania)
"Kalian mau apain aku? Balikin tas aku Sinka!" Ucap Shania dengan memasang tatapan marah
"Auw, auw.. Shania marah teman-teman, Hahahaaaa" Mereka menertawakan Shania, "euhm, Octy.. cepet bawain mainan buat mainan kita!" Perintah Sinka, Octy langsung bergegas entah kemana dan akan mengambil apa. "nunggu si Octy balik, gimana kalau kita lihat... isi tasnya orang kampung dari JOGJA ini! Kalian setuju?"
"Aahh, ide bagus! Buka aja Sin, gue penasaran sama isi tas dari Shania Jogjanatha, Hahaa" sambut Noella
"Alah.. palingan juga isinya, buku... buku... dan buku...! So bored!! Haaah" ikut Vanka
"Eits siapa bilang cuma itu, siapa tahu aja ada gudek Jogja di tasnya, kan lumayan buat kita makan pas istirahat nanti! Hihii" Noella terkikih sambil membayangkan, Shania tidak bisa melakukan apapun dibawah cengkraman 2orang.

"Ahh! Sudah diam, kalian pada berisik tahu gak!!" Sinka mulai membuka resleting tas dan mengeluarkan satu persatu isinya "hmm,, novel.. 'Pelangi.. Dalam... Sakura' ck- novel apaan nih? Gak mutu! Mending gue buang terus gue injek, kayak gini nih!!" Ucapnya sambil mempraktekan, Shania merasa sangat marah dengan kelakuan Sinka, melihat novel yang diberikan oleh sahabatnya kala dia berulang tahun yang ke 14, di buang dan injak-injak oleh Sinka.
"Lihat yang lainnya, buku (dijatuhkan), buku lagi (dijatuhkan lagi), lagi-lagi buku (lagi-lagi dijatuhkan)" Shania mencoba berontak "dan.. Buku lagi (dijatuhkan lagi), HaH! She's got a be kidding me? Sok pelajar banget lu! Gak ada yang lain apa ini isi tas ny,- Ahhh, ada yang baru nih…" Shania membelalakan matanya, melihat dompet nya ada di tangan Sinka "kita lihat isi dompetnya, girls!" Vanka dan Noella semakin memperketat cengkraman mereka pada Shania yang terus berontak "widihhh, siapa nih? Wahh… ini pasti temen kampung lu yah? banyak banget nih photo, HAH! Gue robek satu, gak masalah kali yah?"
"Jangan!!" Teriak Shania
"Apa? Barusan lu ngomong apa?"
"si Shania ngomong robek aja semuanya!" Sambar Vanka
"Owhhh, okey!" Tangan Sinka mulai mengambil kuda-kuda untuk merobek
"Enggak! Jangan!! Aku mohon!!" Shania meronta,
"Dia barusan ngomong lagi? Ngomong apaan ya?"
"Katanya cepet di robek!" Giliran Noella yang memanasi
"Gimana kalau... gini cara ngerobeknya (Sinka mulai merobek pas photo Shania saat dengan Beby di tempat jajanan pinggir jalan ketika di Jogja) biar greget!!" Dengan tersenyum puas Sinka menunjukan hasil robekannya tepat di depan wajah Shania. "keren kan? Hasil sobekan gue! Lu... disini (lempar sobekan photo Shania) dan dia... disana (giliran sobekan photo Beby) dan kalian... harusnya kaya gini!! (Photonya diinjak dan di putar-putar oleh kedua kaki Sinka)"
"Kalian... (Shania menangis), Keterlaluan!!". . . . “Aku gak pernah cari masalah sama kalian! Tapi kalian?!,-”
“Adu-du-duh… Shania yang malang! Hahahaaa” Sinka tertawa kejam, diikuti Vanka dan Noella yang sedang memegangi Shania.

Kembali, saat Sinka akan merobek photo kedua, Octy tiba-tiba datang, dengan dikedua tangannya membawa ember kecil "cuma ini yang aku dapat!" Ucapnya sambil mengangkat ember yang berisi air bekas pel an OB sekolah.
"Aduh! Lama lu keluar, cuma dapat kaya ginian?!" Kata Sinka
"Tahu nih si Octy, Loading banget!" tambah Noella
"Tapi... gak apa-apalah Sin, siapa tahu aja Shania belum cuci muka, iya gak Shan?" Ujar Vanka sangat penuh dengan maksud.
"Bener juga kata Vanka, ya udah deh, sini!" Sinka menyambar satu ember, dan photonya dia jatuhkan "gue… udah bilang dari awal, kalau gue, Sinka Juliani! GAK SUKA nerima pe..no...lakan!!" Lalu. . . *byuuurrrr* satu ember air bekas itu mengguyur wajah Shania, dengan Vanka dan Noella sebelumnya melepaskan genggaman mereka pada Shania.

Octy, Vanka dan Noella tertawa terbahak; diwajah Shania kini, air matanya sudah bercampur dengan air bekas pel lan.

"Sin, satu lagi nih.. tanggung!" Ucap Octy terlihat lugu, Dengan senyum sinis Sinka menerima dan kembali dia mengguyurkannya ke wajah Shania.

Setelah puas mengerjai Shania, kertiganya mulai meninggalkan Shania dengan sebelumnya menghapus jejak terlebih dahulu.
"Gue udah coba baik, lu nya yang gak mau baik-baik! jadi aja, keceplosan ngerjain lu kayak gini!!” Sinka benar-benar memasang wajah begitu sinis pada Shania. “denger yah, gadis kampong! Kalau lu buka mulut, sama siapapun!!maka… akan ada hal lain yang lebih mengerikan yang akan menyambut keseharian lu, dan perlu lu ingat, selama lu masih keras kepala untuk stay di sekolah ini, jangan pernah kapok ketemu sama gue! Oh ya… Sama satu lagi, jangan bilang, kalau gue gak pernah ngasih peringatan sama lu!!! Okey manis " Sinka lagi-lagi membuat kedipan jahat di bola matanya untuk Shania.

Pergerakan kaki ke 4 murid yang cukup di segani oleh murid lainnya itu, perlahan mulai meninggalkan ruangan pengap yang hanya menyisakan Shania, yang masih terisak dengan rasa marah, malu, benci, perasaan yang campur aduk tentang perlakuan Sinka dan teman-temannya.

ini mungkin akan menjadi hari yang tidak akan pernah bisa Shania lupakan dalam masanya mengejar mimpi. Isi tas yang keluar semua, pas photo yang dirobek, kata-kata halus yang menusuk, ancaman tak terlihat, dan… guyuran air bekas Pel lantai, menyambutnya di pagi hari yang cerah ini.
Sambutan hangat matahari milik duniapun, seakan terasa dingin membekukan hatinya. Dalam keadaan seperti sekarang ini, Shania hanya bisa menangis sendirian di ruangan penuh debu itu, dia berjalan pelan kedekat tasnya, mengambil photo-photo yang belum sempat dirobek Sinka, dan juga mengambil photo yang sudah di robek, dia menatap sosok sahabatnya itu dengan ditemani air mata kepedihan.


"SHANIA!!..." teriak Beby dengan keringat dingin membasahi kening dan lehernya
"Bebyyyy... lihat Mama bawai..n,- sayang, kamu kenapa?" Tanya Mama yang memasuki kamar rawat Beby dengan membawa semangkuk sup plus segelas susu putih, Mama sesegera mungkin menyimpan nampan berisi sarapan untuk Beby itu, dan duduk di sebelah putrinya dengan wajah cemas begitu tergambar jelas
"kamu kenapa, sayang? Kepala kamu sakit lagi?" Beby yang masih mengatur nafas saat terbangun dari mimpi buruknya tentang Shania yang baru saja dia alami, hanya menggeleng pelan menjawab Mamanya, "Perut kamu mual lagi, atau.. apa yang kamu rasain? Mana yang sakit sayang?!" Mama benar-benar begitu mencemaskan putri tunggalnya itu.

Beby kembali menggeleng dengan kali ini sudah bisa mengatur nafasnya sendiri, "Beby gak apa-apa Mah, cuma..-" Beby menatap lekat wajah lelah dibalik kesedihan sang Mama.
"Cuma.. apa sayang?" Potong Mama
"Hemm--- Maamaa.. stop worry about me!” ucapnya menggantikan kalimat sebelumnya yang dia pungkas “Beby tahu Beby sakit, tapi Beby mohon, jangan perlakukan Beby kaya orang sakit Mah! Mama tahu? sakit Beby itu gak ada apa-apanya, dibanding dengan melihat raut Mama yang seperti ini, kelelahan Mama, kesedihan Mama, itu rasa sakit buat Beby!!" Beby menggenggam kedua tangan Mamanya "Beby sayang sama Mama, Beby gak mau lihat Mama nangis, apalagi cuma buat nangisin Beby (mata Beby berair)".

Beberapa bulan terakhir ini, Mama selalu menjalani kehidupannya dalam sergapan rasa was-was, memikirkan putrinya yang dijamahi rasa sakit. Mama memeluk Beby dengan tangis mengalir di pipinya "kamu itu.. bukan 'cuma' kamu itu segalanya buat Mama, Mama rela memberikan apapun untuk melihat kamu tersenyum bahagia sayang, Mama rela bertukar tempat dengan kamu, merasakan sakit kamu!"
Beby menggeleng "Beby yang gak akan rela! Beby ikhlas menerima takdir Beby dari Tuhan Mah, Beby anak Mama yang kuat kan? Beby kuat karena Mama juga kuat, Beby sayang Mama... karena Tuhan!" Mama mengencangkan pelukannya "Mama jangan nangis lagi ya? Kalau Mama nangis, siapa yang akan bikin Beby senyum? :’) Air mata Mama, kesedihan buat Beby.. Senyuman Mama, itu kekuatan buat Beby! Senyumlah Mah… kasih Beby kekuatan dari Mama.."
Mama melepas pelukannya dan menyeka air matanya, lalu memasang senyum untuk Beby "naaahh.. kalau gitu kan cantik, yang ini baru Mama nya Beby :')" Mama tersenyum haru dan memegang lembut wajah Beby yang sedang terlihat pucat.

Setelah kejadian Beby pingsan di sekolah waktu itu, dan beberapa rentetan rasa sakit yang terus menjamah kepalanya yang kadang diikuti rasa mual yang begitu hebat. Mama membawa Beby ke rumah sakit tempatnya bekerja sebagai perawat. Disana Beby diperiksa, sampai dilakukan tes darah untuk mendapat hasil yang akurat. 3hari menanti hasil Laboratorium. . . Dengan hasil yang sangat mengejutkan untuk Mama yang pertama kali tahu apa yang membuat putri semata wayangnya mengalami gangguan di kepala akhir-akhir itu, Mama menangis tidak percaya dengan skenario yang sudah dibuat oleh Tuhan untuk kehidupannya, Beby mengidap Kanker otak, penyakit yang sudah terlebih dahulu merenggut Papa Beby, orang yang juga sangat dia sayangi selain Beby, dari jalannya menempuh kehidupan.

Sempat menyalahkan keputusan Tuhan, Mama mencoba menutupi apa yang diderita putri tunggalnya itu, Beby hanya tahu kalau dia Tidak apa-apa dan apa yang dia alami tentang rasa sakit di kepalanya… hanyalah sakit kepala biasa karena kecapean. Tapi, sepintarnya menyimpan suatu kebohongan, tidak pernah ada yang abadi, pasti semua terbongkar pada waktu yang tidak diduga. Beby tahu kalau ada yang tidak beres di tubuhnya, dia mencoba mencari apa yang dia rasa, secara kasar (searching, atau sekedar Tanya-tanya pancingan ke teman-temannya Mama di rumah sakit), dan akhirnya… Beby menarik kesimpulan sendiri, dan mulai menelusuk Mama secara perlahan untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya sedang dialami tubuhnya.

"Oh, ya.. tadi kamu kenapa sayang?" Tanya Mama kembali
"Beby... Beby mimpiin Shania Mah" jawabnya
"Kamu kangen ya sama dia?" Beby mengangguk, "Mama telponin ya? Biar kamu bisa ngobrol sama dia! Sudah sebulan lebih juga kan, Shania tidak main kesini!?"
"Ah, gak usah Mah.. nanti... nanti Shania tahu lagi soal Beby! Mana selama ini Beby udah susah-susah nyembunyiin penyakit Beby dari Shania lagi, ntar sia-sia dong Mah" Beby masih sempat menyunggingkan senyum lebarnya pada Mama "… emmm,.. Lagian... kayaknya Shania marah deh Mah, sama Beby! Karena akhir-akhir ini.. Beby jarang menghubunginya dan bahkan Beby sangat jarang mengangkat telpon dari Shania., . . . Tapi, ada bagusnya juga sih :'-) Beby gak perlu ngelak dari Shania, iya kan Mah?!" Katanya diikuti senyum luka.

Mama menatap lembut Beby "memangnya, kalau Shania tahu soal kondisi kamu kenapa?"

Saat Beby sudah tahu kalau dirinya sakit keras, dia meminta pada Mama nya untuk tidak memberitahukan soal ini pada Shania, Subhan, Aji dan atau teman-teman lainnya. Dengan alasan, dia tidak mau melihat orang-orang yang dia sayangi menjatuhkan air matanya, dan juga mengasihaninya karena dia sakit. Bahkan, Beby masih sempat meyelipkan candaan kalau dia yang pertama kali tahu soal tes darah tubuhnya, soal penyakitnya, dia juga pasti tidak akan memberitahukan pada Mama nya. Tapi sayangnya, kedok itu tidak bertahan lama untuk orang di sekitar Beby yang secara fisik dekat dengannya, Subhan, Aji dan mungkin satu sekolah sudah tahu soal sakitnya Beby.

"Kasihan Shania sayang, dia itu sahabat kamu.. masa dia yang justru tidak bisa tahu soal keadaan kamu, jangan tiru apa yang dulu Shania lakukan sama kamu (menyimpan rencana kepindahannya), dia berhak tahu apa yang sedang terjadi sama kamu, kamu berhak merasakan bahagia bersama sahabat kamu! Jangan menutupinya, karena suatu hari nanti... semuanya akan tetap ketahuan juga kan? dan Shania pasti akan ngerasain sa,-"
"Kalau begitu, biarlah waktu yang membisikan pada Shania tentang Beby Mah, seperti waktu Beby tahu apa yang hadir di tubuh Beby!" Beby memotong ucapan Mama "karena apa yang Beby lakuin sekarang... gak sama dengan apa yang Shania lakuin dulu! Shania menyimpan untuk diberitahukan disaat dia move, sementara Beby... Beby ingin menyimpan dan total mengubur semuanya, agar Shania tidak bisa tahu! Shania udah punya kehidupan lain di Jakarta. Jogja itu masa lalunya Mah, dan Jakarta.. itulah masa depannya. Masa depan Shania... si gadis yang selalu penuh keriangan dengan senyum khasnya!! :')" senyum haru Beby membuat Mama merasakan perih di dalam hatinya, mendengar pernyataan Beby.

Suasana rumah sakit pagi ini, masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Saat Beby harus dirawat inap karena kekebalan tubuhnya tidak mampu menjaga ke stabilan kondisinya, dia terpaksa dan dengan paksaan harus diinap. Karena kondisi sakitnya sekarang, untuk Beby yang sudah pernah melakukan satu kali operasi, mencoba membunuh sel kanker yang baru diam di stadium 2 kala itu, namun tidak mendapat hasil yang diinginkan. kondisi tubuhnya haruslah selalu 'fit' karena jika sakit sedikit saja, akibatnya akan sangat cukup merepotkan, seperti sekarang. Diam di rumah sakit untuk beberapa hari.

"Maafin Mama ya sayang, Mama gak bisa jaga kamu dengan baik!" Ucap lembut Mama
"Mah, berapa kali Beby harus bilang? Mama jangan mengucapkan lagi kalimat-kalimat itu!"
"Semua ini salah Mama, kalau saja Mama jaga kamu dengan baik, Mama gak perlu melihat kamu dalam rasa sakit seperti sekarang ini!" Beby menggeleng-gelengkan kepalanya "Mama udah gagal jadi Mama buat kamu, Mama bisa merawat orang lain sampai sembuh, tapi untuk anak Mama sendiri.. (Mama menunduk dan kembali untuk kesekian kalinya, Dia mengeluarkan air matanya)"
"Husssttt.. Mom please! Beby gak mau lagi denger kata-kata seperti itu dari Mama!! Mama itu... Mama terhebat untuk Beby, Mama bisa jadi Papa sekaligus Mama dalam satu tubuh untuk Beby!" Beby menitikan air matanya "Mama gak pernah gagal dalam merawat Beby! Mama selalu bisa jadi apa yang Beby mau. Mama nyediain bahu Mama saat Beby sedih, Mama ngasih Beby semangat saat tidak ada satupun yang menyemangati Beby, Mama ngasih nasehat sebagai Papa dan Mama ngasih pelukan hangat sebagai Mama dalam satu waktu bersamaan! Kurang hebat apa Mama Beby?! " Beby menyeka air mata Mamanya "jangan nangis lagi ya Mah,  nanti kalau air matanya habis gimana? Mama nanti gak bisa nangis di pemakaman Beby dong :'-)" canda Beby, yang akan menjadi kenyataan, namun entah kapan waktu datangnya.

Mama memukul lembut bahu Beby mendengar candaan yang menyakitkan seperti itu.
"Sarapan dulu ya? Tuh lihat sup nya jadi dingin kan, karena dari tadi ngobrol terus!"
"Gak apa-apa, coba deh sup nya angkat, simpan di tangan Mama, pasti langsung hangat lagi " senyum Beby disambut oleh Mama.


Aku hanya bisa terdiam dengan perlakuan mereka semua! Ada apa dengan hidupku belakangan ini? Kenapa? Apa yang salah dengan cara ku?!

Shania menangis merasakan kepedihan yang entah bisa dia bagi dengan siapa, ia terduduk sendu tanpa tahu harus melakukan apa. Photo itu... wajah di photo yang sudah robek itu... masih bisakah dia dijadikan tempat berbagi, seperti dulu? Kenapa harus ada sekarang? Kalau dulu saja sudah cukup membuat hati bahagia?! Apa seperti ini kehidupan? Aku butuh kamu. . . Beeby

"Kalau lu terus nangis, mereka akan semakin senang, memperlakukan lu kaya gini!"
Seorang murid perempuan berjongkok memunguti buku-buku dan lainnya yang harusnya diam di tas Shania. Shania menoleh kearah murid itu, "Tas nya agak basah, tapi gak apalah entar juga kering " senyumnya sambil menyodorkan tas kedepan Shania yang masih dalam posisi duduk bersimpuh.

"Ooochi.." dengan rada sesenggukan Shania menyebutkan namanya.
Ochi tersenyum mendengar Shania menyebutkan namanya, "iya! Gue Ochi, dan lu Shania kan? "
Shania mengambil tas yang didalamnya sudah terisi kembali oleh barang-barang sekolah miliknya "kamu... ngapain disini?" Tanyanya dengan menyeka bekas air mata
"Nontonin orang... apa ya? emm- gue harus nyebut lu apa ya?" Pura-pura berpikir Ochi menjawab "orang lemah? orang sabar? orang penakut? atau.. orang bego aja kali ya!?" Lanjutnya, membuat Shania mengerung. Hatinya sempat kembali berpikir kalau dia akan kembali mendapat bully-an dari murid yang berbeda tapi kali ini teman satu kelasnya.
"Lu gak seharusnya dapat perlakuan kaya tadi dari Sinka sama teman-temannya!". . . "Gue yakin kok, lu bisa ngelakuin sesuatu untuk melawan atau sekedar menghindar dari aksi belagu mereka!!"
Shania tidak sedang ingin berpikir untuk menebak apa yang sebenarnya ingin Ochi sampaikan, dia masih merasakan rasa sakit dan malu dalam waktu bersamaan karena ulah beberapa gadis kota yang senang mencari musuh.
"Tangisan lu, malah bakal bikin mereka makin greget buat ngelakuin hal yang sama di lain hari! photo itu.. bisa lu cetak lagi kan? jangan melemahkan diri hanya karena sebuah gambar yang kenyataannya masih bisa lu jumpai!" Ucap Ochi, karena saat memperhatikan Shania, dia melihat Shania begitu sedih ketika Sinka merobek sebuah photo, yang tadi sempat Ochi lihat waktu memasukan barang-barang yang keluar dari tasnya Shania.

"Sebenarnya maksud kamu apa sih? Apa kamu juga sama kaya mereka!?" Tanya Shania akhirnya,
"Gue gak ada maksud apa-apa, cuma gerah aja, lihat orang sok lemah hanya karena sebuah gambar mati!"

"Gambar mati?... hmm-- gambar yang kamu bilang mati ini... hidup buat aku! Ini tuh namanya kenangan, ini gerak dalam otak aku!" bela Shania untuk menjawab.
"Karena kenangan itu... makanya lu jadi lemah dan diperlakukan tidak seharusnya oleh mereka!!" . . . ."Siapapun dia, orang yang ada di sebelah lu, gak seharunya bikin lu lemah! Dia yang harusnya bikin lu kuat!!". . . ."Buat apa lu nangisin orang yang bikin lu lemah!? Sementara di kehidupan yang lagi lu jalanin sekarang, lu di incar oleh orang-orang tak berotak bahkan tidak mempunyai hati, mereka bukan cuma bisa merobek kertas bergambar itu, dan juga menyiram lu pakai air bekas kaya tadi.. mereka bisa ngelakuin hal yang lebih dari sekedar merobek dan menyiram, sama lu!" Shania diam dalam kesal dan ketidak mengertian pada ucapan yang sedang dirangkai Ochi.

Ochi itu... saat pertama bertemu dengan Shania di kelas, pagi pertama berseragam putih-abu. Dia diam-diam memperhatikan tingkah Shania yang berusaha mendekatkam diri pada teman-teman lainnya, meski tidak pernah mendapatkan sambutan selamat datang yang hangat, tapi dia tetap selalu berusaha untuk bisa berbaur. Dia dan Shania duduk bersebelahan, pernah beberapa kali Shania mencoba menjalin komunikasi dengannya, tapi itu tidak pernah berakhir dengan obrolan seru. Ochi yang dalam pandangan Shania sama saja dengan yang lainnya, yang hanya menganggap keberadaannya antara ada dan tiada, membuat Shania pada akhirnya menyerah pada keadaan yang sedang berjalan di sekitarnya. Shania menanamkan kalimat "dia mau ngobrol, aku temenin. Dia mau diem, aku diemin!" Dalam otaknya. Tidak ada keinginan menggebu dalam dirinya untuk mencari sosok teman.

Semakin hari... setiap pergantian tanggal, Shania semakin diam dan hanyut dalam dunianya sendiri. berteman dengan smartphone saat istirahat (telponan dengan Beby, dan kadang suka ikut nimbrung Subhan dan Aji), menenteng sebuah novel dengan judul yang sama yang sepertinya tidak habis-habis dia baca, menyibukan diri agar terlihat kalau dia tidak butuh sosok teman karena dia sudah punya teman yang bisa diajak enak dalam segala hal. Dan tiba… masa dimana Shania mulai mendapat lirikan dari bullyer. Ochi ingin membantunya, setiap dengan atau tanpa sengaja dia melihat Shania sedang diintimidasi oleh murid lain (seringnya sih Sinka cs), tapi Ochi tidak langsung membantunya, dia hanya memperhatikan bagaimana Shania mengambil sikap dalam meladeni murid-murid itu. Ochi ingin tahu apa yang membuat Shania selama beberapa minggu bahkan menginjak hitungan bulan, bisa tetap kuat dengan intimidasi yang di lancarkan lawan padanya. Dan sekarang, pagi ini.. Ochi sepertinya bisa tahu, siapa orang yang sudah bisa membuat Shania bertahan tidak melawan, saat dia disudutkan. Orang itu..., orang yang ada di photo, di photo yang sudah di robek oleh Sinka, di photo yang kini tengah ditangisi oleh Shania, dialah yang sepertinya membuat Shania bertahan tidak melawan pada apa yang ditimpakan ‘teman-teman’ satu sekolahnya.

"Bentar lagi jam istirahat! Kalau lu mau keluar dari sekolah ini tanpa keliatan murid lainnya, sebaiknya sekarang lu keluarnya! Gue bisa bantuin lu... itupun kalau lu mau!?" Ucap Ochi setelah beberapa menit sebelumnya saling diam. Shania belum menggubris, dia masih menebak apa yang sebenarnya sedang Ochi lakukan padanya, "kalau emang gak mau dibantuin, ya udah. Gue pergi!... jangan terlalu lama diam diruang gelap yang pengap kayak gini, entar hati lu ikut gelap!" Lanjutnya sambil berjalan meninggalkan ruangan kosong penuh debu itu.

"Tunggu! mmm-- aku emang gak tahu apa maksud kamu berkata kaya tadi, tapi.. sepertinya kamu bukan salah satu dari Sinka, atau bagian lain yang kaya Sinka sama teman-temannya!!" Ochi menghentikan langkahnya "kalau kamu mau bantuin aku keluar dari sekolah ini... aku mau, aku mau dapat bantuan dari kamu!" dengan masih terduduk Shania mengucapkan kalimatnya. Ochi menyiratkan segores senyum tipis saat mendengar pernyataan Shania, dia membalikan badannya dan berjalan mendekat ke Shania.

"Gue bantu.. " dengan senyum Ochi mengulurkan tangannya,
Shania meraih tangan itu "makasih... kamu bantuin aku!"
"Gak masalah, oh ya.. soal ucapan gue yang tadi, gue minta maaf ya? Tadi gak ada maksud-maksud apa-apa kok! Gak ngeledek lu, gak juga ngejek orang yang ada di photo itu" Shania hanya menatapkan matanya pada Ochi "gue cuma gak suka aja, liat orang lemah ataupun sok lemah, padahal dia bisa ngelakuin sesuatu!" Shania hanya tersenyum untuk membalas ucapan Ochi.

"hemm-- Kamu... beda ya?" Ucap Shania.
keduanya mulai berjalan meninggalkan ruangan kosong yang hanya menjadi saksi bisu atas apa yang telah Shania terima.
"Beda? Apanya yang beda?" Heran Ochi
"Udah mau kelas XI, selama ini kita duduk sebelahan, tapi baru kali ini aku ngerasa bisa bicara sedekat ini sama kamu!" Papar Shania
Ochi tersenyum kecil "itu sih.. karena lu nya aja yang suka sibuk sendiri! Sibuk sama suara dari smartphone lu, sibuk sama novel lu, sibuk memikirkan pandangan orang lain sama lu, lu serba sibuk dalam garis lu sendiri, jadi, lu gak bisa memperhatikan lebih detail apa yang ada di sekitar lu!!" Jawab Ochi dengan penjelasannya. Shania diam, menurutnya.. apa yang diucapkan Ochi tentangnya ada benarnya juga.

Berjalan dilorong belakang sekolah, tanpa ada satupun yang memperhatikan keberadaan Ochi dan Shania, keduanya terus menembus jalan belakang untuk bisa keluar dari sekolah. Jalan rahasia itu... jalan yang Ochi temukan saat dia mengikuti Ospek dan menghabiskan waktunya sendirian tanpa ada yang dia kenal ataupun mengenalnya.


---
Malam ini... ditemani sinar benderang bintang nan jauh diatas sana, Shania kembali mencoba menghubungi sahabatnya. Dia mencoba menghubungi Beby lewat saluran telpon biasa, tidak memakai video call. 1 kali. . . . Tidak ada jawaban, Shania masih bersikap biasa. 2 kali. . . . Tidak ada juga jawaban, Shania merasa cemas dan campur aduk perasaannya menebak 'ada apa dan kenapa sebenarnya dengan Beby? Yang sangat dia rasa kalau Beby sedang menjauhi dirinya!'. 3 kali. . . . Tidak lagi mendapat jawaban, Shania mengambil jalan lain untuk komunikasi. Dia mengirimi Beby chat 'Hai... Beby ' ada tanda read, tapi tidak ada respon.
'Kamu lagi ngehindarin aku ya? Kenapa!?' Lagi, dia kirim Chat lagi. Masih seperti chat pertama, ada tanda read tapi tidak ada respon.
'Apa... ada kata-kata aku yang nyakitin kamu, pas kita terakhir ketemu?' . . . . .
'Kamu kenapa? Apa yang salah dari aku Beby? Jawablah? Aku mohon! Aku...' Shania mengirim chat dengan menghentikan dulu ketikannya, 'Aku butuh kamu... :'-( aku. . . Aku sangat butuh kamu, Beby! Aku sendirian sekarang!! :'-('. Tak terasa Shania menitikan air matanya kala ia mengetikan chat terakhirnya itu.

"Kalau kamu, gak mau angkat telponnya Shania. Setidaknya, balas lah chat nya dia sayang!" Mama memberi tahu dengan begitu lembut "ikatan batin kalian sepertinya sangat kuat , tadi pagi... kamu mimpiin dia kan? Dan sepertinya itu mimpi buruk!" Beby menatap Mamanya "dan sekarang... orang yang kamu mimpiin, coba menghubungi kamu, mengirimi kamu chat yang entah apa isinya, karena Mama tidak bisa lihat. Tapi pasti itu menyentuh! Apa kamu tidak ingin mengetahui keadaan Shania disana, sayang?" Mata Beby berair "kamu pernah cerita sama Mama. . . Kalau Mama Papanya Shania, bahkan Kakaknya yang sudah seperti Kakak kandung kamu itu, sering sekali ninggal-ninggalin Shania di rumah sendirian! Tidakkah kamu mau tahu tentang dia, yang kamu kasihi sebagai saudara itu!?" Beby terdiam, berpikir dalam-dalam "kita itu... meski dilahirkan sebagai yang sempurna oleh Tuhan, tapi kita tetaplah seorang manusia lemah, yang butuh seseorang untuk saling menolong atau mendampingi! Dampingilah sahabat kamu, sayang. dia mungkin butuh kamu sekarang, seperti kamu ... butuh dia!! " Mama tersenyum begitu sangat lembut, dengan mengelus pipinya Beby, Mama beranjak dari kursi didekat ranjang Beby.

Perasaan seorang ibu sangatlah kuat, ia bisa tahu kalau putri kesayangannya itu juga sebenarnya sangat ingin berkeluh kesah, menumpahkan isi hatinya yang dipenuhi rasa sesak karena himpitan rasa sakit di kepalanya yang seperti bom waktu itu, pada orang terdekatnya, pada seseorang yang sangat dia percayai selain dirinya yang sudah melahirkan Beby. Mama keluar dari ruangan Beby membawa nampan bekas makan malamnya Beby, sebenarnya... tidaklah perlu Mama keluar dari ruang rawat Beby dengan beralasan menyimpan bekas makan Beby, karena itu bukanlah alasan bagus. Tapi demi memberi ruang untuk Beby bisa berpikir dan mau menerina telpon ataupun membalas chat nya Shania, Mama jadi memakai alasan itu. Mama tidak ingin melihat Beby menyiksa dirinya sendiri seperti sekarang, sudah rasa sakit hebat sedang bermukim ditubuhnya, ditambah sekarang, rasa sakit yang sengaja dia pupuk dihatinya, dengan menarik diri dari sahabat karibnya.

Beby melihat handphone nya, membaca ulang setiap chat yang dikirim Shania, memikirkan ucapan Mama.
'sakit ini... boleh merenggut nyawaku tanpa ada pemberitahuan sekalipun, tapi. . . Tidak untuk merenggut persahabatanku dengan Shania! Mama benar, aku sayang sama Shania, jadi aku harus dampingi dia, tidak perduli apapun yang terjadi, aku akan tetap selalu ada untuknya!' Bisik hati Beby memupuk kekuatan. Saat Beby akan menghubungi Shania balik, Handphonenya bergetar lebih dulu, karena ternyata Shania kembali menghubunginya.. dan sekarang, tanpa perlu menunggu lama Beby langsung menggeser slide nya ke arah kanan untuk menerima telpon dari Shania.

"Halo!" Shania begitu antusias saat bunyi *tuut yang tadi dia dengar, ternyata sudah hilang dan berganti dengan mode kalau telpon sudah diangkat, "Haloo Beby! Kamu denger aku kan?" Lagi Shania bicara,
Beby merasa terharu mendengar suara Shania "Hhaa..I Shanju :'-)" balas Beby terbata
"Bebyyyyyyy.. akhirnya! Kamu ngejawab juga :'-)"
"Maaaf.. "
"Kamu emang perlu, dan bahkan harus! Minta maaf sama aku!!. . . Kelakuannya ya? Ish nyebelin tahu!!" Protes Shania dengan suara harunya, "kamu kemana aja sih? Sesibuk itu ya sekarang?! Sampai telpon dan bahkan chat dari sahabatnya sendiri, diabaikan gitu aja! Udah punya sahabat baru yang lebih segalanya dari aku ya?" cerewet Shania,
"Enggaklah, kalaupun aku punya teman lain, mereka pasti gak bisa gantiin kamu!" Puji Beby membalas
"Pujian kamu, tetap gak nembus dinding rasa kesal aku yang udah dicuekin lebih dari beberapa minggu kebelakang itu!" Kesal Shania.
"Iya dehh.. aku minta maaf! Aku salah!!"
"Hmm… Kamu belum jawab pertanyaan aku! Kamu kemana aja? Kenapa susah banget buat komunikasi sama kamu!? Kamu baik-baik aja kan?!"
Beby menahan harunya kala mendengar pertanyaan dari sahabatnya, apalagi pertanyaan terakhirnya, pertanyaan yang menanyakan tentang kondisinya, "Aku.. aku ada kok, dan... baik-baik aja! Cuma emang, kegiatan disekolah akhir2 ini terasa sangat menguras segalanya!" Jawab Beby,
Shania melamun mendengar ucapan akhir dari Beby tentang sekolah, "Disana... pasti asik banget ya Beb!" Suara Shania mulai terdengar dalam kesulitan yang dia sembunyikan "kalau aja, aku bisa sekolah disana! Pasti masa SMA ku akan sangat menyenangkan!!”. . . Beby terdiam mendengarkan “Kamu tahu? Aku butuh kamu Beby... aku gak tahu lagi, harus menyandarkan kepalaku dibahu siapa, saat kesedihan ini begitu menelusup tajam menyambangi hatiku!!!"
Beby merasakan perih saat mendengar ucapan itu "kamu bicara apa sih? Hah! tanpa adanya akupun, kamu pasti bisa menyandarkan kepala kamu dibahunya Kak Ve, Mama kamu, dan bahkan Papa kamu! Kamu juga pasti punya banyak teman yang bisa kamu ajak berbagi tawa-sedih kamu disana!!" Ujar Beby rada berbohong, karena dia tahu Shania sangat tertekan.
Shania melukiskan senyum getirnya "Haah, Papa.. Mama.. dan bahkan Kak Ve... aku.... aku sepertinya sudah kehilangan pegangan mereka, Beb!"
Beby merasa kasihan akan kisah Shania yang memang terakhir saat dia masih bisa berkomunikasi langsung secara fisik ataupun lewat telpon seperti sekarang dengan Shania, selalu mendengar keluhan hatinya tentang perlahan menjauhnya Papa, Mama dan juga Ve dari lingkupnya dalam satu udara itu.
"Coba aja, aku tetap diam disana, meski Papa dan Mama nenggelamin aku dalam kegilaan mereka pada pekerjaan, setidaknya... masih ada Kak Ve yang bisa aku jangkau, dan kamu... yang selalu bisa membuat hariku menyenangkan!!" Beby malah melamun dan ikut bermain dengan kata 'coba aja' yang sedang dirangkai Shania 'coba aja, aku gak sakit! Aku pasti bisa dampingin kamu, dampingin Mama, dampingin kalian, orang-orang paling berharga dalam kehidupan aku. Sampai nyawaku terbang dari tempatnya dengan cara Tuhan yang tidak bisa aku, atau dokter sekalipun tebak kapan akan perginya dari dalam tubuhku ini! Aku masih ingin melihat kebahagiaan kalian semua!!'
"Gak kayak sekarang, tidak seorangpun yang perduli sama aku, Beb. Bahkan disekolah pun, rasanya begitu sulit untuk aku bisa membaur dengan mereka!! Aku seperti orang buangan, yang tidak satupun diantara mereka yang mau menemani, bahkan sepertinya untuk menoleh ke arahku saja itu hal yang tidak pantas mereka lakukan!!!"

"Kamu bukan Shanju yang aku kenal!" Beby mulai menanggapi, "Shanju itu... gadis yang tidak pernah mengeluh, apalagi untuk urusan pertemanan. Shanju itu... gadis kuat dari Shakusi Jogja, yang bisa menempuh masa SMA di Ibu Kota negara kita. Shanju itu... gadis periang yang selalu membawa keceriaan, tidak perduli ketempat manapun yang sedang dia pijak. Shanju itu... gadis yang penuh pengertian dan toleransi pada siapapun. Shanju itu... gadis manis penebar senyum, yang bisa memikat orang yang melihat untuk bisa dijadikan teman. Shanju itu... gadis yang tidak pernah pilih-pilih dalam menjalin pertemanan. Dan Shanju itu... sahabat terbaik dan terindah yang Beby miliki! :'-)" Shania begitu terharu mendengar ucapan manis yang mengalir lembut dari bibir sahabatnya,
"kamu tidak pantas untuk mengeluh, Shan! Kehidupan kamu terlalu indah untuk diisi dengan keluhan!!" suara Beby menurun, dia merasakan sakit dikepalanya perlahan menyerang, mengetuk kepalanya. "Kamu pasti bisa ngelewatin semua yang merintangi jalan kamu.... (Beby memegang kepalanya yang terasa sakit) dengan.... atau tanpa aku!"
Shania tersenyum diikuti heran, karena mendengar suara Beby seperti menahan rasa sakit "Beby... kamu kenapa?" Beby tidak menjawab, rasa sakit mulai terasa intens terus menusuk dikepalanya. "Beb, Beby? Kamu baik-baik aja?" Shania terdengar khawatir,
Beby mencoba mengendalikan rasa sakit yang sedang menguasai dirinya "aaku.... aku ga..k aapa-apa...!"
Shania mencoba menerima ucapan Beby, meski terasa ganjil, dia kembali bicara "kamu.. emang selalu bisa ngasih aku ketenangan Beb, aku bahagia bisa punya sahabat kaya kamu! Makasih ya!!!"
Kali ini, Beby tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya untuk dia sembunyikan dari Shania. Dengan tanpa membalas ucapan Shania yang sebenarnya masih ingin berbagi cerita dengannya, Beby menekan tombol merah di touchphonenya, dengan sebelumnya terdengar suara rintihan rasa sakit yang di tekan agar tidak terdengar begitu gamblang di gendang telinganya Shania.

"Halo? Beby? Halo!" Shania merasa cemas, karena sebelumnya mendengar suara aneh dari Beby. "Beb, Beby!?" Shania mengedapankan Handphone nya dan melihat ternyata sambungan telponnya terputus. "Hhaaaah.. aku harap, kamu baik-baik aja disana Beby, makasih sudah mau mendengarkan keluhanku.!"

Shania memutar musik dari IPad yang tergeletak disebelahnya, sebuah lagu yang dulu sering dia dengarkan dengan Beby. Alunan musik yang membuatnya melamun memutar setiap kenangannya sewaktu di Jogja, bersama pencerah hari-harinya. Sampai dia akhirnya tertidur dengan lengkungan senyum menghiasi wajah lelah dalam kesedihan yang sebagizn kecil sudah dia bagi pada Beby.

Sementara itu, di rumah sakit.. Beby sedang diperika oleh dokternya. Setelah menutup telpon dari Shania, handphonenya jatuh dan tak lama Mama pun datang, beliau sangat kaget ketika melihat Beby sedang menahan rasa sakitnya. Segera dengan tergesa dalam ketakutan dan kekalutan, Mama memanggil dokter yang biasa menangani Beby. Hampir satu jam, dalam pemeriksaan, dan dokter pun berhasil menidurkan Beby dengan dosis dari obat yang dia berikan.
Dokter bicara sedikit pada Mama, saat dokter masuk dan melihat handphone nya Beby tergeletak di bawah, yang menurutnya itulah salah satu pemicu kenapa Beby sampai merasakan serangan dari penyakitnya dengan kekuatan yang bisa saja membuat Beby tidak bisa lagi bertahan.
"Sebaiknya, benda-benda yang memancarkan radiasi seperti HP, dijauhkann saja dari Beby!" dokter itu melihat Mama Beby yang tidak lain adalah temannya sendiri
"denger An, Sel kanker dalam tubuh Beby, setiap hari terus berkembang dan membelah untuk menyebar dan masuk lebih cepat dalam sistem tubuhnya, perkembangannya itu cepat, bahkan sangat cepat, dari yang kita duga!! Kita harus segera mengambil tindakan lebih dari pemberian obat untuk mencegah pembelahan sel itu, seperti sekarang ini. Kita tidak bisa setengah-setengah dalam mengobati kanker, operasi sudah pernah dilakukan, tapi nyatanya.. tidak bisa membunuh penyakit itu begitu saja!! ikutilah saranku, bawa Beby ke Jakarta, disana... fasilitasnya lebih lengkap, ajak Beby untuk mengikuti imunoteraphy, karena mungkin itu jalan terakhirnya!!!" Mama memejamkan matanya sejenak mendengar ucapan dari dokter.
"Kalau... masih soal biaya yang kamu khawatirkan, kamu tidak perlu terus memikirkan hal itu! Aku dan semua dokter, perawat bahkan staff di rumah sakit ini siap membantu kamu sama Beby! Kalian itu bagian dari keluarga besar rumah sakit ini!!"

"Bukan soal itu, dok. Saya tahu... untuk biaya, pasti tidak akan menelan biaya yang sedikit, tapi saya akan selalu berusaha melakukan apapun agar Beby sembuh."
"Lantas? Apalagi?"
"Ini soal kekuatan dari Beby sendiri, untuk bisa melawan sakitnya itu. dan... Beby bukanlah orang pertama yang sakit kanker, ada Papa nya.. ada Papa nya yang lebih dulu terkena penyakit itu, Papa nya yang begitu kukuh berjuang untuk bisa sembuh tapi pada akhirnya.. " Mama hanya bisa menunduk sesak menceritakan kisah Papa
"Setiap orang... punya jalan kehidupan masing-masing! meskipun dalam keluarga kamu, ada Papa nya yang lebih dulu menderita karena penyakit itu, bukan berarti Beby akan mengalami hal yang sama dengan yang Papa nya alamin (meninggal pada akhirnya, setelah perjuangan melawan kankernya).; Berjuang itu perlu, untuk menunjukan sama Tuhan, kalau kita tidak pernah menyerah akan apa yang Dia berikan. Semua orang... semua yang hidup didunia ini, akan meninggal! Hanya cara dan waktu kepergiannyalah yang tidak kita ketahui, karena itu rahasia Tuhan!! Tabahlah untuk putrimu, dia membutuhkanmu lebih dari kamu membutuhkan dia untuk tetap bisa hidup dan berjuang dalam sakitnya, Beby anak yang kuat, maka dari itu.. kamu harus lebih kuat dari dia " nasehatnya begitu membuat Mama Beby terhanyut, apa yang dokter bilang tidak ada salahnya.

Mama masuk kedalan kamar Beby, duduk disebelahnya, membelai rambut hitamnya, menangis dalam hati, merasakan kesesakan yang teramat sangat memikirkan bagaimana agar putri kesayangannya ini bisa tetap ada disampingnya, sampai nanti... nanti saat beliau terlebih dulu yang melambai pergi pada Beby.



***
Komunikasinya yang total dia putuskan dari Beby, setelah percakapan terakhir yang menimbulkan tanda Tanya di benaknya, dan pertemuan yang direncanakan Shania karena ada pertanyaan itu, tanpa di duga.. ternyata itu menjadi pertemuan terakhirnya dengan sang sahabat. Pertemuan yang diakhiri dengan timbulnya rasa kesal di hati Shania,, atas apa yang dia lihat kala menemui sahabat kecilnya itu. Karena kesepian dan rasa terasing yang di alami Shania didalam rumah, membuat sosoknya kini jadi begitu sensitive dan merasa kalau dunia tidak berpihak padanya, dan ditambah apa yang dia lihat pada Ibunya saat sedang berada di luar rumah, kerap kali membuat Shania hanya bisa menahan amarah tanpa tahu harus dia lampiaskan pada siapa, atau sekedar berkeluh kesah dengan siapa. Dan kini… Shania tidak lagi mau menghiraukan apa yang membuat hatinya sakit; tidak Papa, Mama, Veranda, dan atau Beby sekalipun. Dia sekarang lebih asik dengan apa yang ditunjukan Ochi padanya, tentang persahabatan baru, tentang kesamaan nasib yang ditinggal-tinggal bahkan hampir diabaikan keberadaannya oleh orang tua mereka, tentang adanya penghianatan oleh orang yang dulu begitu dia percayai, dan tentang kesamaan lainnya yang mulai mereka temukan seiring dengan seringnya mereka mengungkap sebuah cerita dalam perjalanan hidupnya. Karena setelah pertolongan pertama di hari kelam itu, di sebuah ruangan kosong yang membisu, Shania dan Ochi mulai dekat, seperti baru pertama kali mengenakan putih-abu, Shania bisa menemukan teman untuk menemani kesehariaannya, dan bahkan bisa Shania pakai untuk menenggelamkan nama beby di dalam alur hidupnya.


Beberapa kali, setelah bully an terakhir Sinka pada Shania waktu itu, dia selalu mendapat perlawanan dari Shania. Perlawanan yang diperlihatkan Shania tidaklah ekstrim (menghindar dari Sinka dengan sebelumnya mengucapkan kalimat pedas yang berhasil membuat Sinka terbakar) seperti bully-an yang dilancarkan Sinka. Namun satu hari, saat Shania sedang asik bercanda dengan Ochi di dekat kolam air mancur halaman depan sekolah, dia kembali di datangi oleh Sinka dan teman-temannya yang kali ini, Sinka langsung membawa backingan Kakak kelasnya untuk menyerang Shania. Ochi pernah bilang pada Shania, kalau tingkah menyebalkan yang sering di perlihatkan Sinka ataupun murid-murid sebangsanya yang suka menindas murid lain, tidak terlepas dari yang namanya senior. dengan uangnya, mereka bisa membayar senior yang memiliki pengaruh besar (ditakuti) di seantero Sekolah, untuk menjadi pelindung atau penyerang demi kepuasan mereka menaklukan murid yang tidak mereka sukai.

"Ada apa lagi nih?" Tanya Ochi pertama kali
"Diem lu! Gue gak ada urusan sama lu!! Gue ada urusannya sama dia!!!" Sinka menancapkan pandangan tajamnya pada Shania.
Saat Ochi akan kembali bicara, Shania menghentikannya.
"aku pikir, kalian mau udahan jadiin aku mainan! Tapi ternyata... kalian masih terus mancing kesabaran aku!!" Ochi melihat Shania yang memasang tampang tidak seperti biasanya saat menghadapi Sinka "mana sekarang, pake bawa-bawa senior lagi!"

"Gue gak suka sama gaya lu! Selama lu masih ada di sekolah ini, selama itu juga gue bakal terus bikin lu gak betah sekolah disini!!" dengan belagunya Sinka bicara.

Shania tersenyum sinis menanggapi ucapan Sinka, "terus? kamu pikir.. aku akan terus diam selamanya? Kesabaran itu ada batasnya! jangan bikin apa yang sudah kamu rencanain malah balik nyerang kamu!!" Ochi merasakan kegelapan yang ditunjukan Shania; Sinka geram akan apa yang dia dengar.
"Kalian.. dibayar berapa sama dia?" Lanjut Shania yang kini mencoba menjalin komunikasi dengan senior guard nya Sinka "aku... bayar kalian 4kali lipat, dari yang sudah dibayarkan Sinka sama kalian, Gimana?" Tanpa banyak apapun lagi, Shania langsung menawarkan. Ochi merasakan senang saat mendengar ucapan Shania, dia merasa inilah titik balik dimana kesabaran dari seseorang yang merasa kesepian membuncah; Sinka melebarkan matanya mendengar perkataan Shania.
"Kalau kalian setuju, aku mau... kalian bawa Sinka sama temannya-temannya ke ruangan kosong yang ada di pojok sekolah!"
Senior yang jumlahnya 8orang itu, saling berbisik sejenak lalu... mereka menyekap tangan Sinka dan teman-temannya dan menyeret paksa mereka ber4 ke tempat yang diminta oleh Shania, tanpa banyak pertanyaan atau pernyataan.
"Heh! Apa-apaan nih?" Berontak Sinka "gue udah bayar kalian ya! Lepasin tangan gue!?! Gertak Sinka "jangan kalian dengerin apa yang dia ucapkan! Dia itu gak punya apa-apa!!" Shania dan Ochi hanya melukiskan senyum sinisnya.

"Sorry Sin, ada yang lebih dari apa yang lu berikan! Gue ikutin mana yang lebih!!" Jawab seorang senior, lalu membawa Sinka dan teman-temannya ketempat yang ditunjuk Shania.

"PELANGI DALAM SAKURA" CHAPTER 7

 
Pelangi Dalam Sakura



 
"gue, Ochi!" ucap, murid perempuan yang memiliki tinggi badan yang sama dengan Shania.

"aku, Shania.." balas Shania

"lu, ga ikut ospek ya kemarin?"

Shania menggeleng, dengan matanya masih melihat ochi

"owhh.. pantes, gak lihat!"



Ochi inginnya mencoba mengakrabkan diri pada Shania, namun tak lama seorang guru datang, yang ternyata guru itu adalah wali kelas untuk kelas mereka sekaligus guru bahasa inggris. Semua siswa terlihat begitu tenang tak bergemuruh, hanya alunan nafas mereka yang berbisik, saat guru yang berperawakan kecil, terlihat masih muda dan cantik, tapi begitu penuh karisma itu memperkenalkan dirinya pada murid-murid yang akan berada dibawah tanggung jawabnya.



"selamat pagi anak-anak.."

"pagiiiii….. bu" secara serempak dan senada mereka menjawab, dengan suara yang lebih didominasi oleh suara dari murid laki-laki. 
"hmm.. kok gak ada semangatnya? ini hari pertama loh!" basa-basi guru mungil berkulit putih itu, dengan wajah dipenuhi senyum bahagia. 
tidak ada tanggapan, semua murid diam. mungkin karena ini hari pertama, jadi masih mencoba meraba untuk beradaptasi. 
"kira-kira... dari kalian ada yang sudah tahu nama ibu?" ibu wali kelas mencoba membuat jalan untuk anak muridnya bisa mengeluarkan suara.
"ibu.. Kirei!" dengan lantangnya seorang murid laki-laki berbicara, membuat guru bahasa inggris itu melengkungkan senyum, karena sepertinya pancingannya berhasil membuat murid-murid siap berbicara.
"salah, weii!" sambar murid laki-laki lainnya "ibu itu... namanya, ibu... Melody! Iya kan?!” lanjutnya begitu percaya diri.
"huuuh, sok tahu lu!" ikut lainnya, hanya murid laki-laki yang rame bicara, sementara murid perempuannya belum ada yang terlihat ingin bicara, mereka hanya ikut menyoraki saja.
"ya tahu lah, lu kemarin pas Ospek gak pada baca buku panduan sekolah ini apa ya? disono jelas banget ada profil, guru-guru sama staff sekolah ini!" jawabnya
"iya, dan gue juga tahu.. yang lu lihat pasti staff sama pengajar yang cantik-cantik gitu kayak Bu Melody, iya kan?"
"ya iyalah.. gue kan masih normal! gile aja lu gue baca-baca profil staff sama pengajar yang bapak-bapak!!"
Semua murid bersorak ria menanggapi murid tersebut. sementara Ochi, hanya tersenyum sambil menggeleng melihat tingkah teman-teman sekelasnya. Shania tak berkomentar, tak bereaksi, dia tidak terlalu focus pada apa yang sedang bergemuruh di kelasnya. Ochi melihat Shania, dia terhenti sejenak dan terus melihat Shania sambil memikirkan sesuatu. 
"Sudah-sudah, kenapa ramenya jadi seperti dipasar!” kata Melody, menghentikan adu argument murid-muridnya. 
Seketika mereka diam, menuruti apa yang dikatakan gurunya. 
"iya! Nama ibu Melody, dan mulai hari ini.. ibu menjadi guru bahasa inggris.. sekaligus, ibu juga di berikan tanggung jawab oleh pihak sekolah untuk menjadi wali kelas kalian!" lanjutnya begitu mantap. Semua murid terlihat senang dan antusias dengan apa yang di ucapkan Melody.
"2jam ini, ibu tidak akan memulai pelajaran dulu. Karena Ibu mau tahu dan kenal terlebih dahulu sama murid-murid ibu yang penuh semangat ini! Bagaimana? Ada yang berani maju untuk memulai? Atau, ibu panggil sesuai absensi!?"
Dengan cepat seluruh siswa di kelas mengangkat tangannya, kecuali ochi dan Shania. 
"hmm, ibu mau... kamu yang maju lebih dulu!" ucap Melody dengan telunjuk tangannya dia arahkan pada Shania yang duduk bersebelahan dengan ochi. Teman-teman lainnya langsung mengarahkan pandangan mereka pada Shania.
Shania melangkahkan kakinya kedepan, dengan raut muka yang tidak ada semangat sama sekali. Ibu Melody memperhatikan muridnya itu. Dia menghela nafas sebelum memulai perkenalannya
"hai semua… nama aku Shania junianantha, aku dari SMP N 4 Shakusi Jogjakarta. . . . mmm, kalian bisa panggil aku Shania, Terima kasih!” Ucap Shania, dengan diakhiri membungkukan badannya. 
"ada hal lain yang mau kamu katakan Shania?" Tanya Melody, Shania melihat kearah wali kelasnya itu, lalu menggeleng.
"ada yang mau ditanyakan? Pada Shania!" Melody beralih pada murid lainnya.
Seperti tingkah murid laki-laki kebanyakan, mereka saling berebut mengacungkan tangan nya untuk bisa bertanya pada murid perempuan, untuk sekedar mencari perhatian.
Perkenalan terus berlanjut hingga 2jam tidak terasa. Setelah perkenalan, berlanjut ke obrolan lain, dan. . . pemilihan murid-murid yang akan bertanggung jawab atas kelas X-4 selama satu tahun kedepan.
***
"Gimana Jakarta? Enak gak tinggal disana?!" 
Subhan membuka obrolan kala ia hanya berdua dengan Shania. 
Mereka ber empat sedang bermain di pesisir pantai kala Shania main ke Jogja, dia mengajak Subhan, Aji dan juga Beby untuk bermain ke pantai menggunakan mobilnya.
"Emmm-- enakan disinilah! Ada Beby, tante Ana, ada kalian juga " jawabnya dengan diakhiri memandang Subhan
"Emang disana kenapa?"
"Disana... aku selalu merasa sendiri Chub, di sekolah juga, aku gak bisa punya banyak teman. Seolah mereka sedang menghakimi aku yang hanya seorang gadis dari sudut Jogja, yang tidak setingkatan dengan mereka!" Kesahnya dalam jawaban "mereka dekat kalau aku punya segalanya, tapi... kalau aku tidak punya apapun mereka pasti akan menyingkirkan aku. Haaahh-- Jakarta terlalu menuntut harta, bahkan untuk seorang teman :'-)"
Subhan melihat Shania "kamu pasti bisa melewati semuanya, kamu harus tunjukan sama mereka, yang menganggap pertemanan itu hanya sebuah simbol yang digambar oleh harta. Waktu disini, kamu bisa dikenal oleh hampir seluruh penghuni Shakusi, masa di Jakarta enggak! " 
giliran Shania yang melihat Subhan, dan posisinya jadi tatap-tatapan, "dan kamu tahu gak? Kenapa mereka waktu di SMP begitu senang mengenal kamu?",
Shania mengerung kecil, lalu menggeleng pelan.
"Itu karena kamu punya ini (Subhan mempraktekan senyum 2jari, dengan mata dia sipitkan, khas senyum Shania)"
"Eh? Apaan tuh? Hahahaa bisa aja!" Tawa renyah Shania.
"Aku serius tahu, itu yang bikin mereka senang kenal sama kamu. Senyum kamu Shan, senyum kamu yang merangkul mereka untuk bisa membuka diri, senyum hangat kamu yang membuat mereka berpikir, kalau kamu itu gadis yang menyenangkan dan tidak memilih-milih untuk dekat dengan siapapun!", Shania mengeluarkan senyum manisnya setelah tawa renyah "apapun yang terjadi, jangan hapus, apalagi dihilangin senyum manisnya ya, karena senyum kamu juga yang bikin aku...-"
"Bikin. . . Aku. . . Aapa?" Tanya Shania penasaran
"Bikin aku su,-"
"Woyyy! waduhh, malah pacaran lagi.. gue ama Beby gue jauh-jauh nyari air kelapa, lu berdua malah asik bisik-bisikan, mana tatap-tatapan lagi, udah kayak di sinetron striping lu berdua!!" 
Shania kaget akan kedatangan Aji dan Beby; Subhan menjatuhkan kepalanya lemas, karena lagi-lagi dia gagal menyatakan cintanya pada Shania; Beby tersenyum dan mulai bersuara
"Yaaa.. maaf ya udah ganggu  kayaknya barusan ada moment penting deh!" 
"Moment? Moment apaan Beb?" Tanya Aji
"Euhh! Gak pernah berubah, nggak bisa peka banget sih!!" Ejek Beby "kedatangan kita ituuu.. mengganggu mereka tahu!!" 
Aji melihat Subhan dan Shania "ouwhhh, maksud lu, mereka yang lagi pacaran?!" 
Beby tersenyum dan mengangguk kecil "yaudah deh, nih ambil kelapanya! Gue mau main di pantai sama Beby gue.. yuk Beb!" Lanjut Aji lalu menarik paksa Beby.
"Eeehh. . . Aku ikut!" Shania malah ikutan berdiri mengejar Aji dan Beby.
Angin sepoi menemani keriangan mereka ber4, bermain air laut yang begitu biru, tawa bahagia, ejekan canda yang menyenangkan, membuat ke4 nya terlihat sangat akrab. 
Akankah seterusnya aku bisa tertawa bareng bersama mereka semua? Aku merasa hidup saat dengan Beby dan juga mereka, Tuhan semoga kegembiraan ini akan bisa terus aku rasakan, setidaknya bersama sahabatku aku masih bisa merasakan kebahagian, karena Mama sama Papa terasa terus menjauh dalam kehidupanku. Terima kasih untuk hari ini Tuhan! 
Sepulangnya dari pantai, Shania mampir dulu kerumah Beby, disana dia menceritakan perbincangan dirinya dengan Subhan, Beby dari diam serius mendengarkan... berubah senyam-senyum manis hingga di ending dia meluncurkan godaan untuk Shania. 
Tidak lama, Shania diam dirumah Beby karena waktu semakin sore, dan dia harus kembali ke Jakarta. Sebuah pelukan hangat mengantarkannya pulang ke Jakarta. Rotasi itu mungkin akan terus seperti saat ini untuk Shania dan juga Beby hingga... entah hingga kapan. 
"Pokoknya! Kalau libur semester nanti, kamu yang harus main ke Jakarta! Kalau perlu, aku culik aja kamu dari Mama Ana!! " 
"Kayak yang berani aja, nyulik-nyulik aku!"
"Emm, ngeremehin Shanju!? Gak tahu siapa Shanju?"
"Enggak! Emang kamu siapa? Penting apa aku harus tahu siapa kamu " balas Beby dengan canda ejekannya.
"ck_- iya deh.. tahu dehhhh... siapa Beby Chaesara Anadila yang sekarang! Hmm-- susah deh, sekarang mau ngerjain kamu, udah gak pemalu sih!!"
"Iya! Dan itu karena kamu!! Aku berubah jadi gak pemalu, tapi..,-"
"Malu-maluin! Hahahaa" sabet Shania pada apa yang akan diucapkan Beby, Beby memanyunkan bibirnya sedikit lalu ikut tertawa bersama Shania. 
Mobil berplat B itu mulai meninggalkan aspal komplek, Shania pulang dengan raut wajah yang begitu bahagia. setelah plat nomor mobil yang membawanya ke pantai tadi hilang dari penglihatan Beby, ia pun mulai menggerakan kakinya untuk kembali masuk kedalam rumah, namun... saat dia didekat gerbang yang tingginya hanya sepinggang, Beby merasakan pusing sampai-sampai dia tidak bisa menahan berat tubuhnya sendiri, dan akhirnya dia menggapaikan tangannya kepagar besi untuk mempertahankan agar dirinya tidak sampai jatuh keatas tanah
"Hsss-- aaaauwww..." rintihnya sambil memejamkan mata "kenapa tiba-tiba pusing gini! Aduuuhhh, heeeeuu ssakit lagi!!" Kini tangan kirinya dia angkat dari pagar besi untuk meremas kepalanya yang terasa sakit. 
Entah berapa menit Beby dalam posisinya kini, dia mulai membuka matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menyeimbangkan penglihatannya, dengan tangan kiri masih meremas kepalanya, Beby berpikir kalau dia harus bisa masuk ke rumah untuk mengistirahatkan tubuhnya. Mulai berjalan meski sedikit sempoyongan, akhirnya Beby bisa masuk juga ke rumah, dia langsung membantingkan tubuhnya keatas sofa di ruang keluarga, memijat-mijat kepalanya. Dengan perlahan, rasa sakit yang tadi menyerangnya tiba-tiba, hilang dengan sendirinya. Sampai, tanpa Beby sadari dia ketiduran di sofa, hingga Mamanya pulang dari rumah sakit. 
Mama menatap sebentar putri satu-satunya itu, ia mengusap lembut pipi Beby dengan senyum dan ucapan yang hanya dia lantunkan di hati.
"Kamu begitu mirip dengan almarhum Papa kamu sayang! Mama sayang banget sama kamu!!" . . . "Mama tidak mau kehilangan kamu, seperti Mama kehilangan Papa dulu, Mama akan selalu menjaga kamu! :')"
Beby yang merasakan sentuhan dibagian wajahnya perlahan terbangun 
"Ma..Mama...!" Mama membalasnya dengan senyum "Mama kapan pulang? "
"Baru saja, pasti mainnya rame banget ya? Sampai wajah kamu terlihat lelah begitu!" Beby mengangguk dengan diikuti senyum 
"udah makan belum?" 
"tadi sih.. beli bakso sama Shania Mah, oh ya... Shania titip salam, katanya maaf karena pulangnya gak pamit sama Mama!"
"Berarti belum makan dong! Mama tahu, tadi Shania mengirimi mama pesan singkat! cuci muka dulu sana, Mama bawain makanan kesukaan kamu, kita makan malam sama-sama!"
"Wihh.. enak nih, tapi... apa nantinya Beby gak akan gemuk? Kan kalau makan malam-malam gini suka cepet gemuk Mah!"
"Memangnya kenapa kalau gemuk? yang penting itu.. bukan Gemuk atau kurus, tapi sehat! Kalau kurus tapi sakit-sakitan? Mau!?" 
"Iya deh bu Suster.. paling bisa nih Mama suster " Beby berdiri dari sofa, dia sudah tidak merasakan lagi sakit di kepalanya, sebelum berjalan untuk mencuci muka, Beby menyempatkan mendaratkan ciuman di pipi Mamanya, hingga Mama mengeluarkan protes
"Beby sayang Mama... *mmuachh "
"SaYang.. ihh itu jorok tahu? Iler kamu nempel nih di wajah Mama!"
"Biarin, yang penting Beby sayang sama Mama, hehee"
---
Hampir setiap hari, di jam yang berbeda, setelah kejadian waktu 2minggu lalu di depan rumahnya sendiri, Beby selalu merasakan pusing itu, rasa pusing yang sama persis seperti waktu itu yang datang tiba-tiba merasuki kepalanya, meski hanya dalam hitungan menit yang tidak terlalu lama, tapi itu cukup membuat Beby kerepotan, apalagi jika rasa sakit nya datang saat dia sedang berada di kelas mengikuti pelajaran, seperti sekarang.
"Beb.. psst... psst-psst" Aji mencoba memanggil Beby yang sedang meremas kepalanya "Bebyy.. lu kenapa?" Beby belum bisa menjawab, karena dia tidak mendengar ada suara seseorang sedang memanggil dan membuat pertanyaan padanya. 
Aji menatap lekat Beby, ia tidak memperhatikan guru yang sedang memberikannya ilmu, sampai dia kena tegur guru itu dan diancam akan disuruh keluar kelas kalau masih seenaknya selama ada dikelasnya. Beby yang sedang memegang kepalanya pun seketika menghempaskan tangannya kebawah agar guru yang sedang memperingati Aji tidak melihat kearahnya. wajahnya terlihat menahan rasa sakit, dia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir sesuatu yang sedang memukul-mukul kepalanya. 
*jam istirahat datang* 
"Lu kenapa Beb?" Tanya Aji yang saat mendengar bell istirahat langsung melesat ke tempat duduk Beby
"Kenapa? Apanya?
"Lu sakit ya? Muka lu pucet tahu!" 
Beby memegang kedua pipinya "masa sih? Enggak ah! Aku gak lagi sakit!!" Sanggahnya,
Aji membuat kerungan kecil, saat dia akan kembali bertanya, suaranya keburu kepotong oleh Subhan yang datang dari arah luar. Subhan tidak satu kelas dengan Beby dan Aji, itu kenapa dia datang ke kelas mereka untuk mengajaknya makan di kantin. 
"Woy! Ngapain lu berduaan dikelas?! Bikin orang sirik aja!!" Ucapnya dengan mengejek "ke kantin yuk ahh, gue yang traktir deh! Panas gue liat lu berduaan kayak gini, entar gue dikira setan lagi!" Subhan merangkulkan tangan kanannya pada Aji, dan melihatkan pandangannya pada Beby yang sedang tersenyum, dan sudah sedari tadi melihat dirinya. Perlahan dia melepaskan rangkulannya pada Aji dan mulai menilik Beby dengan begitu telik 
"lu... saakit Beby?" Pertanyaan Subhan sama persis dengan pertanyaan Aji sebelumnya, dia mendekatkan wajahnya pada Beby dan tanpa ada komando, Subhan menempelkan punggung tangannya di kening Beby "gak panas sih, tapi muka lu pucet banget!" Ucapnya, dapat hempasan dari Beby pada tangannya yang sedang parkir di kening Beby. 
"Ini.. gak si Aji, gak kamu.. kenapa sih? Pada tanya-tanya gue sakit apa enggak! Gue itu baik-baik aja, gak panas, gak dingin. Biiiasa aja! Puas?" 
"Lihatkan, emang bukan gue aja yang bisa liat wajah pucat lu itu! Kalo lu sakit, lu pulang aja, biar gue anterin!" Subhan hanya diam mendengarkan dengan wajahnya masih mempelajari wajah pucat Beby. 
"Apa sih Ji, lebay tahu gak! Udah ahh yuk ke kantin, pada lapar kan!?" Ucap Beby dengan mengangkat tubuhnya dari tempat duduk tapi, belum sepenuhnya berdiri. . . Dia merasakan kepalanya sakit kembali, dan kali ini... bikin Aji dan Subhan memasang tampang cemas bukan main, karena Beby tidak bisa lagi mempertahankan kesadarannya, untuk menahan rasa sakit. 
*bruuukkk* dengan sengaja, dan entengnya seorang murid perempuan dari kelas lain menabrakan lengan atasnya pada Shania yang sedang berjalan. Shania mengambil novelnya yang jatuh, dia tidak ingin menghiraukan si penabrak. Ia berdiri dan memulai berjalan untuk melewati murid-murid itu. 
"heh! Lu gak minta maaf apa!? Barusan lu nubruk gue, Freak!" Cemoohnya pada Shania, 
"Eh, malah diem lagi.. lu gak denger apa yang barusan di katakan temen gue? Udah salah, malah sok bener lagi! Dasar cewek kampung dari Jogja!!" Shania membalas tatapan murid-murid itu ketika menyebutkan Jogja
"Apa lu liat-liat kita kayak gitu? Gak suka lu? Hah!" . . . "Ambil novelnya!" Kemudian dia memerintahkan teman-teman lainnya untuk merebut novel yang ada di tangan Shania
"Nggak, Jangan! Aaku minta maaf.. barusan aku yang salah, maaf karena sudah menabrak kalian.." ucap Shania, dengan tangannya menyembunyikan novel di belakang punggungnya. 
karena masih melihat tatapan pemburu dari si murid-murid itu, Shania kembali meminta maaf dan kali ini diikuti bungkukan badannya, begitu terlihat sangat sopan dan terkesan memang dialah yang salah. 
Murid-murid yang sedang melancarkan aksi bully nya itu tersenyum sinis bak seorang perampok yang sudah bisa menggasah rumah mewah dengan imbalan yang besar. 
"Girls.. enaknya, si anak kampung orang kayak baru ini, kita apaain ya?" Teman-teman lainnya saling sahut, menanggapi.
Belum aksi bully lainnya mereka lakukan, Melody terlihat berjalan diujung lorong tempat Shania sedang dikelilingi Bullyer paling berkuasa di sekolahnya. 
"Waduh, Sin.. Sinka!"
"Apa sih Van?"
"Itu.. ada guru lagi jalan kesini!" Tunjuk Vanka dengan dagunya kearah Melody yang sedang berjalan. 
Sinka memiringkan wajahnya untuk melihat ke ujung lorong, dan benar saja, seorang guru berperawakan kecil itu sedang berjalan kearah mereka "ck.. ganggu acara tuh guru! Cabut, gue lagi males debat sama guru kesiswaan!" Ajaknya kemudian, dengan sebelumnya dia mendekatkan wajahnya dan berbisik pada Shania
"kalau nanti... lu berdoa yang lain buat minta bantuan sama Tuhan! Jangan berdoa minta datengin guru!!. . . Kita, pasti akan ketemu lagi, dan nanti... akan jauh lebih menyenangkan" Sinka mengedipkan mata kirinya pada Shania yang diam mematung, merekapun pergi meninggalkan Shania. 
Satu-dua bulan saat menjalani masa SMA di Sekolahnya kini, Shania biasa saja menjalani kesehariannya sebagai murid disana. datang tepat waktu, pulang langsung ke rumah tidak keluyuran seperti murid-murid lainnya, selama mengikuti pelajaran dikelas dia tidak pernah membuat masalah, dimata para pengajarpun Shania itu anak yang baik, dan untuk wali kelasnya, Melody. Shania itu anak yang penurut, tidak banyak tingkah, baik di kelas dengan teman-temannya, ataupun dengan murid-murid lainnya di sekolah. Meski, dia lebih banyak menghabiskan waktu selama di lingkungan sekolah itu sendirian, nyaris tidak ada satupun seseorang disampingya ketika dia berjalan ke kantin atau saat akan masuk dan pulang sekolah. Shania tetaplah baik. 
Shania... bukan tidak tertarik untuk mengulurkan tangannya pada teman-teman di sekolah atau bahkan di kelasnya sendiri, tapi, mereka yang Shania ajak bertemanlah yang tidak mau membalas uluran tangan Shania secara tulus (Di Jakarta, semua terasa begitu sulit, jangankan untuk mencari rezeki, mencari teman saja saja susahnya minta ampun. Mungkin. . . Pemikiran mereka terlalu dikuasai materi tanpa memikirkan imaterinya). Setelah itu, Shania tidak pernah lagi dengan sengajanya mengulurkan tangan diikuti senyum manis penuh kehangatan untuk merangkul seorang teman. Dan ditambah kini, semakin hari setip perpindahan tanggal, yang entah dimulai di angka berapa, Shania mulai diincar oleh bullyer di sekolah elite nya itu, tanpa dia inginkan dia selalu dijadikan sasaran si 'sadis' yang membuatnya terlihat jadi si 'lemah', Shania pernah coba melawan, tapi dengan hitungan orang yang berdiri dikiri, kanan, depan bahkan belakang mereka, Shania mustahil untuk bisa melawan, dan akhirnya... setelah dia pelajari bagaimana pergerakan si bullyer (semakin dilawan, semakin menjadi ingin menjatuhkan dirinya) Shania pun tidak ingin melawan dan selalu dengan sengaja menghindar dan mengalah.
"Shania, kamu kenapa?" Tanya Melody, saat dia sampai ditempat Shania berdiri, pandangan Melody sekilas dilihatkan pada Sinka dan teman-temannya.
"emm, enggak Bu, aku gak apa-apa!" Balasnya dengan mengukirkan senyum,
"Oh, ya sudah! Kalau kamu ada masalah, cerita sama Ibu, siapa tahu Ibu bisa bantu kamu " tawarnya penuh kehangatan, Shania membalas senyum Melody "iiya Bu, makasih " ... "Shania pamit dulu Bu, mau ke Kantin!" sambungnya dengan berpamitan pada Melody. Melody membalasnya dengan anggukan yang masih diikuti lengkungan senyum.
"Kasihan Shania, dia yang selalu terlihat sendiri di kelas, dan bahkan saat jam istirahat seperti ini! Apa yang sebenarnya membuat kamu terlihat sulit untuk berbaur dengan yang lainnya?" Ucap dalam hati Melody dengan matanya melihat punggung si anak didiknya "dan... kenapa dengan wajah kamu? Kenapa akhir-akhir ini, begitu tersirat rasa tidak bahagia? Apa kamu sedang ada masalah dirumahnya?" 
Melody memang sangat memperhatikan murid-muridnya, apalagi dia diberikan tanggung jawab oleh pihak sekolah menjadi wali kelas. Menjadi wali kelas, kelas Satu itu... bukanlah hal yang mudah, ada tantangan tersendiri untuknya berada di posisi ini, mereka yang kedepannya harus menentukan akan mengambil jurusan apa setelah kenaikan kelas, mereka yang harus dituntun untuk menemukan bakat dan kemampuan baik dibidang akademis maupun non akademis, banyak lagi hal yang harus di pelajari dari mereka yang baru memakai seragam Putih-Abu, dan peranan Wali Kelas sangatlah penting dalam rentetan perjalanan awal mereka hingga akhirnya mereka ada dilangkah yang berikutnya. 
***
Rumah yang seharusnya, menjadi tempat paling nyaman untuk berteduh, menyandarkan diri dari kerasnya dunia, dalam kehidupan seseorang. bisa bercerita lepas tentang keluh, kesah, suka dan duka, berbagi setiap cerita yang dialami baik dengan orang tua, adik, atau kakak. Bagaimana? jika Tiba-tiba keadaan nyaman itu berubah. secara perlahan tapi pasti, rumah justru menjadi tempat yang paling tidak ingin dipijak dan akhirnya yang tersisa hanya keheningan dari gemuruh yang sebelumnya begitu menderu. 
Satu tahun sudah, Shania dan keluarganya tinggal di Jakarta. Menempati rumah megah dengan fasilitas serba Wah. Awalnya, Shania selalu mensugesti dirinya sendiri dengan apa yang dikatakan Kakaknya, Papa dan Mamanya kalau keadaan keluarganya akan baik, bahkan lebih dari baik dengan saat tinggal di jogja. 
Awal episode kepindahan yang dipercepat itu memang cukup menyenangkan dirasa oleh Shania, karena masih tetap bisa main ke Jogja, bertemu Papa dan Mama di meja makan saat sarapan dan atau makan malam, bersenda-gurau dengan Kakak perempuannya. Tapi semakin kesini, setiap hari saat episode itu terus bertambah, keadaan dirumah dalam kota baru berhiaskan kegemerlapan itu berubah... bukan lebih atau lebih dari baik, namun menurun dan sangat menurun. Bukan dalam hal financial tentu, tetapi dalam hal kehangatan keluarga. Belum lagi Beby, sang sahabat karib yang selalu bisa mengerti dirinya, akhir-akhir ini begitu susah untuk dihubungi. Shania pikir, mungkin Beby sedang sibuk dengan sekolahnya dan juga kegiatan dia yang lain. Dan ditambah dengan masalah yang sedang dia hadapi kini disekolah. 
Yang akhirnya. . . Membuat sugesti dari bisikan Ve, Ucapan lembut Mama, Janji Papa, yang di tanamkan di dalam otaknya pun perlahan luntur, dan hanya menyisakan rintihan kerinduan dari hatinya. Rindu akan adanya sosok Papa yang bisa memberikan nasihat, rindu pelukan Mama yang menenangkan, rindu candaan Kakak yang mengundang tawa hangat dalam cengkrama. Dan rintihan rasa sakit dari apa yang sedang dia hadapi tanpa adanya satu orangpun di sebelahnya.
Shania mencoba menghubungi Beby untuk membagi ceritanya yang selama satu semester terakhir ini dia alami di sekolah, dan kisah yang sepertinya akan mendapat ke suraman di depan nanti tentang keadaan keluarganya yang dirasa sudah tidak "sehat". 
*tuuuut... tuuuut... tuuuut...*
Panggilan itu tersambung, namun belum ada respon. 
*tuuuut... tuuuut..,- nomor yang anda tuju..,* 
Shania menekan tombol putus, lalu kembali menekan tombol pemanggil, beberapa kali dia melakukan itu tapi tidak ada sama sekali jawaban dari Beby, yang biasanya tidak pernah lama jika ada telpon darinya. 
"Apa sih yang sedang terjadi sama kamu?" . . . 
"Apa kamu marah sama aku?!" . . . 
"Aku butuh kamu Beby! Aku butuh bahu kamu!!" . . . 
Shania membanting tubuhnya keatas tempat tidur empuknya dengan emosi dari kekecewaan yang sedang dia rasa. 
"Kenapa... dia semakin hari semakin sulit untuk dihubungi? apa disana dia sesibuk itu? apa dia sudah lupa akan sosok ku?" ... "atau apa dia...? Terakhir, waktu kita ketemu lagi di Jogja. Kamu sama dia terlihat begitu akrab, dan terasa lebih dari biasanya!" Shania memainkan ruang bayangannya, mengingat 1bulan yang lalu, di pertemuan terakhirnya bersama Beby, Aji dan Subhan. 
Saat itu Shania melihat Subhan memperlakukan Beby yang tidak seperti biasanya, dia sepertinya begitu memperhatikan Beby lebih dari biasanya, "Waktu itu... hari itu... sepertinya memang ada yang lain diantara kalian?!" Terkanya dalam bayangan kehampaan, "dan setelah pertemuan itu... kamu mulai sulit untuk aku hubungi, kamu terkesan selalu menghindar dalam setiap percakapan seluler kita! Apa sekarang... apa yang dulu pernah membuatku marah pada kesalahpahaman kamu sama dia, itu berubah nyata!?" 
Kepedihan yang Shania rasa membuatnya tidak bisa berpikir lebih dari itu "Subhan memang belum pernah mengatakan apa yang dia rasa sama aku, tapi... tingkahnya, ucapannya, apa itu cuma kegeeranku saja? Apa selama ini hanya aku yang merasa suka pada dia?" . . . "Apa jangan-jangan... memang Beby lah yang Subhan sukai? Aku emang bego! Gak bisa lihat kebenaran yang begitu nyata di hadapanku!!". . . "Dan Beby sendiri.. sahabat aku sendiri, apa yang sebenarnya dia rasa? Selama ini dia selalu terlihat biasa saja menanggapi ceritaku tentang Subhan, dan malah terkesan mendukung aku dengannya, tapi... Ahhghh!" . . . "Kenapa jadi gak karuan gini sih!?" Shania menghentikan terkaannya dalam ucapan kesal yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri. 
"Minggu ini... aku harus ke Jogja! Aku mau tahu dan memastikan sendiri kalau kecurigaan ku hanya bentuk rasa takut saja!!" Keinginannya yang besar membuatnya menarik keputusan itu, tanpa harus memberi tahu Beby kalau dirinya akan menemui dia tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. 
Shania menuruni mobilnya, pagi ini langit sudah terlihat bersih tanpa ada gumpalan awan yang menyelimuti hamparan langit biru, yang berkilau karena sinar mentari yang benderang memberikan kehangatan. Tidak seperti sambutan matahari yang hangat, di depan gerbang, Shania sudah disambut oleh 4 murid yang selalu mengisi hari-hari sekolahnya dengan hal yang membuat Shania, menuliskan kisahnya dengan ke4 murid itu dalam Diary dengan tinta merah, menceritakan kelakuan 4 murid ini. 
"Haiii Shania  selamat pagi!" Sambut Sinka dengan senyum 'tulus' penuh makna.
Shania melepaskan earphonenya "Hhaii, pagii juga!" Balas Shania
"Pagi ini cerah ya? Emhh.. gimana kalau kita ngobrol-ngobrol pagi sebelum masuk ke kelas? Kamu mau kan Shania?" Sinka terlihat manis merangkaikan katanya untuk Shania. 
Shania mencoba mencari alasan untuk menolak "euhmm, aku gak bisa.. ada yang harus ditanyain sama temen di kelas soal tugas yang harus dikumpulin nanti!" 
Sinka terlihat perlahan melepas topeng manisnya "Ayolah Shania, barusan aku udah lembut banget loh :) ngajak kamu, masa kamu tega sih nolak ajakan aku!?" Shania tidak merespon, Sinka mendekatkan tubuhnya kedekat Shania "kamu tahu.. barusan, ajakan aku itu... ajakan yang begitu lembut untuk orang asing!". . . "Dan kamu harus tahu juga, aku paling gak suka ditolak! So.. let's come with me" lanjutnya dengan nada dibumbui tekanan ancaman, Shania tidak bisa melakukan apapaun selain mengikuti Sinka dan yang lainnya.