Joko, seorang laki-laki desa yang tinggal di Gunung Kidul merupakan orang yang pekerja keras. Ayahnya sudah meninggal sejak ia kecil, dan kini ia hanya tinggal bersama ibunya dan menjadi tulang punggung keluarga. Kehidupannya yang susah itu yang membuat Joko menjadi sosok pejuang dan pantang menyerah.
Joko berjalan pulang ke rumahnya setelah bekerja seharian di sawah. Ketika melewati rumah Pak Wisnu, ia melihat acara musik melalui tv di rumah itu. Ia terdiam dan melihat gadis-gadis remaja yang sedang menyanyi dan menari. Si pemilik rumah mengetahui itu.
“Eh, Joko. Ngapain berdiri di situ? Ayo, masuk sini!” ucap Pak Wisnu.
“Iya pak. Terima kasih..”, Joko lalu masuk dan ikut menonton acara musik tersebut.
“Wah, cantik-cantik ya pak mereka..”
“Ya sudah jelas lah Ko, namanya aja artis, pasti tubuhnya dirawat..”
“Tapi Joko baru tahu mereka sekarang ini pak. Siapa mereka itu pak?”, ucap Joko dengan logat kedesaan.
“Mereka itu idola favoritnya anak saya, Anis. Mereka JKT48 Ko..”
“Je Ke Ti Fortiet? Tanya Joko dengan pengucapan yang salah..”
“Hhhaha. Pokoknya itulah namanya..”
“Wah, bapak kok bisa tahu itu?”
“Lah wong anak saya aja tiap hari ngomongin mereka. Ya mau nggak mau toh Ko, bapak jadi tahu. Hhehe..”
“Iya juga ya pak? Lagunya juga bagus ya pak..”
“Iya Ko. Kalau Joko mau tahu lebih banyak, tanya aja sama anak bapak tu, si Anis. Dia tahu banyak..”
“Ah, tidak usah pak. Joko mau pamit pulang aja. Sudah maghrib pak. Terima kasih yo pak, sudah izinin Joko ikut nonton. Kapan-kapan tak ikut nonton lagi wis pak. Hhehe..”
“Iya Ko. Hati-hati di jalan yoo..”
Joko akhirnya pulang, namun penasaran karena ingin tahu lebih banyak tentang JKT48 itu.
-oOo-
Sesampainya di rumah.
“Mbok.. Simbokk. Joko pulang nih..”
“Iya Ko. Gimana kerjamu hari ini? Lancar?”
“Lancar banget mbok. Joko tadi juga nonton Jeketi fortiet di rumahnya pak Wisnu. Mereka cantik-cantik banget mbok. Masih muda lagi. Paling SMP atau SMA mbok..”
“Ngomong opo kowe Ko? Sudah. Mandi dulu, nanti keburu malem.”
“Iyoo mbok.”
Lalu mandilah Joko. Saat mandi, ia bernyanyi nada-nada lagu JKT48 yang ia dengar tadi. Walau tidak ingat semua, ia hafal beberapa nada. Dan sambil membayangkan member, Joko tersenyum-senyum sendiri.
-oOo-
Hari demi hari berlalu. Sudah hampir sebulan Joko menyukai dan bertambah pengetahuannya tentang JKT48. Ia pun memutuskan untuk bekerja lebih keras agar bisa menonton idolanya itu secara langsung.
“Mbok, Joko pengin ke Jakarta.”
“Ke Jakarta? Buat apa Ko? Kamu mau kerja disana?”
“Tidak mbok. Joko pengin lihat theater JKT48 langsung mbok. Joko pengin tahu…”
“Woalah Ko, Ko. Wong kita aja makan kurang, buat sehari-hari aja nggak cukup, kok kamu reko-reko mau ke Jakarta. Kita tidak punya uang Ko..”
“Ya Joko kan bisa toh mbok, cari kerja dulu. Ikut pak wisnu jadi kuli di proyeknya. Kemarin Joko ditawarin. Joko belum jawab, tapi Joko mau mbok..”
“Kamu tidak mungkin bisa ngumpulin uang banyak buat kesana Ko. Setalah sampai sana, kamu mau makan apa? Tidur dimana? Pulang ke desa gimana? Apa sudah kamu pikirin semua itu Ko? Rasah aneh-aneh kowe Ko. Mbokmu khawatir..”
“Masalah kuwi belakangan mbok. Sing penting, Joko bisa lihat idola Joko disana. Siapa tahu disana ada orang yang mau bantu Joko. Om Handi kan juga di Jakarta mbok..”
“Simbok tahu Ko. Tapi kita itu serba kekurangan, sia-sia kalau kamu kesana. Om Handi disana, tapi apa dia pernah peduli sama kita Ko? Uwis, Joko nyerah wae. Keinginanmu itu ketinggian buat orang yang
miskin seperti kita..”
miskin seperti kita..”
“Kalau menyerah itu bukan Joko namanya. Mungkin cilik mbok kemungkinan kesana, tapi Joko nggak mau menyerah. Yowis, Joko mau pergi dulu mbok..”
“Loh, Ko. Mau kemana?”
“Ke tempat pak Wisnu mbok. Mau bilang kalau Joko mau jadi kuli di proyeknya. Terus mau beli buku tulis buat nulis-nulis..”
Joko lalu pergi menemui pak Wisnu dan mengatakan bahwa ia mau bekerja bersamanya. Setelah itu, ia lalu pulang dan membeli buku tulis.
Sampai dirumah, Joko menuliskan sesuatu di bukunya itu dengan pensil
yang sudah sangat kecil. Bila salah, ia menggunakan karet gelang yang di lilitkan di ujung belakang pensil untuk menghapusnya. Betapa memprihatinkannya kehidupan Joko. Walau begitu, semangat Joko tidak pernah pudar, itulah kelebihannya.
yang sudah sangat kecil. Bila salah, ia menggunakan karet gelang yang di lilitkan di ujung belakang pensil untuk menghapusnya. Betapa memprihatinkannya kehidupan Joko. Walau begitu, semangat Joko tidak pernah pudar, itulah kelebihannya.
-oOo-
Hari baru tiba. Joko mulai bekerja sebagai kuli. Ia mengangkat batu, kayu dan bahan lain untuk membangun rumah. Seminggu bekerja, kulitnya berubah menjadi semakin gelap. Tubuhnya menjadi semakin kurus karena kerjanya lebih banyak dibandingkan makannya. Biar begitu, ia tidak menyerah. Usahanya dilakukan untuk melihat idolanya. Setiap kali melihat tv di rumah pak Wisnu dan ada JKT48, semangat Joko berkobar kembali. Ketika ia sudah capek dan menyerah, ketika keringatnya sudah tidak berharga lagi, semuanya hilang seketika setelah ia melihat JKT48. Dan ia kembali menumbuhkan tekadnya untuk ke Jakarta.
Hari Jum’at tiba. Joko kembali bekerja. Namun, saat mengangkat kayu, tangan terluka karena di kayu itu ternyata ada paku yang masih menancap. Joko pun diberhentikan oleh pak Wisnu untuk istirahat.
“Joko, apa kamu tidak apa-apa?”
“Iya pak. Cuman kayak gini aja Joko udah biasa pak. Joko mau kerja lagi pak..”
“Sudah, kamu berhenti dulu hari ini. Ini bapak kasih gaji kamu selama sebulan, tabung dulu kalau mau untuk biaya ke Jakarta. Sekarang kamu pulang aja dulu, besuk baru kerja lagi. Usaha kerasmu selama ini
jangan disia-siakan Ko..”
jangan disia-siakan Ko..”
“Ma, makasih pak. Terima kasih sekali. Joko pulang dulu ya pak, mau kabarin simbok. Assalamu alaikum pak..”
Joko lantas pulang dengan perasaan yang sangat senang.
-oOo-
Sesampainya dirumah dan memberitahu ibunya akan hal itu.
“Mbok, Joko gajian. Uangnya banyak mbok dari pak Wisnu..”
“Wah, Ko. Uangnya banyak sekali. Alhamdulillah..”
“Iya mbok, pak Wisnu baik sama Joko. Tapi uang ini sebagian mau Joko tabung buat nonton theaternya idola Joko..”
“Apa? Kamu masih pengin lihat mereka? Tangan kamu kenapa Ko?”
“Iya mbok. Pengin banget. Oh, iki? Tidak papa mbok, cuman kena paku aja tadi. Nanti juga sembuh. Yowis mbok, Joko mau istirahat dulu ya mbok buat besok. Joko harus kerja lagi..”
-oOo-
Joko kembali bekerja membanting tulang untuk ditabung dan membiayai kehidupannya bersama Ibunya. Panas terik matahari, hujan, dan rasa pegal di sekujur tubuhnya sudah menjadi sahabatnya. Semua itu sudah
menjadi hal biasa baginya. Belum lagi, ia selalu bekerja lembur agar mendapatkan tambahan uang untuk ia tabung.
menjadi hal biasa baginya. Belum lagi, ia selalu bekerja lembur agar mendapatkan tambahan uang untuk ia tabung.
“Ko, kamu nggak pulang sekarang aja?” tanya pak Wisnu.
“Nanti aja pak, Joko mau angkatin dulu kayu ini. Biar sekalian pak..”
“Tapi ini udah malem banget Ko, yang lain aja udah pada pulang..”
“Iya pak, Joko gini juga biar dapet bonus lebih dari bapak. Kan bapak pernah bilang. Hhehe..” ucapnya polos.
“Joko, Joko. Jarang ada anak muda yang mau bekerja sekeras ini, apalagi kamu anak yang baik. Masih sangat muda, tapi sudah menjadi tulang punggung keluarga. Semoga kehidupanmu berubah Ko..” batin pak
Wisnu melihat Joko yang sedang bekerja keras di depannya.
Wisnu melihat Joko yang sedang bekerja keras di depannya.
“Yaudah, bapak pulang dulu ya Ko.. Jangan lupa, nanti pagarnya di gembok..”
“Siap pak..”
Tinggalah Joko yang kini seorang diri disana. Tempat yang sudah sangat sepi, hanya ditemani dengan kedinginan malam dan cahaya rembulan, terlihat seorang anak muda yang masih giat bekerja memindahkan kayu kesana-kemari untuk menghidupi hidupannya.
Ia duduk sejenak ditumpukan kayu itu sembari melihat bintang-bintang dilangit. Menatap indahnya sinar bintang yang didampingi dengan cahaya rembulan.
“Apa Joko bisa yo kayak bintang itu? Bersinar indah.. Hmm.. JKT48… Apa bisa yo Joko nonton mereka? Joko pengin banget nonton idola Joko. Tapi Joko malu, Joko kan mukanya jelek.. Apa mereka mau ketemu fans jelek kayak Joko? Huh..” pikir Joko malam itu.
Terlalu lama berandai-andai, Joko lantas pulang ke rumah. Terlihat dari cara jalannya, ia sebenarnya sangat kelelahan. Badannya yang seperti hampir rubuh dan tubuhnya yang kurus kering itu menyampaikan pesan bahwa kehidupan yang ia jalani itu sangat berat. Seorang anak muda yang seharusnya menikmati masa mudanya harus bekerja keras mencucurkan keringatnya setiap hari demi kelangsungan hidupnya.
-oOo-
Lima bulan kemudian..
“Mbok, Joko berangkat ke Jakarta yoo? Doain Joko biar seneng disana..” ucapnya kegirangan.
“Iya Ko, hati-hati disana. Semoga uang yang kamu bawa itu cukup..”
“Amin mbok. Assalamu alaikum..”
“Waalaikum salam..”
Joko sudah berangkat ke Jakarta. Sesampainya disana ia bingung, dimana tempat theater JKT48 itu. Ia bertanya pada orang-orang yang ada disana, namun semua menghindar karena melihat penampilan Joko yang
kedesaan dan tidak rapih. Kulit yang gelap, muka yang kusam, dan baju yang usang. Namun dibalik itu, Joko selalu tersenyum. Karena setidaknya, kesempatannya untuk bertemu sang Idola sudah dekat.
kedesaan dan tidak rapih. Kulit yang gelap, muka yang kusam, dan baju yang usang. Namun dibalik itu, Joko selalu tersenyum. Karena setidaknya, kesempatannya untuk bertemu sang Idola sudah dekat.
Ia terus bertanya kepada semua orang, sampai ia bertemu dengan kumpulan anak muda yang mengenakan baju bertuliskan “JKT48″.
“Permisi mas, mas fans JKT48 yoo?” tanya Joko.
“Iya.. Kenapa ya?” tanya salah seorang dari mereka.
“Mau nonton JKT48 yoo? Boleh bareng? Joko tidak ngerti dimana tempatnya..”
“Ohh, ayo. Boleh, ayo bareng..”
Berangkatlah mereka bersama-sama. Ternyata tempatnya tidaklah jauh dari tempat awal mereka bertemu. Diperjalanan Joko sempat bercerita dari mana dia, dan bagaimana kehidupannya. Maka fans JKT48 yang lainnya itu pun sangat simpati padanya setelah mendengar cerita Joko itu. Ternyata ada fans yang bekerja sampai sekeras itu demi idolanya.
-oOo-
Malang nasib Joko. Sampai disana, Joko tidak bisa masuk karena ia tidak memiliki ticket. Ia ingin membeli disana, namun persediaan sudah habis. Maka ia hanya menitipkan buku yang ia bawa kepada teman barunya disana. Buku itu ia titipkan sebagai hadiah untuk idolanya.
“Kamu beneran nggak papa Joko? Sudah jauh-jauh dari desa lho…”, ujar salah seorang teman baru Joko, turut kecewa dengan nasib Joko.
“Ah, nggak papa kok, Joko sudah seneng bisa sampai sini juga…”
“Joko, kalau mau pakai tiket aku aja, aku kan bisa dapet tiket lain kali lagi…”, ujar salah seorang teman barunya yang lain.
“Ah, ndak usah… Kalian kan juga susah dapetnya tiketnya… Ndak apa-apa kok Joko cuma sampai disini… Yang penting nanti buku catatan Joko ini jangan lupa disampaikan ke member ya…”, balas Joko sambil tersenyum.
Joko pun berpisah dengan teman-teman barunya. Dari luar, nampak Joko masih tersenyum ditengah nasibnya yang begitu buruk. Namun, di dalam hatinya Joko seperti dinding yang hendak roboh. Menangis tersayat-sayat. Perjalanannya ke Jakarta harus berakhir. Tanpa bisa bertemu dengan idolanya yang ia impi-impikan dari desa.
“Mbok.. Joko gagal nonton JKT48. Mungkin ini pertanda kalau Joko harus pulang lagi ke desa. Mungkin simbok lebih butuhin Joko..”, batin Joko selama perjalanan pulang.
Joko pun menyadari, bahwa tidak berguna menangisi hal yang sudah terlanjur.
“Salah Joko juga nggak cari tahu informasi tentang tiket sebelum ke Jakarta…”, gumamnya sembari menghibur diri.
“Yasudahlah, mungkin memang Joko disuruh untuk bantu simbok saja di rumah.”
-oOo-
Sementara itu, di sesi latihan member..
“Mel, ini ada buku dari salah satu fans JKT48. Dia fans yang berbeda. Dia datang jauh-jauh dari Gunung Kidul.”, ucap salah seorang staff yang dititipi buku oleh fans.
Melody membuka buku yang diberikan padanya itu karena ia penasaran. Ia membacanya dalam hati, dan ia sangat tersentuh.
“Kinal, kamu baca ini keras-keras ya. Biar semuanya denger..” ucap Melody.
“Buku apa itu?”, balas Kinal.
“Baca aja, ntar kamu juga tahu..”
Maka dibacalah buku itu di hadapan semua member..
Joko cuman orang desa yang miskin. Joko bekerja sebagai petani dan kuli untuk menghidupi simbok. Joko mengumpulkan uang berbulan-bulan untuk bisa melihat idola Joko. Dan akhirnya itu akan tercapai. Joko tidak hafal nama kalian satu per satu, tapi Joko tahu setiap dari kalian itu berbeda. Joko tidak tahu apa saja lagu mereka, tapi Joko tahu lagu kalian itu bagus.Hidup Joko terlalu pendek kalau harus di isi dengan penyesalan dan kesedihan, tapi setelah tahu kalian, Joko jadi semangat. Joko kadang sedih kalau tahu Joko punya idola, tapi tidak bisa ketemu langsung. Tapi Joko percaya, sesuatu itu pasti diakhiri kebahagian dengan sebuah alasan.Joko selalu optimis bisa ketemu kalian suatu hari nanti, entah kapan, Joko selalu percaya. Joko ingin kalian kayak bintang-bintang yang tiap hari nemenin Joko kalau Joko lagi kerja lembur ngakatin kayu. Bintang yang selalu bersinar dan nemenin Joko.Sebentar lagi Joko bisa ketemu idola Joko. Joko dan simbok disini seneng banget. Setelah Joko ketemu kalian, Joko harap kalian nggak malu punya fans kayak Joko. Fans yang mukanya jelek, tidak rapih, dan banyak kurangnya ini. Joko ingin dipandang sama sebagai fans. Meski Joko banyak kekurangannya, meski Joko cuman dari desa, Joko pengin dihargai.Joko juga ingin kalian tahu, kalau perjuangan buat bertemu kalian itu berat. Lebih berat dari pada bawa kayu saat jadi kuli. Lebih sakit dari pada tergores paku saat Joko bekerja. Joko ingin idola Joko tahu semangat Joko ini. Joko tidak bisa kasih apapun, Joko tidak punya uang. Untuk pulang ke desa pun Joko tidak tahu bagaimana karena uang Joko, Joko titipkan ke simbok lebih banyak.Kalau idola Joko baca ini, tandanya Joko sudah bisa sampai ke tujuan Joko. Terima kasih..
Semua yang ada disana terharu dan beberapa menangis mendengar itu. Mereka tahu apa sebenarnya arti fans bagi mereka. Mereka tidak menyangka ada fans yang berjuang keras sampai seperti itu demi melihat
idolanya. Bersama-sama mereka melepas doa agar kelak Joko bisa hadir menonton mereka. Menghargai semangat dan menghargai cucuran keringat Joko. Mengabadikan sosok Joko sebagai seorang fans yang sungguh-sungguh bekerja keras.
idolanya. Bersama-sama mereka melepas doa agar kelak Joko bisa hadir menonton mereka. Menghargai semangat dan menghargai cucuran keringat Joko. Mengabadikan sosok Joko sebagai seorang fans yang sungguh-sungguh bekerja keras.
Mereka memutuskan meniru semangat yang ada pada diri Joko. Berjuang sampai akhir, tidak peduli seberapa besar dan keras dinding yang menghadang, selama kita berusaha, semuanya akan tercapai.
-oOo-
Seminggu kemudian..
“Ko, ini ada surat pos buat kamu..”, seru Pak Wisnu memanggil Joko.
“Dari siapa pak?”, tanya Joko sambil mendekat ke tempat Pak Wisnu.
“Bapak kurang tahu, tapi dari alamat pengirimnya, kayaknya dari Jakarta..”
“Jakarta? Siapa ya?” ucapnya sambil membuka surat itu.
Dear Saudara Joko,Kami menanti kedatangan Saudara di Jakarta untuk menonton theater JKT48 secara langsung. Kami dan member JKT48 merasa sangat tersentuh atas perjuangan yang Saudara lakukan untuk bisa menonton JKT48, maka dari itu kami memutuskan untuk memberikan dua tiket gratis agar Saudara bisa menonton JKT48. Atas perhatian dan perjuangan Saudara, kami ucapkan terima kasih.JKT48 Operation Team.
-oOo-
Matahari mulai tenggelam. Joko masih sibuk di tempat ia bekerja sebagai kuli di proyek pak Wisnu. Jam kerja seharusnya sudah selesai, tetapi Joko terlihat masih asik dengan pekerjaannya. Dia memainkan palu, memukul paku dengan palu itu, merangkai balok-balok kayu di sekitarnya.
“Nah, sudah jadi…”, gumam Joko lega.
Ia pun mengangkat benda yang baru saja di buatnya itu. Semacam bingkai foto berukuran 20x10cm. Sebuah bingkai mini yang ia buat dari sisa-sisa kayu bahan bangunan.
Di dalam bingkai itu, ia tempelkan kedua tiket teater yang tadi siang ia terima dari sebuah surat dari Jakarta. Tiket teater yang digunakan sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan Joko menonton teater. Tiket teater ‘langka’ yang tidak semua orang bisa miliki.
“Nah, dengan begini, tiketnya bakalan bisa Joko liat terus. Joko nanti mau pajang di kamar. Biar Joko bisa semangat terus…”, ucapnya sambil tersenyum.
Joko pun mengangkat tinggi-tinggi bingkai kecil itu. Menutupi cahaya lampu yang mulai menerangi desa yang mulai diselimuti gelap. Namun, tidak dengan hati Joko. Hati Joko yang selalu secerah pagi yang indah. Hati Joko yang tak pernah padam semangatnya. Hati Joko yang tak pernah menyesali perjuangannya.
Meskipun Joko tidak jadi menyaksikan teater JKT48 secara langsung, usaha kerasnya tidak pernah mengkhianatinya. Setidaknya, tidak di cara yang ia inginkan. Joko selalu berpikir positif, mungkin Tuhan punya rencana lain untuk Joko. Pun untuk saat ini. Saat dimana Joko seharusnya bisa menyaksikan teater JKT48 secara langsung karena ia telah menerima tiket dari Jakarta. Namun, Joko berpikir lain. Faktor biaya yang sudah tidak ada, dan tentu akan lebih lama lagi untuk mengumpulkannya kembali. Joko lebih memilih untuk tidak menonton teater JKT48 yang dahulu ia idam-idamkan itu. Bukan menyerah tapi. Joko hanya tidak ingin merepotkan simboknya, pun pak Wisnu, lebih jauh. Joko lebih memilih untuk mengikhlaskan kesempatan langka itu. Joko lebih memilih untuk mengabadikan tiket itu, supaya ia selalu bersemangat setiap melihat bingkai kecil yang barusan ia buat.
Original Story by @Teenagers48
Tidak ada komentar:
Posting Komentar