PELANGI DALAM SAKURA
Masa
SMP itu... masa dimana perasaan labil selalu menguntit hati. Rasa
deg-deggan yang dirasa kala memandang wajah lawan jenis yang di sukai,
mungkin cuma sekedar rasa malu karena dia menatap, mungkin
karena adanya 'dorongan' dari teman-teman yang selalu 'mengatai' hingga
membuat wajah merah merona, atau mungkin memang rasa itu meletup alami
karena 2hati sedang mencoba berkomunikasi, untuk bisa saling menjajaki
hingga terlahir kata cinta, cinta yang mereka sendiri belum begitu tahu
apa itu artinya, kalau kata orang tua sih... Cinta Monyet.
Setelah celotehan Aji di kantin tempo hari, Shania diam-diam memikirkan apa yang diucapkan teman nya itu
'benarkah... Subhan ngincer aku?'
Shania senyum-senyum dibawah sinar mentari yang mulai berbagi cahaya paginya
'apa itu artinya dia suka sama aku? Hahaa--'
Wajah Shania sungguh merona kala itu, kalau saja ada yang melihat begitu dekat, pasti bisa terlihat jelas.
Pintu kelas 9-A terbuka, Beby dan Subhan masuk setelah dari ruang guru
untuk menemui wali kelasnya. Shania yang sedang menopang dagu sambil
senyam-senyum, bisa langsung menguasai diri ketika Subhan lewat di
depannya, Beby bisa menangkap ekpresi ‘aneh’ dari wajah Shania, ia
mengerung dengan pikirannya mencoba menebak. Beby juga Subhan berjalan
ke meja guru dan menyimpan buku pelajaran yang tadi mereka ambil dari
ruangan wali kelasnya. Keduanya berbincang kecil saat mengambil keruang
guru sampai tiba lagi di kelas.
Beby menuju tempat duduknya yang bersebelahan dengan Shania, dia menatap
lekat wajah sahabatnya itu, hingga Shania menyadari tatapan dari Beby
yang membuatnya risih.
“ada apaan sih? Kok ngeliatinnya gitu banget!”
tanya Shania, membalas tatapan Beby “ihhh! Beby!! Ada aappaan sih? Hah!
Biasa aja kali liatnya, aku tahu aku tuh cantik, tinggi, putih.. yaa
pokoknya proporsional lah! Hehehee--”
“kamu.... kenapa liatin si uchub gitu banget?” celetuk Beby, membuat Shania kaget
“gi-gitu giimana?” tanya Shania salah tingkah
“iyaa, gitu. Aneh! Kayak... mmm-- kalau di tv-tv itu, suka ada tuh cewek
kalau lagi suka ama cowok pasti aja ngeliatinnya Beeda gitu! Ya kayak
kamu barusan!!”
“huh? Analisa apa si tuh! Ada-ada aja!!” balas Shania
“cinta itu emang suka ‘ada-ada aja!’” dengan gimik menggoda dan sedikit berbisik kedekat Shania, Beby membalas ucapan Shania.
“eh? ma-maksudd kamu?!”
“aduh, ayolah Shania... aku ini sahabat kamu! Mau berbohong sama aku?
Keliatan banget kali dari wajah kamu, kalau kamu itu suka sama si Uchub?
Iya kan?”
sengaja Beby menaikan volume suaranya ketika di kalimat ‘suka sama si
Uchub’ membuat yang dibicarakanpun sampai melihat kearah mereka berdua.
“Haa! Beeebyy... pelanin dikit suara kamu, kenapa sih?!” ujar Shania sambil menyimpan tangannya di depan mulut Beby.
“aaa, jadi benar? Kamu suka sama si Uch--”
“hussstt-husssttt-- hes..ahh!! Udah dibilang jangan keras-keras juga!
BeByy!” protes Shania yang kini langsung menempelkan tangannya untuk
membekap Beby.
Beby melepaskan diri dari bekapan Shania “ciiiee, ada yang lagi... ehem,
nih!” lalu meledek pelan Shania “cerita dong sama aku? Kok bisa sih
seorang Shania Junianatha suka sama Subhan yang biasanya suka jadi lawan
becanda? Apa jangan-jangan kamu kepikiran sama apa yang dikatakan si
Aji waktu di kantin? ya!”
Shania terlihat sedikit salah tingkah tapi masih bisa menguasai diri
“mm- iiiiyaa.. gitu deh!” jawabnya singkat, membuat Beby penasaran untuk
terus menelisik .... “tapi, udah ah gak usah dibahas! Konsentrasi sama
belajar, bentar lagi UNas!!” lanjutnya sambil mengalihkan pembicaraan.
“em, pake mengalihkan pembicaraan lagi! Gak seru ah!! Eh tapi, aku
dukung loh kalau emang kamu suka sama si Uchub! Soalnya kalian itu
cocok, yang satu cerewetnya minta ampun, nah yang satunya lagi cool-cool
gimana gitu. Cocok deh buat jadi peredam kecerewetan kamu! Hahahaa---”
jelas Beby
“tsh, apa sih Beb! caal-cool-caal-cool, es kali cool!! Heuheue-” sahut Shania
“ck- kalo suka mah suka aja! Gak ada larangan kok!! lagian kan gak salah juga kalau kamu suka sama dia!!”
“eh ya, kalau nanti kamu sama si Uchub udah jadian, jangan lupain aku
ya! Apalagi kalau pas kita udah SMA, terus kamu malah jadi banyak jalan
ama dia. Awas aja kalo ampe kayak gitu!! Aku marah nanti-” Beby terus
bercerewet ria pada Shania.
“a, enggaklah Beby.. lagian kamu juga, apaa coba jadian-jadian segala, aku kan cuma…-”
“cuma apa? Cuma suka ama dia yang tinggi, item manis. Iya kan? Pake
acara ngeles mulu dari tadi! Suka itu... kata yang paling Hebat, jadi
jangan takut atau merasa malu! Hehee--”
Beby tersenyum pada sahabatnya itu, Shania membalas dengan senyum
malu-malunya. Dari tadi dia keliatan jadi paling diam dibanding Beby
yang terus menelisik,,
‘aku bukan takut atau malu Beb, tapi... ini gak mungkin terjadi! Aku gak mungkin bisa sama dia... aku kan bakal pergi!!’
Selang beberapa detik, wali kelas pun datang dan bersiap memberikan materinya dalam pelajaran Matematika.
“entar aku balas, dari tadi ganggu aku, nanti giliran kamu yang aku ganggu!” ancam Shania dengan berbisik
“eeehh? Emang mau gangguin apa?”
“kamu ama si Aji! Hehehee--” dengan senyum penuh maksud Shania
mengucapkan kalimat terakhirnya dan bersiap mengikuti pelajaran dari
pengajar yang juga wali kelasnya.
***
Hujan deras mengguyur kota Jogja siang ini, ini.. bulan april, tapi kenapa hujan? Bukankah seharusnya sudah masuk musim kemarau?
Meski prediksi awal sempat dan bahkan terus bertahan, tapi setelahnya
dan setelahnya.. tidak ada yang bisa menjamin. Seperti cuaca di negara
kita sekarang, bukankah April itu sudah harusnya masuk musim kemarau?
Tapi ini tidak! Dari tanggal 1,2,3,4,.... terlihat matahari terus
menyengat bumi, namun kini masuk di tanggal 8, tiba-tiba saja hujan
mengguyur.
Shania berdiri dari tempat tidurnya, dia berjalan menuju jendela
kamarnya. Kali ini dia merasa tidak suka melihat hujan yang masih
mengguyur, biasanya kalau di musim penghujan ia dan Beby selalu saling
komunikasi untuk setelahnya memandangi langit sekitar pinggiran Jogja
tempatnya tinggal, siapa tahu ada pelangi yang muncul setelah guyuran
hujan yang membasuh bumi. Jika mereka melihat pelangi, dengan segera
keduanya berlari kearah taman perumahan, karena dari sana mereka bisa
menikmati warna mejikuhibiniu nya pelangi, berdiri ditengah lapangan
basket taman, lalu saling mengembangkan senyum dan kemudian saling
bercerita atau berphoto ria untuk sekedar mengamadikan moment ketika ada
pelangi.
Sampai detik ini, ia masih memendam agenda ke pindahannya yang tinggal
4bulan lagi. Dia benar-benar berada diambang kebimbangan, tidak tahu
atau sengaja tidak ingin tahu, bagaimana cara untuk memberitahu Beby
perihal hal ini. Ujian Nasional tinggal 2minggu lagi, dia selalu
berpura-pura menyibukan diri, untuk menutupi rasa gundah yang menjalar
perasaannya.
‘salah gak yah? Gak ngasih tahu Beby dari awal?’
ucap Shania pelan dengan matanya terpaku di jendela yang basah
‘apa dia akan menerima kabar ini, tanpa... Marah-_?’
‘semoga Beby mengerti dengan perasaanku, dan mengerti akan maksud ku melakukan hal ini! Maafkan Shania, beby--’
Pernah dengar? Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.
Sepandai-pandainya kita menutupi sesuatu dari orang lain, pasti akan
ketahuan juga.
Shania memang tidak memberitahu Beby perihal pindahan itu, dia tetap
dengan niat awalnya... menyimpan sampai waktu pindahan tiba, dia cukup
pintar mengatasi perasaan tidak enaknya dengan berpikir ‘you think is
not ok? just make it Ok. Then everything will be Ok!’.
Jika apa yang disembunyikan harus terbongkar, cara apapun itu.. pastinya
akan terbongkar juga. Beby tidak tahu rencana pindahan keluarga Shania
dari mulut Shania langsung, melainkan dari mamanya sendiri, yang
mendapat kabar dari mamanya Shania, waktu mama Shania ada pulang ke
Jogja, ia menceritakan rencana keluarganya pada mama Beby. Beby hanya
bisa tercengang ketika mendapat berita itu... entah harus bereaksi
seperti apalagi setelah dia tercengang? Kaget? Sedih? Nangis? Kecewa?
Hmm—wajah Beby kala itu mixing.
‘Kenapa Shania menyembunyikannya?’ ...
‘Inikah alasan sebenarnya dari perubahan sikapnya akhir-akhir ini?’
Beby melamun sendiri didalam kamarnya
‘Tapi... kenapa? Kenapa dia tidak ngasih tahu!’
dia berjalan mendekat ke jendela kamarnya, memandang kosong kamar Shania yang bersebrangan.
(rumahnya dan rumah Shania bersebrangan, kamar mereka ada di lantai 2 dan kebetulan juga saling berhadapan)
Beby memikirkan kembali ucapan Mama nya, pagi tadi......
“kenapa kamu gak cerita sama Mama, kalau Shania sama keluarganya akan pindah ke Jakarta!”
“Apa?” reaksi Beby dengan wajah percaya-tidak percaya akan apa yang dia dengar
“iya.. Kenapa? kemarin tante Nia (Mama Shania) dateng kemari, dia bilang
mereka sekeluarga akan pindah ke Jakarta, setelah Shania lulus!”
“Hah! Piiiindah.. maaksud Mama?” tanya Beby dengan wajah kaget, heran, campur aduk lah.
Beby diam mencerna setiap kata yang terucap dari mulut Mamanya, tentang
apa yang Mama Shania sampaikan padanya. Sampai Beby tidak sadar ketika
Mama pamit untuk berangkat ke rumah sakit.
“Mama berangkat dulu, ya sayang...”
“………................”
“Sayang.. Beby... Beeby!”
Mama menepuk lembut pundak Beby, beliau bisa tahu kalau putrinya itu
belum mengetahui perihal pindahan keluarga Shania. Ketika sedang
bercerita, Mama memeperhatikan wajah Beby yang kecewa, murung, mixing
ekpresi mendung.
“ah, iyaa.. kenapa Mah?”
“hmm- jangan ngelamun gitu dong sayang..." ..... "Sahabat yang baik
itu... adalah sahabat yang bisa mengerti keadaan sahabatnya” Beby
menatap mama nya “Kamu... tidak akan pernah tahu betapa spesialnya
sahabat kamu itu sampai mereka meninggalkan kamu. Bersyukurlah karena
kamu masih diberikan kesempatan sama Tuhan untuk tahu kalau sahabat kamu
itu akan pergi, sehingga kamu masih bisa melihat dan menghabiskan
banyak waktu lebih lama, sebelum ‘meninggalkan’ itu datang!” mata Beby
mulai berair “dia tidak memberitahu kamu... mugkin karena dia tidak
ingin sebelum dia pergi, dia melihat wajah kamu yang sedih, dia ingin
terus melihat senyum kamu sampai dia pergi. Itu yang Shania inginkan
dari kamu sayang, dia ingin membawa senyum kamu, bukan kesedihan kamu!”
Beby mencoba tersenyum, saat mendengar ucapan-ucapan Mama yang lembut.
"Be Brave, Honey.. Life is about Meet and Leave! She's your Best Friend,
so... Give her something Best before she leaves you!!” ..... “satu
lagi… ini Cuma sementara, terpisah jarak tidak berarti membunuh
persahabatan kalian kan? Suatu saat nanti siapa tahu kamu bisa satu
tempat pijakan lagi sama dia! Senyumlah, wajah kamu terlihat jelek
sayang..” senyum Mama, lalu meninggalkan Beby.
“Mama benar,, kalau aku di posisi Shania... mungkin aku juga akan ngelakuin hal yang sama! Hmm--”
Beby membuang nafas panjang dengan sisa sesenggukan karena menahan
tangis. Dia terus bicara sendiri untuk membangun kekuatan dalam dirinya,
setelah mendapat kabar yang tidak mengenakan di pagi hari tadi.
Pagi ini Shania dan Beby saling diam dalam perjalanan mereka menuju
sekolah, hanya sapaan pagi ditambah senyum terpaksa yang dibalut
semenarik mungkin agar terlihat seperti biasa, ketika Beby yang
menghampiri Shania kerumahnya. Dan Shania pun tak kalah hebat dalam
berakting menyambut sapaan dan senyum Beby.
Aneh melihat mereka berdua seperti sekarang ini, Shania diam karena
melihat Beby yang juga diam. Keduanya mulai berjalan menyusuri aspal
basah bekas guyuran hujan kemarin sore yang terus mengguyur hingga
tengah malam, ditambah tanpa ditemani sinar mentari pagi. Serasa
langitpun tahu kalau kedua sahabat ini saling diam dalam ke-mendungan
mereka masing-masing. Yang satu (Shania) belum juga mau buka mulut untuk
jujur pada sahabatnya, yang tanpa dia tahu sudah mengetahui tentang
kegelisahannya. Dan yang satunya lagi (Beby) sama-sama tidak buka mulut
untuk mengklarifikasi kabar yang membuatnya dirinya seharian kemarin
tidak keluar rumah, hanya melamunkan apa yang terjadi kedepan jika
Shania tidak ada lagi bersamanya.
Mereka berdua sampai di sekolah, menyimpan tas punggungnya, dan. . .
kembali saling diam. Sepertinya hari ini akan menjadi hari diam nasional
untuk Shania dan Beby.
'si Beby kenapa sih? Dari tadi kok diem mulu!?'
lirik sekilas Shania pada Beby
'dia emang gak akan ngasih tahu aku soal kepindahannya!'
Beby melamun sendiri
Shania berpura-pura mengeluarkan buku pelajaran untuk mengusir atmosfir
asing yang dia rasa, masih dengan mencuri pandang pada Beby yang sedang
asik melamun.
'apa yang sedang Beby pikirin? Kok kayaknya serius banget! Apa dia lagi ada masalah? Hmm--'
'aku tanyain gak ya? Atau tetap diam seperti yang dia lakukan?! Haaah--'
lamunan Beby, dengan ingatannya masih kuat memegang ucapan Mamanya 'apa
ini... persahabatan yang sehat? Aku tahu apa yang membuat Shania diam,
tapi kenapa aku malah jadi ikut diam dan sulit buat bicara ya?!' Beby
menggerakan tangan kanannya memegang kepalanya yang terasa sedikit
pusing. Shania melihat itu, lalu dia mulai buka mulut untuk bicara
menanggapi apa yang dia lihat
"kamu kenapa? Beb!" tanyanya heran
"hah? (wajah cengo) ahh.. apa?" Beby balik bertanya dengan tanpa sadar kalau tangannya masih meremas kepalanya.
"aku tanya, kamu kenapa?"
"mmm-- nggak apa-apa? Emang kenapa?"
"kamu aneh ya pagi ini? Ada apa sih?!" tanya Shania lebih
"aneh? Aneh gimana? Biasa aja kok!"
"barusan, kamu megangin kepala kamu, itu kenapa?"
"hah, oh... ini. . . emm, gak apa-apa kok, cuma niru adegan anime yang
sok misterius aja, biar keren keliatannya! Ha..ha..ha" dengan tawa
renyah yang dibuat-buat Beby menjawab seenaknya.
Keduanya kembali diam sampai bell masuk bunyi dan pengajarpun datang.
Kelas begitu hening, murid-murid kelas IX begitu tenang mengikuti setiap
materi ulasan untuk menyambut UN yang sengaja di agendakan pihak
sekolah pada para pengajar di kelas IX. 2 guru masuk di kelas sampai tak
terasa waktu istirahat tiba. Beby pamit pada Shania untuk ketemu sama
teman-teman lainnya yang ikut ekskul Basket, jadi mereka berdua tidak
menghabiskan waktu istirahat bersama. Untuk Beby ini cukup melegakan,
ada pertemuan dengan anggota team Basket sekaligus kumpul bareng dengan
seluruh anggota dari kelas VII dan VIII, jadi dia bisa sedikit
menghindar dari Shania dan berpikir bagaimana cara bertanya pada
sahabatnya itu.
20menit kurang lebih team basket putra dan putri berkumpul di base
mereka, membahas tentang pergantian kapten team yang sebelumnya dijabat
oleh murid kelas IX, tentang tournament yang akan diikuti, setelah kakak
kelas mereka (kelas IX) selesai UN, dan bahasan lainnya yang akhirnya
mengerucut ke schedule kumpul diluar sekolah pada saat weekend untuk
membahas lebih dalam.
Beby berjalan menuju kelas
"Beb, Beby..!"
panggil seseorang membuat beby menengok kebelakang
"Uchub? Ada apa?!" tanyanya setelah tahu siapa yang memanggil
"gue. . . gue boleh minta tolong gak?" jawab Subhan dengan permintaan, Beby mengangkat satu alis matanya.
"tolong? tolong apa?!"
"eehh, pulang sekolah nanti, bisa gak lu temenin gue ke suatu tempat!" Beby mengerung
"keeeemana?"
"adadeh, liat aja ntar! Tapi bisa gak nih?" Subhan sok misterius dengan bertanya balik
"nggak ah, kamunya aja gak ngasih tahu mau kemana? Ntar bisa-bisa kamu
nyulik aku!" dengan nada dingin dan gimik sok enggan Beby menanggapi
Subhan, teman sekelas dan juga teman satu ekskul nya itu.
"eleuh Beby (Subhan itu aslinya orang Bandung, Ke Jogja karena
'tuntutan' orang tua yang kerja) delusi lu.. kurang banget, gak mungkin
lah gue nyulik kapten team basket putri terbaik di SMP Shakusi Jogja
ini. lagian, nyulik lu rugi tahu gak! Makan lu kan banyak!! Hahahaaa.."
Canda subhan menanggapi Beby, Beby akhirnya kalah dan bisa ikut tertawa
dengan celetukan Subhan
"kamu.. ish, biarin aja, aku makannya banyak! Yang penting kan gak gemuk!! " balas Beby. Keduanya terlihat 'akrab' berjalan dilorong menuju kelas.
Warning: Admin bikin scene Shania tidak sengaja melihat Beby dan Subhan
yang sedang tertawa Ha- Hi- Hu- He- Ho, tanpa Beby dan Subhan sadari,
ceritanya Shania baru balik dari kantin.
Dia mengerutkan alis matanya saat melihat itu dari belakang, punggung
sahabat terbaiknya dan orang di sebelahnya yang dia yakini kalau orang
itu suka padanya, karena Shania juga suka. Begitu terlihat beda di mata
Shania, karena kini Subhan sedang mendekat kearah Beby dan membisikan
sesuatu yang entah apa, lalu Beby terlihat begitu girang. Beda dengan
Beby yang tadi pagi dan selama di kelas sebelum istirahat terlihat
mendung dimata Shania.
"jadi gimana? Lu bisa kan?!" kata Subhan
"Ok, aku siap! Pulang sekolah langsung cabut!!" balas Beby dengan membuat lingkaran kecil menggunakan telunjuk dan ibu jari.
"Ssipp, thanks ya!" tutur Subhan, diikuti anggukan Beby dengan senyum masih mengembang.
Beby dan Subhan sampai di kelas, Subhan kembali ketempat duduknya, pun
dengan Beby. Dia sempat melihat sekilas, tempat duduk Shania kosong.
"Shania kemana?" suara Beby pelan.
setelah ucapan pelannya selesai Shania pun tiba di kelas, mukanya terlihat Bete tapi sepertinya Shania tahan.
"dari mana?" tanya Beby untuk mengetahui
"dari kantin!" jawab Shania singkat dan dingin,
Beby ber 'Oh' ria saja dengan jawaban Shania, tanpa memperdulikan gimik
wajahnya yang terlihat kesal. Mungkin karena dari tadi pagi mereka
berdua tidak banyak bicara jadi Beby tidak begitu menghiraukan wajah
Shania sekarang.
"emp, sebelum aku lupa! Pulang nanti, aku gak bisa bareng sama kamu, gak
apa-apa kan?" ucap Beby, terlihat wajahnya cerah benderang.
"emang kamu mau kemana?" tanya Shania berharap Beby jujur. Meski dia
sudah punya tebakan jawaban kalau Beby tidak pulang bareng dengannya
karena akan pergi sama Subhan.
"aku mau.. (berpikir sejenak) kumpul sama teman-teman ekskul, ngebahas yang tadi kepotong pas istirahat!" jawabnya,
"oooh, ya udah! Aku minta kak Ve buat jemput aja!!" tutur Shania dengan
menahan kecewa karena Beby sepertinya tidak jujur padanya.
Beby terlihat senyam-senyum-sendiri, seperti baru merasakan sesuatu yang
fantastik, hingga membuat moodnya naik cepat, ketimbang tadi pagi.
Shania melihat itu, dan. . . dia mengerungkan dahinya
'apa yang sebenarnya sedang terjadi?' tanya Shania dalam hati 'tadi pagi
keliatannya mendung banget, tapi abis istirahat sama ketemu ama si
Uchub, kok dia jdi beda sih?!' wajah Shania mulai kesal, dia kini sedang
dikuasi rasa cemburu.
'apa. . . Beby suka sama Subhan?! Tapi watu itu...' ... 'Haah,
udahlah... kenapa juga aku mikirin itu! Toh aku sama Uchub kan gak ada
apa-apa, dan gak mungkin akan ada apa-apa juga!!' sambil mengingat
pindahan yang sudah semakin dekat.
Sepulang sekolah, Beby langsung pamit pada Shania, dia memang jalan
ketempat base ekskul nya, tapi itu hanya sebuah kamuflase, untuk
menghindari Shania. Subhan meminta pada Beby agar Shania jangan sampai
tahu kalau mereka akan pergi bareng, Beby mengirim pesan pada Subhan
kalau dia akan ke base dulu, sampai Shania pulang, dan Subhan diminta
oleh Beby untuk menyuruh temannya melihat apa Shania sudah pulang atau
belumnya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar