Minggu, 12 Januari 2014

"PELANGI DALAM SAKURA" CHAPTER 5

Chapter 5
"Shania..." panggil Subhan saat melihat Shania
akan keluar ruangan, ini hari terakhir UN.
Shania menoleh dengan wajah yang... *pikirin aja
sendiri, gimana wajah seseorang ketika orang
yang dia sukai memanggil :-D*
"Uchub.. ada apa?"
"Emm.. bisa ngomong bentar gak?"
Shania tersenyum sangatttt manis kala itu
"boleh,,, lama juga gak apa-apa kok!" Kalimat
terakhirnya pelan, jadi Subhan tidak begitu
mendengar, karena dia keburu senang duluan saat
Shania menjawab boleh.
"Apa? Yang terakhir apa, Shan?"
"Hah? Ahh-- mmnggak,, nggak apa-apa! Hehe.."
"mm,, jadi.. kamu mau bicara apa?"
"Gak disini ngomongnya! Kamu mau gak ikut
aku?" Dialek Subhan berubah, biasanya lu gue
sekarang mulai aku kamu (dasar anak esempe :-
D)
"yaaahh, tapi aku mau pulang bareng Beby!"
"Ouhh, ya udah deh.. ntar aja kali ya! Hehe"
Subhan menggaruk kepala bagian belakangnya
Shania dan Subhan mulai berjalan tapi, belum
sampai di pintu kelas...
"Cieeeeeee.. si Uchub, eehemmm!"
"Akhirnya.. gerak juga!"
2orang yang tak lain adalah teman mereka
sendiri, Aji sama Beby yang baru keluar dari
ruangan mereka, masuk dengan mengagetkan
Subhan dan Shania yang sedang saling diam
dalam jalannya menuju pintu keluar kelas..
"Waduhhh, Beb.. timing kemunculan kita gak tepat
nih kayaknya!!" Beby mengangguk atas apa yang
diucapkan Aji, "woy Chub, udah selesai belum lu...
nembak si Shania nya? Terus gimana
jawabannya? Lu diterima gak?"
Tingkah Aji membuat Subhan kesal karena malu;
Shania hanya tersenyum sipu malu; Beby yang
menanggapi Aji..
"Pasti diterima dong? Iya kan Shanju!?
Hahaa..mereka cocok ya...? liat aja tuh
wajahnya!? "
"Iya.. kayak gue sama lu! Matching.. hehee"
seringai Aji membuat Beby menepuk pundaknya
"Aapann.. gak ada cocok nya gue sama lu mah!
Hahahaaa"
Beby dan Aji sibuk sendiri setelah mengganggu
Shania dan Subhan.
Sikap Beby kini sangat terlihat berubah dari Beby
waktu pertama masuk SMP, dia sudah terlihat
bisa mengakrabkan diri pada orang yang baru dia
kenal, sifat pemalunya sedikit demi sedikit terkikis
(dari pemalu jadi malu-maluin :-D), dia bisa lebih
expresif dalam mengutarakan apa yang ada di
dalam hatinya. Dan.. Semua perubahan positif
yang dia dapat, menurutnya karena sahabat
baiknya yang selalu ngasih dia masukan dan
dukungan untuk terus bisa berubah menjadi lebih
baik.
"Emmhh.. Beby, diam-diam ternyata suka sama
si Aji!" Celetuk Shania
"Eh? Enggak-enggak! Siapa juga yang suka sama
dia!?" Elak Beby
"Udah Beb... si Aji kan seriusan suka sama lu!"
Subhan ikut-ikutan
"Kenapa jadi aku?.. kan ceritanya aku sama si Aji
yang ganggu kalian! Hey.. Ji, bantuin dong!"
"Yessss, gue dapet 2 dukungan! Huahahaaa.."
girang Aji, tanpa memperdulikan ucapan Beby
"Ehhh! Jadi kesenengan kan tuh orang!!" Keluh
Beby sambil membuang nafas panjang..
"Pulang yuk Shan, gerah nih!" Ajak Beby
"yah, Beby.. ngelak lagi! Si Aji entar Galau tuh, lu
tinggalin!" Kata Subhan
"Iya.. kayak lu yang bakal ditinggalin Shania "
"Eh?" (Shania kaget)
"Hahaa... tenang, gue mah bukan penggalau
kayak si Aji!"
"Kalian mgomongin apa sih? Gue gak ngerti!" Sela
Aji "Beb, jangan pulang dulu napa!.. barusan kan
kita udah nyelesain UN, gimana kalau kita.. elu
gue, Shania ama si Uchub. Kita main.... refreshing
otak lah dikit!"
"Waahh.. gue setuju tuh! Gimana yang cewek?"
Subhan mengalihkan pandangannya pada Shania
dan Beby.
Shania dan Beby saling menukar pandang
sejenak,
"Gimana Beb?"
"mm.. ok, boleh juga tuh!" Senyum senang Beby
"Watawww.. cocok nih, yuk ahh..." Aji mendekati
Beby bermaksud untuk meraih tangannya dan
menggandengnya
"Mau ngapain lu? Enak aja, mau curi-curi
kesempatan! Yang cowok ama cowok aja, gue
ama Shania!!"
Shania dan Subhan menertawakan Aji begitu puas
"Njirr.. gitu amat lu ama gue Beb! Ini lagi 2,
malah ngetawain.. puas banget lagi!!"
Ke4 orang yang katanya sedang merasakan jatuh
cinta satu sama lain ini, mulai meninggalkan
sekolah.. mereka berencana untuk main ke alun-
alun kota. Sampai di alun-alun mereka asik
dengan canda tawa di atas andong dan tak lama
berganti ke becak, sok-sok an masuk toko
accesoris, souvenir, pakaian dan toko buah
tangan lainnya khas Jogja..
Shania bergandengan tangan dengan Beby,
sementara yang cowok berjalan dibelakang
mereka. 1...2...3...4... jam lebih 8menit
sepertinya mereka sudah berjalan-jalan ria
menyusuri malioboro, sampai kelelahan memaksa
ke4 nya untuk mencari tempat duduk sekaligus
mencari energi tambahan untuk tubuh mereka.
"Aahhh.. disini aja, enak nih..! Mas, pesen 4 yah!"
Tanpa banyak A B C D , Aji langsung memesan
makanan yang dijual si mas di pinggir jalan
tempat mereka kini duduk. "Tenanggg.. gue yang
bayar makan + minumnya, okey!" Lanjutnya
Shania dan Beby tersenyum menyambut niat baik
Aji.
"Gue juga bisa kali Ji, bayarin makannya!"
"Nyantei aja kali Chub, entar-entaran kan lu bisa
nraktir gue, Beby ama.... cewek lu itu. Hehehee!"
Wajah Shania merona; Beby tersenyum; Subhan
menoyor kepala Aji.
"apaan si lu Chub, bukannya seneng udah gue
bilangin si Shania yang cerewet itu cewek lu.. ini
malah noyor, kayak yang gak mau ama dia aja
lu!" Shania menekuk bibirnya "canda... Shan, gak
usah manyun gitu bibirnya. Entar si Uchub makin
suka lagi sama lu! Hahahahaaa.." Aji masih saja
menggoda Shania dan Subhan.
*makanan datang..*
"Ah! Mas-mas.. bentar! Boleh minta tolong gak?"
Beby menghentikan si mas tukang jualan. Shania,
Subhan dan Aji masang tampang heran
"Mau ngapain Beb!?" Subhan dan Shania secara
berbarengan bertanya pada Beby
"Kompak amat lu berdua" celetuk Aji,
Beby hanya tersenyum lalu kembali fokus ke mas-
mas penjual,
"Bentar mas (merogoh tas punggungnya yang
sudah dia simpan diatas pangkuannya sendiri)
boleh minta tolong... photoin kita mas!?" Ucap
Beby meminta, ke3 lainnya mulai mengerti apa
yang akan dilakukan Beby
"Pinterrrrr... calon cewek gue!" Beby mendelik
pada Aji.
"Si Beby... kirain mau ngapain!" Kata shania
"Buat kenang-kenangan Shan, siapa tahu salah
satu atau salah dua diantara kita berempat ada
yang bakal pergi dari Jogja! Atau... kita gak satu
sekolah pas SMA entar, kan kita bisa tetap ingat
satu sama lain.. iya gak?"
Shania terdiam mendengar ucapan Beby; Subhan
melihat Beby lalu melihat Shania; Aji mengagumi
ide Beby (wajah Beby sih tepatnya).
Beberapa jepretan diambil sama mas tukang
jualan yang baik hati, meski hanya dari HP yang
beresolusi kamera tidak lebih dari 5 megapixel..
tapi hasilnya cukup bagus, dengan beberapa pose
yang memperlihatkan keakraban mereka ber4, dan
diselingi hanya Beby dan Shania. Setelah selesai,
mereka saling mengeluarkan HP nya masing-
masing untuk saling berbagi Photonya sambil
menikmati pesanan dengan ditemani candaan
komentar tentang photo yang diambil.
"Emph.. ngomong-ngomong soal kenangan yang
tadi Beby gue bilang... kalian pada mau lanjutin
sekolah dimana?"
Dengan mulut disesaki makanan yang belum
masuk ke tenggorokan, Aji membuka topik
pembicaraan.
Shania menelan pelan makannya lalu melihat
Beby; Subhan berhenti mengunyah dan melihat
Shania; Beby biasa-biasa aja diluar, tapi dalam
hati merasa sangat senang dengan pertanyaan
yang dibuat oleh Aji.
"Kenapa pada diem! Kalian gak bakal move kayak
yang Beby gue bilang kan?!"
"Enggaklah Ji, gak mungkin dari kita ada yang
bakal move dari Jogja! Iya gak? Secara.. Jogja
itu kota sejuta kenangan, aku beruntung bisa
pindah dan akhirnya tinggal disini!" Jawab Beby
lalu mengalihkan pandangannya pada Shania dan
Subhan, "kalo aku sama Shania sih, rencana mau
daftar di SMA 48 Jogja, iya kan Shan?" Shania
hanya tersenyum seadanya dan mengangguk ragu
atas pernyataan Beby.
"Kayaknya kita emang jodoh, Beb. Gue juga
rencana mau masuk SMA itu.. hehe..!" Beby
meringis mendengar Aji
"Oy, Chub.. kalo lu gimana? Dari tadi lu yang
belum ngomong!"
"Gue... mmm... gue belum tahu pasti sih, mau
sekolah dimana-mananya! Tapi, ada beberapa
referensi sekolah yang mulai gue incer, dan..
salah satunya Sekolah yang tadi kalian bahas!"
"Bagus dong, udah ke 48 aja.. jadi kita berempat
bisa bareng lagi!" Harap Beby, padahal dalam hati
tahu pasti, itu semua cuma halusinasi belaka.
Shania semakin menundukan wajahnya melihat
keantusian yang dibuat Beby.
'Tuhannnn, kenapa skenarionya kayak gini!? Aku
mau terus sama mereka... terutama Beby!!' Sesal
Shania akan alur dalam hidupnya 'aku harus
cepat ngasih tahu Beby soal ini!'
---
Sepulang dari alun-alun Jogja, Beby langsung
menerobos ke kamarnya. Mama belum pulang,
jadi tidak ada siapa-siapa di rumah karena ia
hanya tinggal berdua dengan Mama nya.
'Pah.. bentar lagi, Shania bakal pergi dari sini,
dan Beby... gak akan punya sahabat dekat lagi!'
Beby bicara dihadapan pasphoto Papa nya
'Apa yang harus Beby lakuin Pah? Gimana kalau
Shania lupa sama Beby? Beby cuma tinggal
punya Mama...! Beby akan kangen sama Shania,
kayak Beby sekarang kangen sama Papa...!!'
Beby menitikan air matanya, dibalik keceriaan
yang dia buat ketika dialun-alun bersama yang
lainnya, ternyata itu hanyalah sebuah topeng
penutup kesedihan, karena dia akan ditinggalkan
oleh sahabatnya.
'Pah.. Pah.. Beby punya ini loh buat Shania!
(Mengambil sesuatu dari atas meja belajarnya)
keren gak Pah? (Beby tersenyum getir) yang ini
Shania, dan ini Beby.. Beby udah bikin janji sama
Shania, kalau suatu saat nanti Beby akan bawa
dia lari ke Jepang (cerita Beby sambil mengenang
ucapan polosnya saat lulus SD dulu) semoga
Shania tidak akan melupakan Beby ya Pah, kalau
dia udah tinggal disana nanti!' Beby menyeka
setetes air mata yang jatuh pada kedua pipinya
'Dan.... Beby juga nunggu banget Pah, Shania
ngomong soal pindahannya! Kapan ya dia bakal
ngomong jujur?!'
Karena rasa lelah yang dia rasa setelah berputar-
putar di alun-alun, tanpa Beby sadari dia tertidur
dengan di atas tubuhnya tersimpan pasphoto
Papa nya dan juga hadiah untuk Shania.
Sementara itu di rumah Shania, dia sudah selesai
mandi dan sedang mengeringkan rambutnya.
Shania mengingat setiap ucapan dan
keantusiasan Beby ketika menyinggung masalah
daftar sekolah di SMA 48 Jogja.
'Aaaaaaaa... bego! Makin susah kan buat
ngomongnya!! Ash' Shania berteriak sendiri,
sampai Ve yang sedanh bersantai di ruang
keluarga kaget 'Papa sama Mama gak adil!!
Shania benci sama mereka!!!' Kembali Shania
bicara dengan berteriak
"Shania! Ada apa?" Tanpa mengetuk pintu kamar
adiknya Ve langsung menerobos masuk,
"Kak Ve? Kakak kenapa ngos-ngosan gitu?!"
Shania balik bertanya melihat kakak sulungnya
narik-ulur nafasnya
"Kamu kenapa? Bikin orang kaget aja! Kak Ve
pikir ada apa-apa!?"
Shania malah bingung dengan ucapan Ve "Ada
apa-apa... apanya?"
"Kamu kenapa barusan teriak-teriak?!" Cemas Ve,
dia memang sangat sayang pada adik satu-
satunya itu.
"Siapa yang teriak-teriak? Kak Ve salah denger
kali!" Kilahnya,
Ve berjalan mendekati Shania, semakin dekat
dan... dia bisa melihat ekspresi lain dari Shania.
"Kenapa sih Kak, nilik-nilik wajah Shania kayak
gitu?! Bikin risih aja!"
"Mata kamu kok berair sih? Abi nangis ya? Atau
baru mau!" Tebaknya, mengandalkan intuisi
"Enggak! Siapa juga yang nangis!! Lagian mata
Shania berair itu.. soalnya Shania baru selesai
mandi!!"
"(Ve tersenyum penuh maksud) kamu bisa
bohongin Papa sama Mama kalau ngomong
gitunya sama mereka, tapi enggak sama Kakak!
Kakak tahu kok, apa yang bikin kamu akhir-akhir
ini terlihat resah?"
"Gak usah mulai deh... sok Tua dan sok Tahu!
Shania gak apa-apa dan gak kenapa-kenapa!!
Jadi gak usah menganalisa dan menspekulasikan
macam-macam!!!" Tegas Shania untuk
membungkam Ve.
"Kamu bisa nasehatin Beby, untuk bisa membuka
diri dan jangan nyembunyiin apa yang kamu
rasa.. tapi sendirinya... malah gak bisa
nanganin!" Shania mengerung. Ve cukup banyak
tahu tentang persahabat Shania, adik
kandungnya. Dan Beby yang sudah dia anggap
adik kandung. "Kalau kamu terus diam, gak akan
ada yang kebuka.. dan lama-kelamaan apa yang
gak kebuka itu bakal busuk loh kalau terus
disimpan! Kamu gak tahu kan? Kalau bau dari
apa yang kamu sembunyikan itu... udah nyebar!!"
Ve membuat perumpamaan untuk masuk dalam
hatinya Shania, "Beby... akan merasa lebih
berharga dan bahagia, kalau kamu bicara soal
apa yang mengganjal di hati kamu itu dari awal!
Dia akan merasa lebih dianggap sebagai sahabat,
ketimbang kamu bicara di akhir!"
"Maksud Kakak? Apa Beby akan marah, karena
Shania gak jujur dari awal?!" Dia mulai terpancing
"Hmm.. mungkin!"
"Terus Shania mesti gimana Kak?"
"Dari awal Kaka udah bilang... kamu sebaiknya
cepat ngasih tahu teman-teman kamu soal
kepindahan kamu! Kejujuran itu emang pahit, tapi
kebohongan hanya untuk suguhan kebahagian
sementara, itu akan jauh lebih pahit dan
menyakitkan!"
Shania memikirkan ucapan Kakaknya "jangan
sampai apa yang kamu rencanakan dan kamu
pikir akan berakhir indah, malah jadi boomerang
untuk diri kamu sendiri! Beby harus secepatnya
tahu soal kamu!" Shania kembali mengingat
wajah bahagianya Beby saat berandai kalau dia
dan yang lainnya bisa satu sekolah lagi pas SMA
nanti.
"Cepet keringin tuh rambut, abis itu kita makan.
Kakak tunggu kamu di meja makan! Udah jangan
ditekuk gitu mukanya, besok bisa bilang kan
sama Beby!" Shania mencoba mengulaskan
senyumnya.
---
Keesokan hari itu.. datang dalam satu kedipan
mata, Ujian Nasional sudah selesai, selanjutnya...
bersiap Ujian akhir untuk pelajaran lainnya dan...
selesailah! Tinggal menunggu hasil dari apa yang
sudah mereka tanam.
"Selamat pagi..." Shania membuka pintu rumah
Beby, dan langsung menerobos ke tempat makan.
"Pagi... sayang! (Mamanya Beby mengerung)
tumben? Ini memang kamu yang ngeduluin Beby?
atau Beby nya yang telat bangun ya?!" Dari
sambutan hangat sampai ejekan halus, Mama
Beby berikan pada Shania
"Tante... ngeledek nih ceritanya!?" Dengan
merapatkan alis matanya Shania menanggapi
"Haha.. enggak dong sayang, tante gak ngeledek!
Cuma ngejek!!" Candanya begitu hangat.
"Sama aja Tan, ishh..!" Shania tersenyum manis
sampai matanya 'hilang'
Mamanya Beby ikut tersenyum "duduk sini,
sarapan dulu.. Beby kayaknya masih siap-siap!"
"Tahu aja Tante, kalo Shania belum sarapan dari
rumah. Hehee.." melihat-lihat masakan Tante
Ana.
Keakraban dia dan Beby memang membuatnya
begitu akrab dengan Mamanya juga, seperti yang
mereka bilang... 'keluarga kamu, keluarga aku
juga' dan kenyataannya, itu bukan sebuah jargon
belaka. Tapi itu nyata dan begitu dekat.
"Beby enak ya... dimasakin kayak gini tiap hari
sama tante! Coba aku? Tiap pagi... pasti nasi
goreng lagi, terus malemnya... kalau Kak Ve lupa
beli lauk dari luar... kembali ke menu pagi,
Naaa..si Go..reng! Hufft-_" Keluhnya, Tante Ana
tersenyum "Kak Ve harusnya belajar masak dari
Tante.. biar tiap hari menu nya bisa gonta-ganti
gitu. Gak perlu nyari warung nasi buat beli lauk-
pauk!"
"Syukurin aja! Segitu juga udah untung Kak Ve
mau masakin buat kamu!! Kalau aku yang satu
rumah sama kamu... ogah deh masakin!!!" Beby
berbicara sambil menuruni tangga, dengan tangan
kanannya menenteng tas punggungnya.
"Beby... kamu itu!" Ucap Mama sambil tersenyum
"Tahu nih anak Tante Ana.. turun-turun,
bukannya ngucapin salam, malah ngeledek!"
Beby berjalan dan mengambil posisi duduk di
sebelah Shania yang sudah lebih dulu duduk
manis menghadap piring kosong.
"Tumben.. ngambil jatah aku!" Ledek beby
(ngajak berangkat sekolah) "biasanya.. aku
teriak-teriak dirumah kamu, kamu masih asik
sama handuk, atau kalo enggak sama seragam,
dan muka kamu!" Lanjutnya, membuat Shania
angkat bicara
"Sekali-sekali gak apa-apa kali iya kan Tante?
Sekalian.. nyari menu sarapan baru buat perut.
Hehehee" Beby dan Tante Ana tersenyum
merespon jawaban Shania atas ledekan Beby.
Mereka berdua terlihat seperti saudara kandung
yang sedang menikmati sarapan dengan 'dilayani'
oleh ibu nya, keduanya menyantap sarapan
dengan lahap sambil bercanda ria... sampai tidak
terasa 30menit kurang-lebih mereka menikmati
suguhan di pagi hari dengan sambutan mentari
hangat hari ini, dan... Mama nya yang membuat
mereka kembali dari dunia candanya. Mama
pamit untuk berangkat ke rumah sakit, Beby dan
Shania mencium tangan Mama dan mereka dapat
balasan kucekan lembut di kepala bagian depan
dengan diakhiri kata 'Mama sayang Kalian,
bikinlah hari ini menyenangkan!' Kalimat yang
selalu Mama ucapkan untuk Beby, dan.. Shania
juga jika dia kebetulan sedang di rumah Beby.
Giliran mereka yang bersiap meninggalkan rumah,
Beby dibantu Shania mengeluarkan sepedanya..
"Biar aku yang didepan!" Shania menawarkan diri
"Eh? Gak salah!" Respon terkejut Beby
"Gak ada yang salah, siniin sepedanya!!" Shania
mengambil alih sepeda mini dan Beby mundur
kebelakang "tutup pagar nya! Ayo kita
berangkat!!" Lanjutnya dengan membuat perintah
pada Beby.
Beby mengerung diikuti senyum yang terlukis di
bibir, namun sedih yang bergejolak dalam hati.
Dia merasa Shania akan memberitahukan perihal
pindahannya itu hari ini, Beby memang sudah
tahu.. tapi tidak tahu kenapa? dia merasa tidak
siap untuk mendengar rentetan kalimat dari
Shania, sahabat baikknya itu.
Shania mulai mengayuh sepedanya.. dia berpikir
dan terus berpikir untuk menguatkan hatinya saat
akan memberitahu Beby. Belum sampai di
sekolah, tapi Shania sudah menghentikan
kayuhannya.
"Kok berenti disini? Sekolah kan masih setengah
jalan lagi!" Tanya Beby dengan mengitarkan
matanya. Shania tidak menggubris, dia turun dari
sepeda dan akhirnya Beby juga ikut turun.
"Shan.. kenapa kita berhenti disini? Terus kamu
mau ngapain?!" Tanya lagi Beby penasaran,
kembali Shania tidak menjawab.
Dia berjalan mendekat kearah pagar Besi
penyangga jembatan, tempat biasa mereka
melepas penat. Beby sebenarnya tidak ingin
mengikuti langkah Shania, karena dia yakin kalau
inilah waktunya.. waktu dimana Shania akan
memberitahukan berita yang sudah lebih dulu dia
ketahui.
Saling diam, dengan kedua tangan mereka
sanggakan diatas besi berwarna perak yang
dipadupadankan dengan gold. Aliran sungai
dibawah jembatan mengalir begitu tenang.. Beby
menunggu, bagaimana Shania akan membuat
kejujuran; Shania memupuk keberanian dan
kekuatan agar saat bicara pada Beby nanti dia
tidak menangis, dan.. kalau Beby marah dia
sudah siap pasang badan.
"Aku bakal kangeeeeen banget... sama tempat
ini!" Beby melihat Shania yang masih memandang
aliran sungai
"aku gak mau kayak ikan mati.. cuma ngikutin
arus yang ada! Aku mau gerak, tapi... haahh, aku
emang bagaikan ikan mati, yang cuma bisa
ngikutin arus!!" Beby masih diam dengan ucapan-
ucapan Shania "coba aja mereka bisa lihat apa
yang aku rasakan.. mungkin mereka tidak perlu
memaksakan kehendak mereka sama aku kayak
gini!" Beby bisa menangkap maksud dari ucapan
Shania, ada kesedihan yang begitu dalam di
ucapnnya, dan ini pasti soal pindahan.
"Kadang... seseorang yang mengikuti aliran
sungai itu, gak berarti dia kayak ikan mati yang
sudah tidak bisa bergerak!" Beby bicara tanpa
mengalihkan pandangannya dari sungai "tapi...
karena ikan tahu, kalau dia membuat pergerakan,
banyak hal yang tidak perlu akan
menghambatnya, dan akhirnya... dia gak akan
sampai-sampai pada tempat tujuannya!"
Shania melihat Beby sekilas...
"Aku... akuu... mmm--"
"Aku apa..?" Tanya Beby untuk mempercepat
lidah Shania bicara
"(Shania memutar badannya dan melihat searah
pada Beby) Aku mau minta maaf sama kamu!
(Beby ikut menatap sahabatnya yang kini terlihat
mendung) sebelum aku menyelesaikan
peryataanku, kamu mau ya, jangan dulu marah
atau lari!?"
"Maaksud kamu....?" Beby berpura-pura, karena
dengan cara itu juga setidaknya bisa membuat
dia meredam rasa sedihnya sebelun Shania
mengatakan yang sebenarnya.
"Janji duluu? Apa yang aku ucapkan tadi bakal
kamu penuhin!" Beby diam sejenak membuat
Shania berharap-harap cemas... lalu dia
mengangguk pelan tanpa dibarengi 'ya'
"Aku... minta maaf sama kamu, karena... aku
(Shania menahan ucapan yang sebenarnya sudah
ada di ujung lidahnya) aku... aku bakal pindah ke
jakarta secepatnya!" Beby melebarkan bola
matanya, meski sudah tahu akan berita itu, tapi
tetap saja hal itu masih membuatnya kaget,
apalagi sekarang dia dengar langsung dari
orangnya.
"Papa sama Mama.. ngambil keputusan untuk
kita semua pindah ke Jakarta, mereka mau kita
lebih dekat sama mereka!" Beby belum merespon
"aku sama Kak Ve sempat nolak, tapi seperti apa
yang aku bilang tadi! Aku gak bisa bergerak, aku
seperti ikan mati saat mendengar keinginan Papa
sama Mama!"
..........................................
"Dari kapan Papa Mama kamu bilang, kalau
kalian bakal pindahan?" Tanya Beby akhirnya
pecah juga, meski suaranya tanpa tekanan emosi
dan terkesan begitu datar, menahan letupan
kesedihan dalam hati.
"Dari.... beberapa bulan yang lalu!" Jawab Shania
lesu
"Kapan pindahannya?"
Shania merasa Beby sedang menahan marahnya
"setelah aku dinyatakan lulus oleh pihak sekolah!"
Beby tidak bicara lagi..dia mengalihkan
pandangannya dari Shania, dan kembali ke aliran
sungai; Shania jadi ikut diam tapi merasa tidak
nyaman dengan suasana ini.
"Beby... kamu gak mau marah sama aku!?"
Shania tidak bisa menahan lidahnya
"Kenapa aku harus marah? Kan aku tadi udah
janji sama apa yang kamu mau!" ... "Lagian...
aku gak punya hak untuk marah (sikap Beby
terlihat begitu dingin) seperti untuk mengetahui
soal pindahan ini dari awal.. langsung dari kamu,
aku juga gak pernah punya hak bukan!?" Shania
mengerung sedih dengan sikap Beby "aku tuh
cuma teman kecil kamu.. teman yang lebih
banyak membuat kamu susah, gak pernah bisa
bikin kamu bahagia, seperti kamu selalu ngasih
kebahagiaan untuk aku, aku bahkan gak tahu
kalau kamu sedang merasakan gusar saat Papa
Mama kamu bikin rencana untuk pindah, dan
aku,-"
"Cukup Beb! Aku gak mau lagi denger omongan
kamu kayak gitu!" Shania menarik bahu Beby
hingga dia bisa berhadapan lagi dengannya
"kamu.. gak pernah nyusahin aku, dan.. siapa
bilang kamu gak pernah ngasih kebahagiaan buat
aku? Kamu tuh selalu ada buat aku! Kamu yang
pertama tahu tentang apa yang aku rasa, meski
aku mencoba menyembunyikannya!!" Beby terlihat
sedih, Shania tak kalah sedihnya, "Kamu bukan
teman kecil aku, kamu itu.. (mata Shania semakin
berair) kamu itu sahabat aku, sahabat terbaik
yang pernah, dan selalu.. akan aku miliki!"
Shania memeluk Beby dan dia mulai tidak bisa
menahan desakan air mata yang sedari tadi
mendorong kelopak matanya
"aku mohon.. jangan bicara seperti itu! Aku tahu
aku salah Beby, aku minta maaf.. aku gak mau
kamu benci sama aku!" Beby mulai ikut menitikan
air matanya, "Aku sangat benci sama rencana
Papa sama Mama, tapi aku gak berdaya!
Statusku cuma seorang anak yang harus
menuruti apa yang dikehendaki orangtuanya!!"
"Aku.. (nangis) Aku...-"
"Shuuttt.. aku gak marah kok sama kamu!" Beby
memotong ucapan terbata Shania, dia sangat
merasa kasihan pada sahabatnya ini "aku emang
kecewa sama kamu, tapi aku tahu... kamu
ngelakuin ini bukan untuk maksud jelek, aku udah
tahu kok rencana ini!" Shania terkejut mendengar
ucapan Beby, dia melepaskan pelukannya dari
Beby dan menatapnya lekat.
"Sesuatu yang kamu tutupi, pada akhirnya akan
tercium sama orang-orang disekitar kamu! Mama
yang ngasih tahu aku, dan Mama kamu yang
ngasih tahu Mama aku!!" Air mata Shania terus
keluar dari muaranya "maaf karena aku gak bisa
tahu soal kegelisahan kamu ini.." Shania
menggeleng, lalu kembali memeluk Beby, yang kini
dapat balasan dari Beby "Tapi kamu tetap selalu
jadi yang pertama tahu tentang aku!" Ucap
Shania menyinggung soal pindahannya yang
belakangan dia beritahukan pada Beby, namun
ternyata Beby sudah tahu semuanya lebih awal,
"dan aku.. belum tentu bisa seperti itu buat
kamu!"
Keduanya menangis dalam pelukan eratnya
masing-masing, seolah esoklah hari pindahan itu
dan mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
"Kamu mau janji gak?" Ucap Beby melepaskan
pelukannya
"Apa?" Jawab Shania sesenggukan
"Kamu gak akan pernah ngelupain aku, sebagai
sahabat kamu! Dan kita.. akan tetap bersahabat
meski jarak memisahkan!"
Shania tersenyum "gak mungkin aku ngelupain
kamu, Cinta pertama mungkin bisa hilang, tapi
sahabat pertama tak akan pernah hilang! Aku
akan tetap dan selalu jadi sahabat kamu!!" Giliran
Beby yang tersenyum..
"Konyol ya?" Shania heran dengan ucapan Beby
"lihatlah kita sekarang, nangis di pagi hari cerah
gini! Ha..haha..haa"
"Kekonyolan akan selalu jadi penghibur kita Beb,
aku akan sangat merindukan itu nanti!" Sambil
menyeka bekas tangisnya Shania bicara
"Iya.. tapi, kita kan harus ke sekolah! Masa iya
kita kesekolah kayak gini.. lusuh, mata merah,
ingus terus nyeret keluar!" canda Beby
"Hahaaa.. siapa bilang kita akan kesekolah!"
"Eh? Kita kan emang mau kesekolah? Shan!"
"Gak hari ini! Aku mau.. ngelakuin kekonyolan
sama kamu, ikut aku!" Tanpa memperdulikan
wajah cengo Beby, Shania segera menarik
pergelangan tangan Beby dan berlari
"Kita mau kemana, Shanju?"
"Ke bawah, ke sungai itu.. kita bikin pelangi
disana!" Jawabnya.
Mereka berdua berlari menuju anak sungai yang
jembatannya selalu mereka jadikan tempat
bercerita.
----
Perpisahan memang fase menyebalkan dalam
kehidupan, tapi.. tidak selamanya perpisahan itu
bermakna pisah selamanya. Mungkin perpisahan
itu cuma jalan lain dari Tuhan untuk umatnya,
agar mereka bisa lebih menghargai setiap waktu
yang sudah Dia berikan, dan akhirnya sadar kalau
kebersamaan itu sangatlah indah meski kadang
ada ketidak cocokan.
Atau mungkin... inilah cara Tuhan untuk melihat
sedalam apa kita menghargai kebersamaan,
ketika perpisahan itu datang. dan sampai
akhirnya, Ia kembali membuat jalan untuk kita
saling bertemu lagi.
Bukankah Tuhan selalu bekerja diluar pemikiran
kita? Dia tahu apa yang terbaik untuk kita :'-) .
"Huh? Besok?! Papa gak seriusan kan sama
ucapan Papa?"
Tanya Shania begitu terkejut,
Papa menggeleng "Waktu terus berjalan sayang,
banyak pekerjaan yang harus Papa tangani.. Papa
mau kita cepat beres, dan menempati rumah kita
yang disana!"
"Ini gak ada di pembicaraan awal Pah! Kita akan
pindah setelah Shania lulus!! Kenapa malah jadi
di percepat!? Ini gak adil!" Protesnya "Kak Ve juga
belum dapet hasil Test nya di semester ini! Iya
kan Kak?"
Ve mangangguk, "selain itu.. kita belum pamitan
Pah sama temen-temen kita!" Tambah Ve ikut
protes
Papa tidak bisa lagi 'seramah' dulu pada kedua
putrinya, dia tidak memperdulikan protesan
Shania dan Ve.
"Tidak ada protes! Papa sudah cukup ngasih
kalian space and time!!" Ve dan Shania bungkam
dalam kekesalannya "masalah kelulusan kamu
(melihat Shania) dan hasil test kamu Kakak
(melihat Ve) itu bisa dipantau dari sana! Tidak
ada lagi alasan untuk kalian menolak rencana
Papa sama Mama!!"
"Ini bukan alasan Pah, kita menolak karena Papa
menyalahi apa yang Papa ucapkan dulu!!" Kembali
Shania protes
"Cukup Shania! Papa bilang kita pindah besok, iru
artinya besok!!" Ujar Papa menggunakan nada
tinggi; Ve melihat Shania dan menggenggam
tangannya; Mama menghentikan kunyahan makan
malamnya, dan mencoba menengkan Papa.
"Papa melakukan ini semua untuk kebaikan kita,
kebaikan kalian.. untuk masa depan kalian
nantinya!" Papa mulai menurunkan kembali
volume suaranya "kalian berdua... Packinglah apa
yang penting saja, sisanya biar ditangani sama
Jasa pindahan yang sudah Papa charter!" ...
"semua akan berubah mulai besok, kehidupan
kita, akan jauh lebih baik dari sekarang!"
"Bukan kebaikan kita, tapi Papa sama Mama!
Papa sama Mama harusnya tahu, kehidupan
Shania disini udah baik bahkan sangat baik,
meski tanpa kalian bisa nemenin tiap hari!!
Shania benci sama Papa Mama, kalian egois,
kalian berubah!!" Kesal Shania, dia menggeser
kursinya dan keluar dari lingkaran meja makan,
lalu berlari ke kamarnya tanpa memperdulikan
ucapan Papa.
Tak lama, Ve bangun dari kursinya dan mengejar
Shania ke kamarnya.
Shania masuk kedalam kamarnya dengan rasa
marah begitu menguasai hati dan pikirannya. Ve
masuk menyusul untuk menenangkannya...
"Apa yang kamu khawatirkan, sayang?"
Shania diam, mereka berdua duduk ditepi ranjang.
"Pindahan ini.. mau nanti ataupun besok, tetap
Pindah kan? Dari awal, Kakak sama kamu, kita
udah tahu akan hal ini!"
"Bukan itu masalahnya Kak! Shania tuh
ngerasa... haaah... udahlah! Kita harus packing
kan? Besok kita bakal pergi dari sini!!" Laranya
tanpa menyelesaikan keresahan yang dia rasa.
Saat Shania akan berdiri, pergelangannya dikunci
oleh telapak tangan Ve. Shania menoleh pada
Kakaknya.. Ve berdiri dan kembali bicara pada
Shania.
"Kamu ngerasa.. kalau Papa sama Mama gak
akan jauh beda dari disini! Itukan yang kamu
resahkan?" Ia mencoba menyelami pikiran Shania
"kamu takut, kalau Papa sama Mama setelah kita
pindahan nanti.. akan tetap dengan kegilaan
mereka sama kerjaan!?"
"Mungkin ketakutan Shania terlalu berlebihan Kak,
tapi... feeling Shania terlalu kuat, beteriak lantang
kalau Papa sama Mama... gak akan merubah
kebiasaan mereka! Dan gak akan pernah
menciptakan suasana lama kita disini!!" ...
"Shania takut Kak, kalau kepindahan kita bukan
bawa hal yang baik tapi malah keburu,-"
"husst.. kamu gak boleh bicara seperti itu, gak
baik!! Feeling kamu terlalu didasari oleh rasa
takut yang berlebihan, kebahagiaan yang kamu
miliki disini bersama teman-teman kamu, sahabat
kamu, itu yang bikin pola pikir kamu jadi dipenuhi
kegelapan!!!" .. "Niat Papa sama Mama membawa
kita pindah itu baik, mereka ingin kita tumbuh
dalam pengawasan mereka secara langsung dan
rutin.. Tuhan selalu menyukai niat baik, selama
kita masih berpegangan pada-Nya... dia pasti
selalu tahu apa yang terbaik buat kita!!"
"Bebaskan pikiran kamu, dek! Kita memang akan
meninggalkan kota ini.. tapi itu bukan berarti kita
meninggalkan sepenuhnya yang ada disini! Jogja
masih akan menjadi kota tempat kita pulang..
kita bisa main kesini pas weekend, kamu temuin
Beby dan teman-teman kamu lainnya... dan
Kakak akan temuin teman-teman Kakak!!" Shania
melejit memeluk Ve dengan isak tangis nya, Ve
membalas dengan membelai lembut rambut
Shania.
Dia terlalu sayang pada Shania, hingga dia
mengenyampingkan perasaan kalutnya sendiri
untuk membuat Shania tenang. Ve bukan tidak
merasakan apa yang Shania rasa, dia mengakui
kalau Papa sama Mama memang begitu sangat
terlihat sibuk! Dan apa yang mereka ucapkan dulu
saat memberikan kabar soal kepindahan ini..
bukan tidak mungkin akan berubah. Perjanjian
Hitam diatas Putih, yang Mama dan Papa buat
waktu mengajukan proposal pindahan pada
mereka, bisa saja berubah tanpa ada
pemberitahuan seperti sekarang.. pindahan yang
tiba-tiba di percepat.
"Kak Ve mau janji sama Shania?"
"Apa?" Masih dalan posisi berpelukan
"Kalau keadaan tidak sebaik yang digambarkan
Papa sama Mama, Kakak akan selalu ada
disamping Shania! Kakak gak akan ninggal-
ninggalin Shania kayak Papa sama Mama!! Kakak
mau kan janji?" Lirihnya dalam isakan
Ve tersenyum tipis "Tanpa kamu menuntut
janjipun, Kakak akan selalu ada disamping kamu!
Kakak sayang sama kamu, dan Kakak gak akan
ninggalin kamu!! Keadaan akan baik-baik aja
Shan.. :'-) seperti ucapan Papa, seperti janji
Mama, kita akan baik-baik dan bahkan lebih baik
dari disini!!!" Shania mengeratkan kedua
tangannya yang melingkar di pinggang Ve.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar